Breaking News:

Konflik di Afghanistan

Taliban Terpaksa Bayar Pekerja Pakai Gandum di Tengah Krisis yang Makin Parah di Afghanistan

Warga Afghanistan terancam kelaparan dan terpaksa menerima gaji berupa gandum yang ditawarkan Taliban, karena alami krisis serta kekurangan uang tunai

AFP/Hoshang Hashimi
PBB telah memperingatkan hampir 23 juta warga Afghanistan terancam kelaparan karena konflik, kekeringan dan penurunan ekonomi. Warga Afghanistan terpaksa menerima gaji berupa gandum yang ditawarkan pemerintahan Taliban, karena negaranya alami krisis serta kekurangan uang tunai. 

TRIBUNWOW.COM – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan hampir 23 juta warga Afghanistan terancam kelaparan karena konflik, kekeringan dan penurunan ekonomi.

Penduduk Afghanistan juga telah menghadapi krisis uang tunai sejak Taliban menguasai ibu kota Kabul pada 15 Agustus lalu, dengan pemutusan akses oleh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan bank sentral Amerika Serikat.

Ancaman kelaparan dan menipisnya uang tunai di negara itu, memaksa pemerintah Afghanistan bentukan Taliban untuk menawarkan gandum sebagai upah pekerja.

Kekeringan di Afghanistan.
Kekeringan di Afghanistan. (AFP/Hoshang Hashimi)

Baca juga: Dilanda Kemiskinan dan Kelaparan, Keluarga di Afghanistan Terpaksa Jual Bayinya Seharga Rp 7 Juta

Baca juga: Bom Kembali Meledak di Masjid Syiah Afghanistan saat Salat Jumat, 15 Orang Tewas dan 31 Terluka

Dilansir dari Reuters, seorang buruh harian di ibu kota Kabul, Khan Ali, menjadi satu di antara warga yang menerima tawaran pembayaran dengan gandum dari pada mata uang afghani.

Khan Ali yang telah kehilangan pekerjaannya sebagai pedagang pasar, kini berjuang untuk menghidupi keluarganya yang terdiri dari enam orang.

Hidupnya yang dirasa semakin sulit, membuatnya tak punya pilihan selain menerima tawaran pemerintah Taliban yang kekurangan uang, untuk membayarnya dengan gandum.

“Untuk saat ini bagus, setidaknya kami tidak akan mati kelaparan,” kata Khan Ali.

Pemerintah Taliban memberikan 10 kilogram gandum yang tidak digiling sehari, untuk menggaji pekerja yang mengelola sistem air dan drainase kota.

PBB memperkirakan hanya ada lima persen rumah tangga di Afghanistan yang bisa makan secara teratur.

Menurut pria berusia 43 tahun itu, keputusan pemerintah untuk menggaji pekerja dengan gandum adalah langkah yang cukup baik, di tengah krisis ekonomi yang memburuk.

“Tentu saja tidak cukup, tetapi dalam situasi ini di mana semua orang Afghanistan mengeluh tentang kurangnya pekerjaan dan kemiskinan, ini bagus,” kata Ali, mantan pedagang yang terpaksa menjual gerobak yang dia gunakan di pasar utama Kabul ketika krisis ekonomi semakin parah.

Bantuan internasional sebagian besar telah hilang setelah pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban pada Agustus lalu.

Antrean panjang terlihat di luar bank-bank di negara tersebut.

Bagi mereka yang memiliki rekening bank dan uang, penarikan tunai telah dijatah menjadi 20 ribu afghani atau Rp 2,8 juta dalam satu minggu.

Halaman
123
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved