Konflik di Afghanistan
Perketat Hukum Syariah, Taliban Disebut Punya Daftar Komunitas Gay Afghanistan yang Terancam Dibunuh
Sebuah organisasi aktivis internasional membeberkan bahwa Taliban mempunyai daftar komunitas LGBTQ yang akan dibunuh, menyusul penerapan Hukum Syariah
Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Elfan Fajar Nugroho
TRIBUNWOW.COM – Pemerintahan Taliban disebut memiliki daftar komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ) di Afghanistan yang ditargetkan untuk dibunuh.
Hal itu diungkapkan oleh satu-satunya organisasi aktivis LGBTQ internasional di Afghanistan, Rainbow Railroad.
Situasi komunitas LGBTQ di Afghanistan memang tidak pernah mudah, bahkan sejak pengambilalihan negara itu oleh Taliban pada Agustus lalu, penganiayaan terhadap kelompok tersebut semakin meningkat.
Baca juga: Sempat Dirumorkan Tewas, Sosok Pemimpin Tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada Muncul di Publik
Baca juga: Kedapatan Dengarkan Musik, 3 Orang Tewas Ditembak di Acara Pernikahan oleh Penyerang Diduga Taliban
Hubungan sesama jenis masih menjadi hal yang tabu, terutama di negara berpenduduk mayoritas Muslim, terutama Afghanistan yang menganggapnya ilegal, bahkan dalam pemerintahan sebelumnya yang didukung Barat.
Kendati demikian, saat ini Taliban belum memberi pengumuman resmi yang mengatakan akan menindak kelompok LGBTQ.
Tetapi, menurut laporan, Taliban semakin menerapkan interpretasi ketat terhadap Hukum Syariah, di mana hubungan sesama jenis dapat dijatuhi hukuman mati.
“Ini adalah waktu yang sangat menakutkan untuk berada di Afghanistan,” kata Direktur Eksekutif Rainbow Railroad, Kimahli Powell, dikutip dari France 24, Kamis (4/11/2021).
“Kami sekarang tahu pasti bahwa Taliban memiliki daftar yang mengidentifikasi orang-orang LBTQ dan ingin dibunuh,” tambahnya.
Menurut Powell, Taliban berkemungkinan mendapat daftar warga LGBTQ tersebut dari nama orang-orang yang mencoba melarikan diri dari Afghanistan dengan bantuan kelompok hak asasi luar negeri.
“Setelah jatuhnya Kabul, ada banyak informasi beredar,” katanya kepada France 24, dalam sebuah wawancara telepon.
Powell juga mengungkapkan bahwa orang-orang yang tidak pernah berhasil dievakuasi menjadi pihak yang rentan diburu.
Hal itu karena identitas mereka yang sudah terungkap.
Tak hanya itu, Powell menyebutkan Taliban melengkapi daftar itu juga dari praktik penipuan yang membuat masyarakat membeberkan status mereka.
“(Beberapa) individu yang telah menghubungi kami, memberi tahu tentang bagaimana mereka menerima email misterius dari seseorang yang mengaku terhubung dengan Rainbow Railroad, yang meminta informasi dan paspor mereka. Begitulah cara kami mengetahui bahwa informasi (komunitas LGBTQ) telah bocor,” klaim Powell.
Baca juga: Dilanda Kemiskinan dan Kelaparan, Keluarga di Afghanistan Terpaksa Jual Bayinya Seharga Rp 7 Juta
Baca juga: Larangan Taliban Buat Harga Opium Melonjak, Pedagang di Afghanistan: Haram tapi Tak Ada Pilihan Lain
Rainbow Railroad didirikan pada 2006 dengan tujuan membantu orang-orang LGBTQ yang berisiko di seluruh dunia, melarikan diri dari kekerasan dan penganiayaan di tanah air mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/pejuang-taliban-berdiri-di-afganistan.jpg)