Breaking News:

Konflik di Afghanistan

44 Anggota Taliban Duduki Posisi Kunci di Afghanistan hingga Peringatan soal Kemungkinan Penyusup

Taliban menunjuk 44 anggotanya untuk memegang posisi kunci di Afghanistan guna mempertahankan rezim, sementara ada peringatan kemungkinan penyusup.

AP Photo
Para milisi Taliban menguasai istana kepresidenan Afghanistan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kabur dari negaranya. Taliban menunjuk 44 anggotanya untuk memegang posisi kunci di Afghanistan guna mempertahankan rezim, sementara ada peringatan kemungkinan penyusup dari pemimpin tertinggi kelompok itu. 

TRIBUNWOW.COMTaliban menunjuk 44 anggotanya untuk menduduki sejumlah posisi kepemimpinan kunci di Afghanistan, Minggu (7/11/2021).

Beberapa jabatan tersebut di antaranya termasuk gubernur provinsi dan kepala kepolisian.

Dilansir dari The Hill, keputusan itu diambil karena Taliban berusaha untuk melindungi rezim pemerintahannya di Afghanistan terhadap ancaman keamanan dan masalah ekonomi.

Kekeringan di Afghanistan.
Kekeringan menjadi satu di antara pemicu meningkatnya masalah ekonomi di Afghanistan. (AFP/Hoshang Hashimi)

Baca juga: Perketat Hukum Syariah, Taliban Disebut Punya Daftar Komunitas Gay Afghanistan yang Terancam Dibunuh

Baca juga: Terjebak Krisis, Keluarga Afghanistan Jual Anak Berusia 9 Tahun sebagai Pengantin Seharga Rp 31 Juta

Menurut kantor berita Reuters, penunjukan terbaru para anggota Taliban menandai putaran besar pertama pemilihan kepemimpinan, sejak kelompok tersebut membentuk Kabinetnya pada September lalu.

Pengisian peran kepemimpinan menyusul perjuangan Taliban untuk menghadapi ancaman keamanan dan mencapai stabilitas ekonomi.

Di antara anggota Taliban yang mengisi posisi penting tersebut adalah Qani Baryal sebagai Gubernur Kabul dan Wali Jan Hamza yang akan menjadi Kepala Kepolisian Kota Kabul.

Kepala Kops Militer Kabul sebelumnya, Mawlawi Hamdullah Mukhlis, diketahui tewas dalam serangan di rumah sakit militer terbesar di Afghanistan pekan lalu.

Serangan tersebut melibatkan dua ledakan bom besar dan pelepasan tembakan dari kelompok bersenjata yang menewaskan sedikitnya 25 orang dan 50 lainnya terluka.

Afghanistan juga menghadapi peningkatan serangan bom bunuh diri dari Negara Islam Khorasan (ISIS-K), sejak Taliban mengambil alih negara tersebut 15 Agustus lalu.

Tak hanya itu, perekonomian Afghanistan juga berada dalam krisis, namun Taliban justru melarang penggunaan mata uang asing pada pekan lalu.

"Situasi ekonomi dan kepentingan nasional di negara itu mengharuskan semua warga Afghanistan menggunakan mata uang Afghanistan dalam setiap perdagangan mereka," kata Taliban tentang keputusan tersebut.

Sebelum pemberlakuan pelarangan, beberapa wilayah di perbatasan melakukan aktivitas perdagangan dengan menggunakan mata uang negara tetangga, seperti Pakistan.

Sementara dolar Amerika Serikat lebih banyak digunakan secara luas di pasar Afghanistan.

Terkait dengan pemerintahan Afghanistan, pemimpin tertinggi Taliban sebelumnya juga telah memperingatkan anggotanya akan kemungkinan adanya penyusup.

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved