Konflik di Afghanistan
44 Anggota Taliban Duduki Posisi Kunci di Afghanistan hingga Peringatan soal Kemungkinan Penyusup
Taliban menunjuk 44 anggotanya untuk memegang posisi kunci di Afghanistan guna mempertahankan rezim, sementara ada peringatan kemungkinan penyusup.
Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Atri Wahyu Mukti
Peringatan tersebut datang dalam sebuah pernyataan yang dikaitkan dengan Akhundzada, yang diterbitkan secara luas di akun media sosial Taliban, Kamis (4/11/2021).
Pemimpin tertinggi Taliban tidak terlihat di depan umum sejak kelompok itu merebut kekuasaan hampir tiga bulan lalu.
Tepatnya, ketika Taliban merebut ibu kota Afghanistan, yakni Kabul, pada 15 Agustus dan mendeklarasikan Imarah Islam setelah mundurnya pasukan Amerika Serikat yang pernah menduduki negara itu selama beberapa dekade.
Sejak Taliban menguasai Afghanistan, kepemimpinannya telah berulang kali memperingatkan adanya penipu dan penjahat bergabung dengan kelompok itu, dalam upaya untuk merusak citranya.
Pada September lalu, penjabat Menteri Pertahanan Mullah Mohammad Yaqoob menyuarakan keprihatinannya dalam sebuah pesan audio.
“Ada beberapa orang jahat dan korup yang ingin bergabung dengan kami. Untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri atau untuk mencemarkan nama baik kami dan membuat kami terlihat buruk,” ujar Mullah Mohammad Yaqoob.
Putra pendiri Taliban Mullah Mohammad Omar itu, menambahkan bahwa setiap elemen nakal di antara jajaran akan ditangani.
Dalam beberapa bulan terakhir, Taliban telah memperluas perekrutannya karena berusaha memenuhi janji untuk menjaga keamanan di negara itu.
Namun, kelompok tersebut justru menghadapi serangkaian serangan mematikan dari para saingannya, termasuk ISIS-K.
Taliban juga mengumumkan amnesti nasional dan berjanji akan mengizinkan perusahaan media swasta untuk terus beroperasi secara bebas dan independen.
Di sisi lain, ada laporan tentang beberapa anggota Taliban yang diduga melecehkan wartawan, dan yang lainnya dituduh secara paksa menyita properti di beberapa provinsi.
Menyusul laporan tersebut, kantor Akhundzada mengeluarkan dekrit pada akhir September yang melarang anggota kelompok memasuki rumah dan kantor di Kabul atau sekitarnya, dengan dalih memeriksa kendaraan atau peralatan.
“Tidak ada yang diizinkan untuk mengambil kendaraan atau peralatan” atas nama pemerintah Afghanistan, tegasnya dalam dekrit tersebut.
Tetapi, ada laporan lanjutan tentang anggota kelompok Taliban yang memaksa ratusan keluarga keluar dari rumah mereka di provinsi tengah Daikondi. (TribunWow.com/Alma Dyani P)