Breaking News:

Bank BRI Memberikan Makna untuk Indonesia, 2 Pejuang UMKM Kuliner di Sragen dan NTT Jadi Saksi Nyata

Bank BRI bantu dua pejuang UMKM di bidang kuliner asal Sragen dan NTT jadi saksi nyatanya.

Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
HO TribunWow.com
Potret warung Ibu Kartini di Sragen, Jawa Tengah (kiri) dan Sahrul di Nusa Tenggara Timur (kanan). Dua pelaku UMKM yang berhasil berkembang berkat adanya prorgram bantuan peminjaman modal Bank BRI. 

TRIBUNWOW.COM - Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) jadi riwayat nadi sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Hal itu dapat dibuktikan dari data yang dikeluarkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) yang bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ada 64 juta UMKM yang ada di Indonesia.

Angka itu berpotensi besar bertambah, mengingat, KemenkopUKM akan kembali melakukan update data terhadap para pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

"Kami mengajak para Kepala Dinas yang membidangi Koperasi dan UMKM, serta Kepala BPS di Seluruh Provinsi agar saling berkolaborasi dalam melakukan proses updating data yang telah terkumpul. Sehingga keberadaan data tunggal koperasi dan UMKM dapat memberikan informasi yang faktual dan dapat menavigasi bisnis UMKM kedepan," kata Menteri Koperasi dan UMKM (MenKopUKM), Jumat (15/10/2023).

Menurut Teten, keberadaan data tunggal menjadi penting bagi 64 juta UMKM di Indonesia untuk mempermudah akses pembiayaan, pasar hingga teknologi informasi yang memadai.

"Untuk membantu pelaku UMKM mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah membutuhkan ketersediaan data dan informasi yang dapat memberikan gambaran kebutuhan pelaku UMKM di tanah air, sekaligus untuk keperluan perencanaan dan evaluasi," ujar Menteri Teten.

Dan, dua orang pejuang UMKM di Sragen, Jawa Tengah serta Rote Ndao di Nusa Tenggara Timur menjadi sebagian kecil dari contohnya.

Keduanya sama-sama membuka UMKM di bidang kuliner.

Beranjak dari nol, dua pejuang UMKM di Sragen dan Rote Ndao saat ini tengah merasakan perkembangan dalam bisnis yang digelutinya.

Satu di antara beberapa faktor keberhasilan perkembangan UMKM kuliner keduanya disumbangsihkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Bagaimana kisah selengkapnya?

Berikut ini dua kisah pejuang UMKM kuliner asal Sragen dan NTT:

Buka Cabang Usaha Kuliner dan Lapangan Kerja di Sragen Berkat BRI

Bukti nyata Bank BRI memberikan makna untuk Indonesia terkhusus di bidang UMKM turut dirasakan oleh Kartini.

Wanita yang tinggal di Plupuh, Sragen itu sukses mengembangkan UMKM nya di bidang kuliner berkat bantuan Bank BRI.

"Keseharian saya jualan, usaha saya di bidang kuliner, warung makanan dan minuman," ujar Kartini.

Kartini menjelaskan awal mulanya mulai menggeluti UMKM di bidang kuliner.

"Pertama jualan itu tahun 2016, sudah berganti tiga kali tempat, yang satu kali ngontrak tiga tahun, harganya naik akhirnya pindah, kedua kalinya ngontrak lima tahun, tapi baru tahun ketiga pindah kesini."

"Awal mulanya dari tahun 2016 cuma jualan kecil-kecilan jualan soto dan es, punya kawan satu itu setengah hari, babat alasnya 6 bulan baru dapat banyak pelanggan, pendapatannya meningkat terus, awal-awal 50, 100, 300 habis 6 bulan muncak Rp 800 ribu," jelasnya kepada TribunWow.com, Sabtu (9/12/2023).

Pasca pandemi covid-19, Kartini memutuskan untuk mengambil modal usaha melalui BRI.

Warung Bu YU Sragen
Potret warung Ibu Kartini, penjual makanan dan minuman di Sragen.

Kartini menjelaskan, pinjaman pertama yang ia ambil pada saat itu dari BRI adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pinjaman tersebut diperuntukkan Kartini untuk membangun tempat usaha.

"Saya kemarin pinjam buat bangun usaha agar tidak ngontrak lagi, bangun buat tambah-tambah," ungkap Kartini.

Setelah lunas, Kartini kembali mengajukan pinjaman ke Bank BRI kali ini melalui program Kredit Umum Pedesaan Rakyat (KUPRA).

Pinjaman kedua itu diperuntukkan wanita yang kesehariannya berjualan sosis, tempura dan sempol itu guna membeli lahan.

Hal itu tak terlepas dari lokasi jualannya saat ini yang sewaktu-waktu bisa tergusur karena berada di atas perairan.

"Itu kan lunas, angsuran sudah lunas, yang kedua ambil lagi rencananya buat beli lahan takut kalau digusur karena tempat saat ini tempat perairan," bebernya.

Untuk pinjaman keduanya, Kartini mengalokasikan dana tersebut untuk anggaran cadangan beli kios dan antisipasi dana operasional jikalau dagangannya tengah sepi.

Untuk kios, Kartini mengungkapkan dirinya akan membuat warung yang juga bisa digunakan sebagai tempat tongkrongan.

"Saya ngambil dulu lagi untuk dana cadangan antisipasi kalau ada yang jual kios biar langsung bisa membayar selain itu juga buat operasional bisnis jika keadaan lagi sepi, selain itu, uang pinjaman itu juga saya gunakan untuk pembuatan warung yang ada tempat tersendiri buat nongkrong," jelas Kartini.

Sedangkan untuk nominal pinjaman, Kartini menyebutkan melakukan peminjaman untuk KUR sebesar Rp. 50 juta dan KUPRA sebesar Rp 100 juta.

"Yang pertama itu KUR, saya ambil dua kali ini, pertama Rp 50 juta, yang kedua 100 juta itu Kupra," imbuhnya.

Terkini, Kartini sukses memiliki tiga cabang, di mana untuk cabang satu lainnya saat ini masih dalam proses renovasi.

"Hasilnya bisa bikin 3 cabang, bisa buat muter, pertama buat bangun warung baru sendiri bukan ngontrak lagi, kedua cabang satu, ketiga cabang yang satunya lagi, ini lagi proses untuk pembangunan cabang ketiga, rencana bulan Januari mau renovasi," beber Kartini.

Selain itu, omset Kartini juga berhasil naik drastis menjadi Rp 1 sampai dengan 2 juta.

"Omset sampai 1-2 jutaan," ungkapnya.

Bahkan, Kartini kembali membuka lahan bisnis baru dengan berjualan es teh jumbo.

Alhasil, wanita kelahiran Pati itu kembali berhasil membuka lapangan kerja baru.

Dari yang semula 2 orang, kini Kartini bisa memberikan lapangan kerja bagi 7 karyawannya.

"Terus saat ini kan baru tren-trennya esteh jumbo, nah terus lagi saya buka satu lagi es teh jumbo saya kasih karyawan dua, shift pagi dan malam, semua karyawan saya 7," terangnya.

Potret UMKM Sragen yang berjualan kuliner dan sukses mengembangkan usahanya berkat BRI.
Potret UMKM Sragen yang berjualan kuliner dan sukses mengembangkan usahanya berkat BRI. (HO TribunWow.com)

Pejuang UMKM dari NTT, Berkembangnya Usaha Bakso & Mie Ayam Berkat BRI

Tak pernah disangka, Sahrul Lapulu (39), dapat mengembangkan bisnisnya di bidang kuliner dengan berjualan bakso dan mie ayam.

Pria yang tinggal di Oelaba, Kabupaten Rote Ndao, NTT itu sudah menggeluti bisnis kulinernya sejak 2018 lalu.

Berawal dari kejelihannya membaca peluang usaha, Sahrul akhirnya dengan tekad besar memberanikan diri untuk terjun di dunia wirausaha sebagai penjual bakso dan mie ayam.

Mengingat, di desanya yakni Oelaba, sebelumnya tidak ada pelaku UMKM kuliner yang menjajakan bakso dan mie ayam.

"Awalnya tidak terpikir untuk usaha ini, hanya, saya melihat situasi di kampung warung bakso belum ada. Saya rasa, saya yang pertama di kampung sini, saya bilang mungkin saya yang pertama, dulu ada tapi jauh, kalau disini mungkin saya yang ramai," jelas Sahrul kepada TribunWow.com Kamis (7/12/2023).

Selain itu, tantangan terbesar yang ia rasakan ketika memutuskan untuk berjualan bakso dan mie ayam berkaitan dengan daya beli masyarakat kampung yang tidak selalu stabil.

"Di kampung tentu beda dengan kota ya, di kampung yang minat mungkin orang yang senang-senang pada datang, kalau ada uang baru datang, ramainya orang pas pengin aja mereka makan," ungkapnya.

Lantas, Sahrul pun menceritakan bagaimana awal kisahnya mampu mengembangkan bisnis kuliner yang saat ini ia geluti.

Meski sejak 2018 lalu membuka usaha kuliner bakso dan mie ayam, Sahrul baru memutuskan untuk ambil pinjaman modal usaha pada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI di tahun 2020.

Pria yang kesehariannya juga turut mengajar TPQ itu meminjam modal dari BRI dengan angsuran selama 3 tahun.

Gambaran Gerobak 2
Potret gerobak Sahrul, pelaku UMKM yang berjualan bakso dan mie ayam asal NTT.

"Kalau peminjaman modal sendiri saya baru kali ini, saya rasa sangat membantu, waktu itu saya butuh modal untuk usaha ini, saya merasa bersyukur sedikit banyak terbantukan peminjaman modal ini, saya pinjam 3 tahun sudah berjalan 3 tahun ini mau selesai."

"Buka mie ayam bakso mulai bukanya 2018 kalau gak salah, awal 2018, mulai buka 2018 berarti saya pinjam mulai sekitar 2020, masa pengembaliannya 3 tahun," ujar Sahrul.

Tak lama setelah meminjam modal usaha, Sahrul dihadapkan dengan adanya bencana pandemi covid-19.

Saat itu, Sahrul mengaku usahanya terimbas karena adanya pandemi covid-19.

Namun, bermula dari ketidaksengajaan, Sahrul mendapatkan informasi dari tetangga dan rekan-rekannya tentang adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diturunkan pemerintah melalui BRI.

"Aku dapat informasi dari orang lain ada dari BRI tawarkan dana untuk pelaku usaha mau melakukan usaha itu ada bantuan, ngajuin pakai nama dan NIK kita ajukan ke BRI terdekat kita cek, kalau namanya keluar, bisa kita ambil," bebernya.

Lebih lanjut, berkat adanya bantuan permodalan dari BRI, warung Sahrul saat ini semakin bersolek dengan beberapa perlengkapan dan properti tambahan.

"Sebelum adanya bantuan modal  jelas bahwa baru awal rintis dengan modal pas-pasan, akhirnya fasilitas tempat ruang makan dengan uang seadanya saja, ruangan ini dulu kamar depan saja, di rehab sedikit untuk bisa digunakan untuk orang datang makan."

"Ketika dapat bantuan dan pinjaman dari BRI saya bisa perbaharui untuk meja dan kursinya bisa beli, ruangannya bisa di plester ulang di cat dibikin bagus, ada peningkatan dengan modal bantuan itu, saya juga bisa buat gerobak yang baru, awalnya gerobak kayu, alhamdulilah setelah dapat bantuan bisa buat gerobak baru dari baja ringan," terang Sahrul.

Sahrul Laupulu
Potret Sahrul Lapulu penjual mie ayam dan bakso yang turut mendapatkan bantuan pinjaman modal dari BRI di Pesisir Oelaba, Loaholu, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

BRI Memberdayakan UMKM Indonesia

Komitmen BRI dalam memberdayakan UMKM dapat dibuktikan dari tiga program unggulan permodalan serta beberapa fasilitas pendukung lainnya yang diberikan untuk memberikan makna kepada masyarakat Indonesia.

Tiga program unggulan BRI dalam membantu memberdayakan serta mengembangkan UMKM masyarakat Indonesia di antaranya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Umum Pedesaan Rakyat (KUPRA), dan Kredit Usaha Pedesaan (KUPEDES).

Hal itu disampaikan langsung oleh Universal Banking BRI kantor Cabang Brumbung, Sragen, Muhammad Farhan.

"Untuk produk unggulan BRI yang pertama ada Kredit Umum Pedesaan Rakyat (KUPRA), (Kredit Usaha Pedesaan), kedua ada Kredit Usaha Pedesaan (KUPEDES), dan ketiga subsidi pemerintah yang bekerja sama dengan BRI yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR)."

Lebih lanjut, Farhan menjelaskan tentang perbedaan ketiga program unggulan BRI tersebut.

"KUR memiliki bunga yang paling rendah dibandingkan KUPRA dan KUPEDES, bunganya sekitar 0,2 persen, kemudian ada KUPRA dengan 0,99 persen, dan dilanjutkan dengan yang tertinggi yakni KUPEDES," bebernya.

Menurut Farhan, baik KUR, KUPRA, maupun KUPEDES memiliki spesifikasi sasaran sendiri-sendiri.

"Untuk KUR, diarahkan untuk para pelaku UMKM kecil yang baru meniti dari 0, kalau untuk syaratnya, umur minimal 21 tahun, mempunyai usaha real yang benar-benar ada, entah itu offline atau online yang punya stok dirumah."

"Kalau Kupra, diperuntukkan untuk UMKM yang sudah berjalan namun belum maksimal."

"Sementara Kupedes diperuntukkan untuk para pelaku usaha dengan kebutuhan modal yang tinggi. Dalam artian, nasabah bisa membangun modal awal satu juta sampai tiga ratus juta dengan bunga saat ini anuitas, kurang lebihnya tergantung jangka waktu yang diambil, setelah disurvei pihak kami, nego baru bisa ditentukan bunganya," jelasnya.

Selain itu, dalam tiga program unggulan tersebut BRI juga memberikan jaminan asuransi di dalamnya.

Perbedaanya, jika KUR dan KUPRA lebih kepada asuransi kecelakaan kerja atau kebakaran usaha, namun, untuk KUPEDES berupa asuransi jiwa atau kematian.

"KUR atau KUPRA tadi tidak ada asuransi jiwanya, tetapi ada asuransi kecelakaan atau kebakaran usaha, jadi dia dicover. Sementara Kupedes ada asuransi jiwa atau kematian. Jadi seumpama pihak pertama meninggal, sisa kreditnya masih ada, dia bisa diklaimkan dan pinjamannya bisa lunas," beber Farhan.

Bukan hanya menawarkan sistem permodalan, BRI juga turut memberikan program jaminan bantuan bagi masyarakat yang dinamakan Restrukturisasi.

Restrukturisasi diperuntukkan untuk masyarakat yang alami kesulitan membayar angsuran baik menunggak maupun tidak pernah penuh dalam membayarkan pokok dan juga bunganya.

"Bukan hanya permodalan saja, kami dari BRI juga punya tameng untuk mengcover nasabah jikalau yang memiliki usaha tadi kesulitan."

"Kita punya program di BRI yakni Rekstrukturisasi, fungsinya, pinjaman apa saja, modal kerja apa saja KUR, KUPRA atau KUPEDES, kalau seumpama tidak bisa mengangsur kewajibannya penuh, katakanlah setor tiga juta tapi tidak penuh, kita dari BRI punya kebijakan nasabah bisa membayarkan bunganya saja dengan jangka waktu yang ditentukan," jelas Farhan.

"Katakanlah masyarakat mengajukan selama enam bulan hanya bayar bunganya saja boleh, karena nasabah kita kemungkinan nasabah kita enam bulan itu jatuh bangun jadi dia mengajukan restrukturisasi, sesuai kesepakatan, setelah enam bulan, dia kembali membayarkan kewajiban angsuran pokok dan juga bunganya," imbuhnya.

Tak hanya Restrukturisasi, ada juga program jaminan lain dari BRI yakni Simpedes Hadiah Langsung (SHL).

Program tersebut diperuntukkan BRI guna membantu dan menunjang para pelaku UMKM dalam melakukan simpanan atau menabung, namun bisa mendapatkan reward (penghargaan-red) berupa barang.

"Kalau dari kita pelaku usaha, untuk menunjang UMKM, selain pinjaman juga ada simpanan seperti dari kita itu ada SHL (Simpedes Hadiah Langsung), itu nanti jika nasabah usahanya berjalan lancar dan dapatkan keuntungan banyak, nasabah bisa menyimpannya yaitu tabungan BRI, setelah itu kita bisa ajukan SHL."

"Seperti contoh, ada nasabah nabung Rp 10 juta, daripada tidak ada hasilnya, itu nanti dikunci tidak boleh diambil selama kurang lebih 3 bulan, kita nanti akan kasih reward berupa barang, itu bisa digunakan oleh pelaku UMKM tadi," ujar Farhan.

Tangan Kanan Pemerintah dalam Menyalurkan BLT di Masa Covid-19 untuk Pelaku UMKM

Di masa pandemi covid 19, mayoritas UMKM di Indonesia banyak yang mengalami kesulitan hingga berujung pada gulung tikar.

Selama dua tahun sejak pertama kali awal 2020 sampai dengan 2022, para pelaku UMKM kerap kesulitan dalam menjual produk maupun melakukan proses distribusi.

Hal itu tak terlepas dari adanya pembatasan aktivitas masyarakat untuk meneken angka penularan covid-19.

Dengan permasalahan tersebut, Pemerintah Indonesia merangkul BRI melakukan terobosan untuk menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada para pelaku UMKM selama dua kali tahapan.

"Bantuan itu datang kemungkinan dari pemerintah, itu namanya semacam BLT itu memang ada dua tahapan, dan bantuannya melalui BRI yang dikhususkan untuk pelaku UMKM yang usahanya masih relatif kecil yang berkoordinasi dengan kelurahan setempat," ungkap Farhan.

Untuk mekanisme pencairannya, Farhan menjelaskan, pelaku UMKM terlebih dahulu menyetorkan nama dan jenis usahanya ke kelurahan setempat, belanjut ke kecamatan.

Pada akhirnya, pihak kecamatan menyetorkan nama-nama tersebut kepada dinas setempat yang nantinya akan diputuskan oleh pemerintah siapa yang terverifikasi bisa mendapatkan bantuan untuk pelaku UMKM.

"Para pelaku usaha setor nama ke kelurahan, setelah dari kelurahan ke kecamatan, dan baru ke dinas setempat, untuk putusan dan pemilihannya dari pemerintah pusat, yang jelas dikhususkan untuk UMKM kecil. Setelah itu, jeda satu bulan ada konfirmasi dari pemerintah bantuannya sudah cair melalui bank BRI," pungkasnya.

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

Tags:
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)Bank BRISragenNusa Tenggara Timur (NTT)
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved