Breaking News:

Virus Corona

Bisa Terjadi pada Anak dan Pasien Gejala Ringan, Peneliti Ungkap Dugaan Faktor Pemicu Long Covid

Sebuah penelitian di Inggris mengungkap dugaan awal yang menjadi pemicu terjadinya kasus long Covid.

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Ilustrasi pasien Covid-19, Sebuah penelitian di Inggris mengungkap dugaan awal yang menjadi pemicu terjadinya kasus long Covid, Rabu (14/7/2021). 

TRIBUNWOW.COM - Sebuah penelitian di Inggris mengungkap dugaan awal yang menjadi pemicu terjadinya kasus long Covid.

Para peneliti dari Imperial College di London, Inggris menemukan pola antibodi jahat dalam darah sejumlah kecil penyintas Covid-19 dengan long Covid.

Mereka berharap itu bisa menjadi titik awal untuk memungkinkan tes darah sederhana dalam waktu enam hingga 18 bulan.

Dalam studi awal, para peneliti membandingkan darah puluhan orang dan menemukan apa yang disebut autoantibodi yang tidak ada pada orang yang pulih dengan cepat, atau mereka yang belum terinfeksi Covid-19.

Sistem kekebalan tubuh manusia biasanya membuat antibodi untuk melawan penyakit.

Tapi terkadang tubuh menciptakan autoantibodi yang menyerang sel-sel sehat.

Baca juga: 6 Resep Ramuan Herbal Berkhasiat Tingkatkan Daya Tahan Tubuh, Cocok Dikonsumsi saat Pandemi Covid-19

Baca juga: 7 Makanan Kaya Vitamin C, Baik untuk Jaga Daya Tahan Tubuh di Tengah Pandemi Covid-19

Prof Danny Altmann, yang memimpin tim peneliti di Imperial, mengatakan autoantibodi ini mungkin menjadi salah satu penyebab gejala Covid-19 yang berkepanjangan.

Selain itu mungkin juga dalam beberapa kasus orang masih memiliki virus yang bertahan di dalam tubuh mereka, sementara yang lain mungkin memiliki masalah lain dengan sistem kekebalan mereka.

Penelitian ini masih pada tahap awal, artinya penelitian dilakukan pada ukuran sampel yang kecil yang dapat ditingkatkan lagi nantinya.

Long Covid dapat menyerang orang-orang dari segala usia, termasuk anak-anak, orang-orang yang tidak memiliki penyakit penyerta (komorbid), pasien Covid-19 dengan gejala ringan bahkan orang yang sebelumnya sehat.

"Mungkin ada sejumlah hal berbeda terjadi setelah infeksi Covid-19, dan respons autoimun telah menjadi salah satu mekanisme yang dicurigai," kata Dr Elaine Maxwell, dari National Institute of Health Research, seperti dikutip dari BBC pada Senin (12/7/2021)

Temuan itu masih merupakan dugaan awal dan penting untuk terus meneliti faktor-faktor penyebab lainnya sehingga semua jenis sindrom pasca-Covid dapat didiagnosis dan diobati.

Dr Elaine Maxwell juga memperingatkan bahwa kasus long Covid merupakan masih menjadi kondisi yang kompleks.

Hingga saat ini belum ada tes untuk mendiagnosis long Covid.

Long Covid belum sepenuhnya dipahami dan dapat mencakup berbagai gejala yang berlangsung lama meski pasien Covid-19 telah dinyatakan sembuh dari Covid.

Baca juga: Tips Menjaga Sistem Imun Anak-anak saat Masa Pandemi Covid-19 dari Dokter Spesialis Anak

Gejala tersebut termasuk kelelahan, sesak napas, sakit kepala, dan nyeri otot.

Sebelumnya, Dokter Spesialis Paru, Praseno menjelaskan orang yang lebih beresiko tinggi adalah orang dengan penyakit penyerta.

"Orang punya resiko tinggi seperti obesitas, kegemukan, orang dengan diabetesmelitus, penyakit penyerta ya," kata Praseno dalam Youtube lifesyleOne yang diunggah pada Minggu (11/7/2021).

"Kemudian dengan kelainan jantung, atau dengan kelainan paru seperti asma, atau penyakit paru obstruktif kronik (ppok) atau mungkin pasien-pasien yang pernah mengalami penyakit paru sebelumnya seperti TBC."

Dikatakan long Covid setelah gejala itu tetap dirasakan selama empat minggu usai dinyatakan negatif Covid-19.

Halaman
12
Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved