Breaking News:

Virus Corona

Kasus Covid-19 di Inggris Kembali Tinggi, Mutasi Baru Covid-19 Varian Delta Ditemukan Lagi

Inggris dikabarkan kembali mengalami kenaikan kasus Covid-19 setelah melandai pada beberapa pekan. 

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
Tribunnews.com/Herudin
Ilustrasi tes usap atau swab. Varian Delta Plus kembali ditemukan di Inggris dan kini sedang diawasi. 

TRIBUNWOW.COM - Inggris dikabarkan kembali mengalami kenaikan kasus Covid-19 setelah melandai pada beberapa pekan. 

Per Senin (18/10/2021) kasus di Inggris mencapai 49.156, kasus yang cukup banyak untuk negara berpenduduk sekitar 60 juta jiwa. 

Angka itu juga disebut sebagai angka tertinggi sejak bulan Juli di mana Inggris diserang oleh varian Delta.

Baca juga: Batuk Terus Menerus karena Covid-19, Coba 6 Herbal Ini untuk Bantu Redakan saat Isolasi Mandiri

Baca juga: Studi Ini Ungkap Alasan Mengapa Konsumsi Gula Berlebih saat Isolasi Mandiri Covid-19 Perlu Dihindari

Dilansir dari The Guardian, diketahui bahwa mayoritas penduduk Inggris sudah mendapat vaksinasi Covid-19

Namun, nampaknya itu tidak berpengaruh dengan jumlah kasus di Inggris ketika pemerintah banyak melonggarkan aturan terkait karantina Covid-19

Meski begitu vaksin Covid-19 masih dipercaya bisa melindungi pasien Covid-19 dari keparahan. 

Kemudian pada Selasa (19/10/2021), mutasi baru varian Delta Covid-19 kembali ditemukan di antara peningkatan kasus tersebut. 

Menurut otoritas setempat, para ahli kini sedang mempelajari lebih lanjut terkait mutasi baru varian Delta yang dinamakan AY.4.2, atau dikenal juga dengan varian Delta Plus. 

AY.4.2, mengandung mutasi yang mungkin memberi Virus Corona yang menyebabkan Covid-19 memiliki keuntungan bertahan hidup yang lebih besar.

Terlebih varian itu ditemukan di wilayah yang kebanyakan penduduknya belum divaksin. 

Baca juga: Ingin Obat Covid-19 Molnupiravir Bisa Diproduksi di Indonesia, Luhut dan Menkes Agendakan ke AS

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya mutasi varian Delta ditemukan. 

Dilansir dari First Post, diketahui ada juga dua mutasi lainnya dari Delta yaitu E484K dan Delta dengan E484Q.

Namun, sejauh ini belum ada yang masuk ke dalam pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Baik itu varian yang menjadi perhatian, atau varian yang sedang diselidiki.

Ini pertama kali diketahui pada Juli 2021 dan sejak itu cabang atau sublineage Delta ini perlahan-lahan meningkat.

Ini mencakup beberapa mutasi baru yang mempengaruhi protein lonjakan, yang digunakan virus untuk menembus sel kita.

Namun, nampaknya varian baru ini menjadi atensi karena ditemukan di Inggris di mana mayoritas warganya sudah divaksin.

"Ini berpotensi jenis yang sedikit lebih menular," kata Profesor Francois Balloux, direktur Institut Genetika Universitas College London.

“Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kami lihat dengan Alpha dan Delta, yang kira-kira 50 hingga 60 persen lebih mudah menular."

"Jadi kita berbicara tentang sesuatu yang cukup halus di sini dan yang saat ini sedang diselidiki. Ini kemungkinan hingga 10 persen lebih menular. Ada baiknya kita sadar,” katanya.

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved