Konflik Rusia Vs Ukraina
Sebut Rusia Kekurangan Pilot Militer, Inggris Ungkap Pengakuan Tentara Bayaran di Ukraina
Kemenhan Inggris menjelaskan saat ini Rusia tengah kekurangan pilot militer untuk menerbangkan pesawat jet tempur mereka di Ukraina.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Angkatan udara pasukan militer Rusia diyakini tengah kesulitan untuk membantu peperangan yang terjadi di Ukraina.
Hal ini dikarenakan angkatan udara Rusia tengah kekurangan pilot profesional yang terlatih.
Dikutip TribunWow.com dari aljazeera.com, informasi ini disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Inggris.
Baca juga: Sebar Iklan, Rusia Rekrut Guru hingga Politisi untuk Bangun Kembali Wilayah Ukraina yang Diduduki
Kemenhan Inggris menjelaskan soal pengakuan seorang pilot pesawat Rusia yang berhasil ditangkap hidup-hidup di Ukraina.
Meskipun menerbangkan pesawat milik militer Rusia, sang pilot ternyata tentara bayaran dari grup Wagner.
Pilot bayaran tersebut ditembak jatuh ketika menerbangkan jet SU-25 pada 17 Juni 2022.
"Sang pilot mengaku merupakan pensiunan mayor angkatan udara pasukan militer Rusia," ungkap Kemenhan Inggris.
Setelah pensiun dari pasukan militer Rusia, purnawirawan tersebut bekerja di bawah grup kontraktor militer Wagner.
Selama konflik berlangsung, pilot eks tentara Rusia tersebut beberapa kali melakukan misi penerbangan.
Baca juga: Pejabat Boneka Rusia di Ukraina Tewas karena Bom di Mobil, Videonya Beredar di Medsos
Inggris meyakini, Rusia menggunakan tentara bayaran karena telah kehilangan banyak pilot dan tidak memiliki personil yang terlatih.
Di sisi lain, seorang pria tentara Inggris yang dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan proksi Rusia, menghubungi keluarganya.
Pria bernama Aiden Aslin itu mengaku telah diberitahu bahwa eksekusi akan segera dilakukan sebagai hukuman karena keterlibatannya dalam pertempuran di Ukraina.
Dilansir TribunWow.com dari BBC, Kamis (23/6/2022), pihak keluarga pun terpukul dengan pengakuan tersebut meskipun tak mampu berbuat banyak.

Seperti diketahui, Aslin dan rekannya, Shaun Pinner dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Republik Rakyat Donetsk (DPR), pemerintah separatis yang didukung Rusia.
Mereka dianggap sebagai teroris dan tentara bayaran karena ikut berpartisipasi dengan Ukraina untuk memerangi Rusia di Mariupol.
Baca juga: Sempat Dipuji, Drone Buatan Turki Kini Dianggap Sudah Tak Mampu Lawan Pasukan Rusia di Ukraina