Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Sempat Dipuji, Drone Buatan Turki Kini Dianggap Sudah Tak Mampu Lawan Pasukan Rusia di Ukraina

Drone Turki Bayraktar sempat berjaya di Ukraina dan beberapa kali berhasil meredam serangan pasukan militer Rusia, namun kini dianggap tak berguna.

TWITTER @BaykarTech
Perusahaan Baykar dan Badan Industri Pertahanan Turki akan memberikan drone tempur canggih Bayraktar TB2 secara gratis kepada Lituania untuk dikirim ke Ukraina. Pengumuman itu disampaikan Baykar dalam unggahan di Twitter pada Kamis (2/6/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Belum lama ini drone tempur Bayraktar TB2 buatan Turki beberapa kali dapat meredam serangan pasukan militer Rusia di Ukraina.

Beredar pula beberapa video memperlihatkan aksi drone Bayraktar saat menyerang para tentara Rusia.

Dikutip TribunWow.com dari rt.com, kini era kejayaan Bayraktar telah usai.

Baca juga: Jika Putin Tewas, Rusia Diprediksi akan Tetap Jadi Ancaman dan Terus Bermusuhan dengan Ukraina

Seorang pilot pasukan militer Ukraina yang menggunakan nama panggilan Moonfish berbicara ke media tentang peran drone di perang Ukraina-Rusia.

Moonfish mengakui drone Bayraktar memang sangat berguna dan berpengaruh di awal-awal konflik terjadi.

Namun kini drone tersebut dapat dikatakan hampir tidak berguna karena pasukan Rusia telah meningkatkan pertahanan udara mereka.

Moonfish menjelaskan, saat ini pasukan militer Ukraina telah membatasi penggunan Bayraktar.

Bayraktar kini hanya digunakan dalam misi-misi tertentu saja.

Sementara itu, pihak Rusia mengklaim Bayraktar tidak lagi digunakan karena telah banyak yang hancur ditembak.

Baca juga: Sebut Tak Masuk Akal untuk Terus Bertahan, Gubernur Luhansk Pastikan Pasukan Militer Ukraina Mundur

Moonfish mengatakan, cara paling efektif untuk melawan pasukan militer Rusia dari udara adalah menggunakan pesawat jet tempur seperti F-15 dan F-16.

Sebelumnya, rekaman video menunjukkan Bayraktar berhasil menyerang barisan pasukan Rusia.

Tembakan drone tersebut meledakkan kendaraan personel lapis baja Rusia dan membuat pasukan Presiden Vladimir Putin tunggang langgang.

Bahkan, tank-tank dan senjata thermobaric Rusia terpaksa balik arah menghadapi serangan udara tersebut.

Baca juga: Bergelimang Darah, Pengawal Putin yang Ditugasi Membawa Kode Nuklir Rusia Ditemukan Hampir Tewas

Dilansir TribunWow.com dari Aljazeera, Jumat (11/3/2022), Mauro Gilli, peneliti senior dalam teknologi militer dan keamanan internasional di ETH Zurich memberikan keterangan.

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved