Konflik Rusia Vs Ukraina

Di Medsos Tersebar Bukti Kejahatan Perang Rusia? Ini Langkah yang Diambil Politisi AS

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi Sosial Media

"Dan mereka semua sekarang ada di sana. Akan ada beberapa ribu yang ditahan, tapi tidak banyak."

"Jadi mereka lebih dari 90% berkomitmen untuk operasi ini."

Rusia diperkirakan akan mengirim lebih banyak pasukan dari timur jauh yang sepertinya akan tiba dalam empat atau lima hari.

"Masalah yang dihadapi Rusia adalah mencoba menduduki negara yang tidak menginginkannya di sana," kata Clarke.

Selain itu, Rusia akan kekurangan pasukan yang harus berjaga di wilayah yang akan diduduki.

Seperti yang terlihat ketika saat ini Rusia berhasil merebut kota Kherson, namun tak bisa memegang kontrol.

"Mereka memiliki tiga sumbu serangan utama: melalui Kiev, di selatan di Mariupol, untuk terhubung dengan utara, dan di barat menuju Odesa," ujar Clarke.

"Semua lini serangan itu sekarang kehabisan tenaga, karena mereka harus meninggalkan begitu banyak pasukan, dan mereka tidak benar-benar memegang kendali."

"Satu-satunya kota yang mereka miliki adalah Kherson di selatan, dan mereka juga tidak benar-benar mengendalikannya."

Baca juga: Pakar Militer Soroti Vladimir Putin yang Tak Sebut Ukraina saat Pidato Hari Kemenangan Rusia

Baca juga: Invasi Rusia ke Ukraina Hari ke-76, Serangan Putin Berlanjut setelah Parade Hari Kemenangan

Citra Satelit Ungkap Kuburan Massal di Mariupol

Sementara itu, citra satelit menunjukkan gambaran sejumlah situs yang tampaknya merupakan pemakaman massal di Mariupol, Ukraina.

Pejabat setempat menuding Rusia telah menyembunyikan bukti kejahatan perang dengan mengubur mayat warga sipil yang terbunuh.

Hal ini dilakukan setelah viralnya kondisi di Bucha dan sekitarnya yang membuat Rusia makin dikecam.

Dilansir TribunWow.com dari The Guardian, Kamis (21/4/2022), wali kota Mariupol, Vadym Boichenko, mengatakan truk Rusia telah mengumpulkan mayat dari jalan-jalan kota pelabuhan dan telah mengangkut mereka ke desa terdekat, Manhush.

Ia mengatakan pasukan Rusia diam-diam melemparkan jasad penduduk ke kuburan massal di sebuah lapangan.

"Para penyerang menyembunyikan bukti kejahatan mereka. Pemakaman ini terletak di dekat sebuah pompa bensin di sisi kiri jalan yang melingkar," ujar Boichenko.

"Rusia telah menggali parit besar, selebar 30 meter. Mereka membuang orang-orang ke situ."

Kemudian pada hari Kamis, perusahaan AS Maxar Technologies merilis gambar yang tampak seperti kuburan massal di daerah yang sama.

Maxar menerangkan situs itu telah diperluas dalam beberapa pekan terakhir untuk menampung lebih dari 200 kuburan baru.

Wali kota memperkirakan bahwa lebih dari 20.000 penduduk Mariupol telah tewas sejak pasukan Rusia mulai menyerang kota tersebut pada hari-hari awal invasi.

Sebagian besar mayat sekarang telah dipindahkan, dengan beberapa dibakar di krematorium bergerak.

Boichenko membantah klaim Putin bahwa kota itu telah diduduki oleh Rusia.

Dia mengatakan tentara Ukraina tetap bersembunyi di pabrik baja Azovstal di tepi kiri Mariupol, dengan antara 300 hingga 1.000 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.

"Kami tidak tahu persis jumlah warga sipil karena kami belum bisa mengeluarkan mereka. Kami membutuhkan satu hari gencatan senjata agar ini terjadi,"tutur Boichenko.

Warga sipil di Mariupol dikabarkan hidup dalam kondisi putus asa di jaringan terowongan bawah tanah, dan dikelilingi oleh pasukan Rusia.

Boichenko mengatakan bahwa sekitar 100 ribu orang tetap berada di daerah yang diduduki Rusia di Mariupol.

100 ribu lainnya berhasil melarikan diri, sebagian besar dengan mobil pribadi, sementara 40 ribu telah dideportasi secara paksa ke Rusia.

Ia menyebut penduduk yang lainnya ditahan di kamp filtrasi Rusia di luar kota.

"Orang-orang disiksa di kamp-kamp ini. Bukan hanya laki-laki tapi juga perempuan yang dipilih. Ini adalah ghetto yang mengerikan. Mereka mencari orang-orang yang berhubungan dengan kotamadya. Rusia menggunakan metode fasis yang sama yang digunakan oleh Nazi. Ini adalah Rusia yang fasis," ungkap Boichenko.

Wali kota mengatakan 80 orang berhasil keluar pada hari Rabu dengan empat bus dan berhasil menyeberang ke wilayah yang dikuasai pemerintah Ukraina.

Namun, tidak ada evakuasi yang terjadi pada hari Kamis, karena Rusia menembaki titik pertemuan di mana penduduk berkumpul. (TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina