Bank BRI Memberikan Makna untuk Indonesia, 2 Pejuang UMKM Kuliner di Sragen dan NTT Jadi Saksi Nyata
Bank BRI bantu dua pejuang UMKM di bidang kuliner asal Sragen dan NTT jadi saksi nyatanya.
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
"Awalnya tidak terpikir untuk usaha ini, hanya, saya melihat situasi di kampung warung bakso belum ada. Saya rasa, saya yang pertama di kampung sini, saya bilang mungkin saya yang pertama, dulu ada tapi jauh, kalau disini mungkin saya yang ramai," jelas Sahrul kepada TribunWow.com Kamis (7/12/2023).
Selain itu, tantangan terbesar yang ia rasakan ketika memutuskan untuk berjualan bakso dan mie ayam berkaitan dengan daya beli masyarakat kampung yang tidak selalu stabil.
"Di kampung tentu beda dengan kota ya, di kampung yang minat mungkin orang yang senang-senang pada datang, kalau ada uang baru datang, ramainya orang pas pengin aja mereka makan," ungkapnya.
Lantas, Sahrul pun menceritakan bagaimana awal kisahnya mampu mengembangkan bisnis kuliner yang saat ini ia geluti.
Meski sejak 2018 lalu membuka usaha kuliner bakso dan mie ayam, Sahrul baru memutuskan untuk ambil pinjaman modal usaha pada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI di tahun 2020.
Pria yang kesehariannya juga turut mengajar TPQ itu meminjam modal dari BRI dengan angsuran selama 3 tahun.

"Kalau peminjaman modal sendiri saya baru kali ini, saya rasa sangat membantu, waktu itu saya butuh modal untuk usaha ini, saya merasa bersyukur sedikit banyak terbantukan peminjaman modal ini, saya pinjam 3 tahun sudah berjalan 3 tahun ini mau selesai."
"Buka mie ayam bakso mulai bukanya 2018 kalau gak salah, awal 2018, mulai buka 2018 berarti saya pinjam mulai sekitar 2020, masa pengembaliannya 3 tahun," ujar Sahrul.
Tak lama setelah meminjam modal usaha, Sahrul dihadapkan dengan adanya bencana pandemi covid-19.
Saat itu, Sahrul mengaku usahanya terimbas karena adanya pandemi covid-19.
Namun, bermula dari ketidaksengajaan, Sahrul mendapatkan informasi dari tetangga dan rekan-rekannya tentang adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diturunkan pemerintah melalui BRI.
"Aku dapat informasi dari orang lain ada dari BRI tawarkan dana untuk pelaku usaha mau melakukan usaha itu ada bantuan, ngajuin pakai nama dan NIK kita ajukan ke BRI terdekat kita cek, kalau namanya keluar, bisa kita ambil," bebernya.
Lebih lanjut, berkat adanya bantuan permodalan dari BRI, warung Sahrul saat ini semakin bersolek dengan beberapa perlengkapan dan properti tambahan.
"Sebelum adanya bantuan modal jelas bahwa baru awal rintis dengan modal pas-pasan, akhirnya fasilitas tempat ruang makan dengan uang seadanya saja, ruangan ini dulu kamar depan saja, di rehab sedikit untuk bisa digunakan untuk orang datang makan."
"Ketika dapat bantuan dan pinjaman dari BRI saya bisa perbaharui untuk meja dan kursinya bisa beli, ruangannya bisa di plester ulang di cat dibikin bagus, ada peningkatan dengan modal bantuan itu, saya juga bisa buat gerobak yang baru, awalnya gerobak kayu, alhamdulilah setelah dapat bantuan bisa buat gerobak baru dari baja ringan," terang Sahrul.

BRI Memberdayakan UMKM Indonesia
Komitmen BRI dalam memberdayakan UMKM dapat dibuktikan dari tiga program unggulan permodalan serta beberapa fasilitas pendukung lainnya yang diberikan untuk memberikan makna kepada masyarakat Indonesia.
Tiga program unggulan BRI dalam membantu memberdayakan serta mengembangkan UMKM masyarakat Indonesia di antaranya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Umum Pedesaan Rakyat (KUPRA), dan Kredit Usaha Pedesaan (KUPEDES).
Hal itu disampaikan langsung oleh Universal Banking BRI kantor Cabang Brumbung, Sragen, Muhammad Farhan.
"Untuk produk unggulan BRI yang pertama ada Kredit Umum Pedesaan Rakyat (KUPRA), (Kredit Usaha Pedesaan), kedua ada Kredit Usaha Pedesaan (KUPEDES), dan ketiga subsidi pemerintah yang bekerja sama dengan BRI yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR)."
Lebih lanjut, Farhan menjelaskan tentang perbedaan ketiga program unggulan BRI tersebut.
"KUR memiliki bunga yang paling rendah dibandingkan KUPRA dan KUPEDES, bunganya sekitar 0,2 persen, kemudian ada KUPRA dengan 0,99 persen, dan dilanjutkan dengan yang tertinggi yakni KUPEDES," bebernya.
Menurut Farhan, baik KUR, KUPRA, maupun KUPEDES memiliki spesifikasi sasaran sendiri-sendiri.
"Untuk KUR, diarahkan untuk para pelaku UMKM kecil yang baru meniti dari 0, kalau untuk syaratnya, umur minimal 21 tahun, mempunyai usaha real yang benar-benar ada, entah itu offline atau online yang punya stok dirumah."
"Kalau Kupra, diperuntukkan untuk UMKM yang sudah berjalan namun belum maksimal."
"Sementara Kupedes diperuntukkan untuk para pelaku usaha dengan kebutuhan modal yang tinggi. Dalam artian, nasabah bisa membangun modal awal satu juta sampai tiga ratus juta dengan bunga saat ini anuitas, kurang lebihnya tergantung jangka waktu yang diambil, setelah disurvei pihak kami, nego baru bisa ditentukan bunganya," jelasnya.
Selain itu, dalam tiga program unggulan tersebut BRI juga memberikan jaminan asuransi di dalamnya.
Perbedaanya, jika KUR dan KUPRA lebih kepada asuransi kecelakaan kerja atau kebakaran usaha, namun, untuk KUPEDES berupa asuransi jiwa atau kematian.
"KUR atau KUPRA tadi tidak ada asuransi jiwanya, tetapi ada asuransi kecelakaan atau kebakaran usaha, jadi dia dicover. Sementara Kupedes ada asuransi jiwa atau kematian. Jadi seumpama pihak pertama meninggal, sisa kreditnya masih ada, dia bisa diklaimkan dan pinjamannya bisa lunas," beber Farhan.
Bukan hanya menawarkan sistem permodalan, BRI juga turut memberikan program jaminan bantuan bagi masyarakat yang dinamakan Restrukturisasi.
Restrukturisasi diperuntukkan untuk masyarakat yang alami kesulitan membayar angsuran baik menunggak maupun tidak pernah penuh dalam membayarkan pokok dan juga bunganya.
"Bukan hanya permodalan saja, kami dari BRI juga punya tameng untuk mengcover nasabah jikalau yang memiliki usaha tadi kesulitan."
"Kita punya program di BRI yakni Rekstrukturisasi, fungsinya, pinjaman apa saja, modal kerja apa saja KUR, KUPRA atau KUPEDES, kalau seumpama tidak bisa mengangsur kewajibannya penuh, katakanlah setor tiga juta tapi tidak penuh, kita dari BRI punya kebijakan nasabah bisa membayarkan bunganya saja dengan jangka waktu yang ditentukan," jelas Farhan.
"Katakanlah masyarakat mengajukan selama enam bulan hanya bayar bunganya saja boleh, karena nasabah kita kemungkinan nasabah kita enam bulan itu jatuh bangun jadi dia mengajukan restrukturisasi, sesuai kesepakatan, setelah enam bulan, dia kembali membayarkan kewajiban angsuran pokok dan juga bunganya," imbuhnya.
Tak hanya Restrukturisasi, ada juga program jaminan lain dari BRI yakni Simpedes Hadiah Langsung (SHL).
Program tersebut diperuntukkan BRI guna membantu dan menunjang para pelaku UMKM dalam melakukan simpanan atau menabung, namun bisa mendapatkan reward (penghargaan-red) berupa barang.
"Kalau dari kita pelaku usaha, untuk menunjang UMKM, selain pinjaman juga ada simpanan seperti dari kita itu ada SHL (Simpedes Hadiah Langsung), itu nanti jika nasabah usahanya berjalan lancar dan dapatkan keuntungan banyak, nasabah bisa menyimpannya yaitu tabungan BRI, setelah itu kita bisa ajukan SHL."
"Seperti contoh, ada nasabah nabung Rp 10 juta, daripada tidak ada hasilnya, itu nanti dikunci tidak boleh diambil selama kurang lebih 3 bulan, kita nanti akan kasih reward berupa barang, itu bisa digunakan oleh pelaku UMKM tadi," ujar Farhan.
Tangan Kanan Pemerintah dalam Menyalurkan BLT di Masa Covid-19 untuk Pelaku UMKM
Di masa pandemi covid 19, mayoritas UMKM di Indonesia banyak yang mengalami kesulitan hingga berujung pada gulung tikar.
Selama dua tahun sejak pertama kali awal 2020 sampai dengan 2022, para pelaku UMKM kerap kesulitan dalam menjual produk maupun melakukan proses distribusi.
Hal itu tak terlepas dari adanya pembatasan aktivitas masyarakat untuk meneken angka penularan covid-19.
Dengan permasalahan tersebut, Pemerintah Indonesia merangkul BRI melakukan terobosan untuk menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada para pelaku UMKM selama dua kali tahapan.
"Bantuan itu datang kemungkinan dari pemerintah, itu namanya semacam BLT itu memang ada dua tahapan, dan bantuannya melalui BRI yang dikhususkan untuk pelaku UMKM yang usahanya masih relatif kecil yang berkoordinasi dengan kelurahan setempat," ungkap Farhan.
Untuk mekanisme pencairannya, Farhan menjelaskan, pelaku UMKM terlebih dahulu menyetorkan nama dan jenis usahanya ke kelurahan setempat, belanjut ke kecamatan.
Pada akhirnya, pihak kecamatan menyetorkan nama-nama tersebut kepada dinas setempat yang nantinya akan diputuskan oleh pemerintah siapa yang terverifikasi bisa mendapatkan bantuan untuk pelaku UMKM.
"Para pelaku usaha setor nama ke kelurahan, setelah dari kelurahan ke kecamatan, dan baru ke dinas setempat, untuk putusan dan pemilihannya dari pemerintah pusat, yang jelas dikhususkan untuk UMKM kecil. Setelah itu, jeda satu bulan ada konfirmasi dari pemerintah bantuannya sudah cair melalui bank BRI," pungkasnya.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)