Breaking News:

Terkini Internasional

FBI Diduga Lakukan Pengintaian Muslim dengan Mengirim Informan Rahasia, Mahkamah Agung Tangani Kasus

Setelah bertahun-tahun, kasus terkait dugaan pengintaian Muslim di masjid oleh FBI melalui informan rahasia, akan ditangani oleh Mahkamah Agung AS.

Protocol Worldwide
ILUSTRASI Masjid. Setelah bertahun-tahun, kasus terkait dugaan pengintaian Muslim di masjid oleh FBI melalui informan rahasia, akan ditangani oleh Mahkamah Agung AS, Senin (8/11/2021). 

TRIBUNWOW.COM – Kasus yang melibatkan tiga pria Muslim di California yang menyebut diawasi oleh Biro Investigasi Federal (FBI) di masjid, akan ditangani oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS), Senin (8/11/2021).

Ketiga pria tersebut mengaku diintai hanya karena agama mereka setelah serangan 11 September 2001.

Dilansir dari AFP, mereka adalah imam Yayasan Islam Orange County, Yassir Fazaga, bersama dengan Ali Uddin Malik dan Yasser Abdelrahim.

Jemaah masjid di Srinagar.
Jemaah masjid di Srinagar. (AFP/Tauseef Mustafa)

Baca juga: Bom Kembali Meledak di Masjid Syiah Afghanistan saat Salat Jumat, 15 Orang Tewas dan 31 Terluka

Baca juga: 35 Masjid di Cologne Jerman Kini Boleh Azan Pakai Pengeras Suara, Wali Kota: Tanda Kami Menghormati

Disebutkan oleh ketiganya, FBI mengirim seorang informan rahasia ke beberapa masjid di wilayah itu pada 2006 dan 2007 lalu.

FBI juga memerintahkan informan tersebut untuk menyamar sebagai seorang mualaf sehingga dapat mengumpulkan informasi.

"FBI mempekerjakan informan bayaran dengan riwayat kriminal sebelumnya, untuk menyusup ke masjid-masjid ini," ujar pengacara kelompok hak-hak sipil ACLU yang akan mewakili ketiga penggugat, Ahilan Arulanantham.

Dia juga membeberkan bahwa informan tersebut mengatakan kepada semua orang, bahwa dia adalah seorang mualaf dan ingin menemukan jati dirinya kembali sebagai keturunan Prancis-Aljazair.

"Dia kemudian diperintahkan oleh FBI untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang orang-orang di komunitas ini, (termasuk) nomor ponsel, alamat email, percakapan yang dia rekam secara diam-diam," ungkap Arulanantham kepada wartawan.

Di sisi lain, ACLU mengatakan informan FBI itu merekam kelompok doa keagamaan (dzikir) di masjid, meninggalkan alat perekam rahasia yang tersembunyi di kunci mobilnya, serta diam-diam membuat video di masjid, rumah dan bisnis.

"(Informan) mulai, sekali lagi atas nama petugas FBI-nya, untuk mencoba menghasut kekerasan, tetapi dia menakuti banyak orang, ketika dia berbicara tentang hal-hal seperti pengeboman, Jihad dan perang di Irak dan Afghanistan (dan) mereka melaporkannya ke FBI,” kata Arulanantham.

Dia juga menyebutkan bahwa informan tersebut kemudian menjadi tidak puas seusai berdebat dengan petugas FBI-nya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk menceritakan semua pengalamannya kepada publik.

Imam dan dua jemaahnya lantas mengajukan pengaduan terhadap FBI karena memata-matai mereka, yang melanggar hukum federal dan hak konstitusional.

Di sisi lain, Departemen Kehakiman AS mengklaim bahwa mereka meluncurkan program pengawasan untuk alasan obyektif, bukan karena mereka yang diawasi adalah Muslim di negara tersebut.

Baca juga: Kelompok Syiah Afghanistan Putus Asa, ISIS-K Klaim Bom Bunuh Diri di Masjid Kunduz saat Salat Jumat

Baca juga: Bom Meledak di Masjid Kabul saat Upacara Pemakaman Ibu Juru Bicara Taliban, 5 Orang Tewas

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved