Breaking News:

Terkini Daerah

3 Kisah Pilu Korban Kecelakaan Bus Rombongan SMK Lingga Kencana, Ada Siswa Tulang Punggung Keluarga

Berikut ini tiga kisah pilu korban tewas dalam kecelakaan maut rombongan SMK Lingga Kencana asal Depok di Ciater, Subang, Jawa Barat.

Editor: Lailatun Niqmah
deanza falevi/tribun jabar
Bus parawisata yang mengangkut para siswa dan tenaga pendidik SMK Lingga Kencana Depok yang terguling di Gerbang 2 Pemandian Air Panas Sari Arter, Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024) malam. Sebanyak 11 orang meninggal dunia. 

TRIBUNWOW.COM - Viral di media sosial kecelakaan maut yang menimpa bus rombongan SMK Lingga Kencana asal Depok di Ciater, Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024) malam.

Dalam insiden kecelakaan maut ini, 9 siswa, 1 guru, dan 1 pengendara motor menjadi korban tewas.

Berikut ini tiga kisah pilu korban tewas dalam kecelakaan maut rombongan SMK Lingga Kencana yang menjadi sorotan:

Baca juga: 4 Fakta Kecelakaan Maut Bus Rombongan SMK di Ciater Subang, Kronologi hingga Cerita Saksi Mata

Siswa SMK Jadi Tulang Punggung Keluarga

Duka mendalam dirasakan keluarga korban tewas kecelakaan bus SMK Lingga Kencana, Mahesya Putra.

Ibunda Mahesya Putra, Rosiana, menyebut semasa hidup korban adalah tulang punggung keluarga sepeninggal sang ayah.

Seusai lulus SMK, korban berencana langsung mencari pekerjaan tetap demi membantu perekonomian keluarga.

Namun nahas, maut lebih dulu menjeputnya.

"Dia anaknya baik. Pokoknya tulang punggung keluarga. Kalau mau misalkan dia bilang udah lulus mau kerja membahagiakan orang tuanya," kata Rosdiana saat ditemui di rumah duka di jalan Rangkapanjayabaru, Depok, Jawa Barat pada Minggu (12/5/2024).

Mahesya merupakan anak pertama dari lima bersaudara.

Bersama keluarganya, Mahesya hidup di sebuah rumah kecil yang terletak di dalam gang sempit.

"Iya dia udah rencana si untuk kerja, pergi kuliah juga," ungkapnya.

"Dia itu orangnya semangat untuk mengejar cita-cita ya pokoknya orangnya nggak neko-neko dah, nggak pernah minta apa-apa yang ibunya gak bisa berikan. Pokoknya nggak neko-neko dia. Iya apa adanya," pungkasnya.

Bahkan, Mahesya rela menjadi kuli pengangkut pasir demi mendapat uang untuk membayar acara perpisahan sekolah sebesar Rp 800 ribu.

Bersama seorang temannya, Mahesya menghabiskan waktunya untuk menjadi kuli pengangkut pasir.

"Dia tuh juga cari uang jajan apa saja sama buat nambahin berangka ke acara wisuda di Bandung," ujar kerabat korban, Mariah.

Baca juga: Nasib Sopir Bus Viral Ajak Penumpang Makan di Rumah saat Lebaran, Dapat Ganjaran Ini dari Perusahaan

Guru Panutan

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
Tags:
KecelakaanKecelakaan MautSubangSiswa SMK
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved