Konflik Rusia Vs Ukraina
Gara-gara Konflik di Ukraina, Warga Sipil Rusia Jadi Korban Kebijakan Baru Uni Eropa
Warga sipil Ukraina yang ingin memasuki negara-negara Uni Eropa kini harus merogoh kocek lebih dalam dan melalui birokrasi yang rumit akibat perang.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
Skurikhin menyadari risiko yang ia hadapi ketika melakukan ini.
Menurut pengakuan Skurikhin, ada orang tak dikenal menuliskan 'pengkhianat' di pintu rumahnya.
Begitu pula pihak kepolisian beberapa kali berkunjung ke kediaman Skurikhin.
Pada akhirnya Skurikhin dikenai denda karena mendiskreditkan pasukan militer Rusia.
"Saya tidak dapat duduk diam tidak melakukan apapun," ungkap Skurikhin.
Baca juga: Suaminya Dibunuh Tentara Rusia, Wanita di Ukraina Sempat Merasa Kasihan ke Pelaku
Nasib Pelaku Penyiram Cairan Merah ke Dubes Rusia
Di sisi lain, seorang wanita Ukraina yang menyiram duta besar Rusia untuk Polandia, Sergey Andreyev, dengan cairan merah telah meninggalkan Warsawa.
Ia mengaku dibanjiri ancaman pembunuhan setelah aksinya yang viral untuk memprotes perang di Ukraina.
Tak hanya itu, aktivis sekaligus jurnalis itu mengaku data pribadinya telah disebarkan di media-media Rusia.

Baca juga: Alami Sabotase, Fasilitas dan Pabrik Militer Rusia Meledak Diduga Aksi Protes Perang Ukraina
Wanita bernama Iryna Zemliana itu mengatakan bahwa dalam beberapa jam setelah melempar Andreyev dengan cairan seperti darah, dia mendapat berbagai ancaman di media sosial.
"Sepertinya Rusia siap membunuh untuk duta besar mereka yang sedikit ternoda borscht karena dia berdiri di dekat saya," kata Zemliana dikutip TribunWow.com dari Daily Mail, Rabu (18/5/2022).
"Saya mendapat ribuan pesan ancaman. Saya belum pernah melihat serangan besar-besaran dalam hidup saya."
Dia menambahkan bahwa dalam beberapa jam pertama setelah kejadian, semua data pribadinya termasuk nomor paspor, alamat di Ukraina, nomor telepon, email dan semua akun media sosial telah diposting ke saluran media sosial Rusia Telegram.
Sebuah pesan yang diposting di samping data mengatakan dia harus 'dihancurkan' dan sekarang wanita itu secara teratur menerima ancaman kematian, mutilasi, dan pemerkosaan.
Banyak dari pesan kebencian itu turut menyertakan gambar-gambar mengerikan.