Terkini Nasional
Cerita di Balik Momen Paus Fransiskus Berdoa kepada Patung Maria Bunda Segala Suku
Saat Misa Suci Agung bersama Paus Fransiskus, terdapat sebuah momen khusus yang mungkin lepas dari perhatian ribuan umat yang hadir di GBK.
Editor: Lailatun Niqmah
Delegasi PWKI dipimpin oleh Mayong Suryolaksono sebagai Ketua Delegasi dan didampingi AM Putut Prabantoro, Penasihat sekaligus Pendiri PWKI.
Rm Markus Solo Kewuta SVD yang hadir sebagai penerjemah dan Liaison Officer kala itu, menjelaskan bahwa Paus Fransiskus sangat berbahagia dengan hadiah yang dipersembahkan. Selain karena merupakan hadiah istimewa, hadiah-hadiah tersebut sangat khusus sifatnya karena terkait dengan tokoh pemberi hadiah.
Masing-masing hadiah yang diberikan kepada Paus Fransiskus dijelaskan secara fisik dan filosofis oleh Rm Markus Solo SVD, satu-satunya pejabat Vatikan yang berasal dari Indonesia. Pimpinan tertinggi Gereja Katolik Sedunia itu juga mendapat penjelasan dari mana hadiah tersebut berasal dan pemberinya.
“Paus sangat mengagumi lukisan dan patung Maria Bunda Segala Suku yang berasal dari Kardinal Suharyo. Beliau menyatakan kekaguman filosofi dari Maria Bunda Segala Suku dengan mengatakan, oh… che belo artinya sungguh indahnya,“ ujar Padre Marco, panggilan akrab Rm Markus Solo.
Kekaguman Paus terhadap lukisan Maria Bunda Segala Suku muncul ketika Padre Marco menjelaskan bahwa Maria Bunda Segala Suku adalah Madona ala Indonesia atau Bunda Maria yang merangkul kemajemukan di negara dan bangsa Indonesia.
Paus Fransiskus juga memberkati satu lukisan yang sama untuk dikirim kmebali ke Indonesia.
Baca juga: Kilas Peristiwa: Kedatangan Paus Fransiskus di Indonesia setelah Penantian 35 Tahun

Tak Ada yang Kebetulan
Pemberian patung Maria Bunda Segala Suku, yang merupakan simbol rasa cinta tanah air sudah direncanakan pada 20 Oktober 2018.
Gagasan ini menyusul diresmikannya Museum Maria Bunda Segala Suku oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo di Gedung Marian Center Indonesia (MCI).
Nama Maria Bunda Segala Suku digagas oleh AM Putut Prabantoro yang mengatakan bahwa nama MBSS sebenarnya ingin mengajak rakyat Indonesia mencintai bangsa dan Tanah Air yang dikatakan sebagai Per Mariam Ad Patriam – Melalui Bunda Maria Sampai Pada Tanah Air. Maria Bunda Segala Suku, tandas Putut Prabantoro, merupakan sarana devosi kebangsaan.
Maria Bunda Segala Suku muncul pertama kali sebagai thema lomba seni rupa, patung dan fotografi yang diprakarsai Gregorius Gomas Harun pada Mei 2017 yang diawali pada tahun 2015.
Lomba seni rupa, patung dan fotografi itu dimenangi Robert Gunawan, seorang guru lukis anak-anak yang berasal dari Matraman, Jakarta.
Berdasarkan penjelasan Robert Gunawan, sebagaimana dikutip oleh Gomas Harun, dalam lukisan Maria – Bunda Segala Suku ini ada beberapa ciri khusus yakni bendera merah putih, motif lambang Garuda Pancasila, warna emas, mahkota, kerudung, baju kebaya putih, rok panjang warna merah dan suku-suku.
Dari cerita Gomas Harun, nama Maria - Bunda Segala Suku sebenarnya merupakan thema sebuah acara kebangsaan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda di Sendang Sono, Yogyakarta, Acara tersebut direncanakan pada Oktober 2010. Acara ini diketai oleh AM Putut Prabantoro – sebagai Ketua Pelaksana Gerakan Semangat Satu Bangsa – Ekayastra Unmada.
Namun acara Sumpah Pemuda di Sendang Sono, Yogyakarta itu, Gomas meneruskan ceritanya, akhirnya batal karena beberapa alasan.
Sumber: TribunWow.com
Kabar Duka: Mantan Menko Bidang Ekonomi, Keuangan & Industri Kwik Kian Gie Meninggal Dunia |
![]() |
---|
Kubu Roy Suryo Minta Ijazah Jokowi Disita, Presiden RI ke-7 Kembali Buka Suara: Dalam Proses |
![]() |
---|
Usut Misteri Kematian Diplomat Kemlu, Polisi Libatkan Psikologi Forensik untuk Lakukan Penyelidikan |
![]() |
---|
Respons Dahlan Iskan Jadi Tersangka Kasus Penggelapan dan Pencucian Uang |
![]() |
---|
Ikhtiar Menyambung Kebahagiaan & Menginspirasi Tanpa Batas Melalui Goresan Jari Jemari |
![]() |
---|