Konflik di Afghanistan
Larangan Cukur Janggut di Afghanistan Mulai Berlaku, Taliban Ancam Beri Hukuman Bagi Pelanggar
Taliban mulai berlakukan larangan mencukur janggut bagi pria di Provinsi Helmand dan mengancam akan ada hukuman sesuai prinsip Syariah bagi pelanggar.
Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Mohamad Yoenus
TRIBUNWOW.COM – Taliban mulai larang tukang cukur di Provinsi Helmand, Afghanistan mencukur atau pun memotong janggut pria pada Minggu (26/9/2021).
Dikutip dari CNN, aturan baru itu diumumkan melalui pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pengawasan Sifat Baik dan Perbuatan Buruk pemerintah Afghanistan di bawah pimpinan Taliban.
Selain itu, tempat pangkas rambut dan pemandian umum juga dilarang keras memutar musik.

Baca juga: Taliban Kecam Anggotanya yang Suka Pamerkan Selfie di Media Sosial dan Berwisata, Ini Alasannya
Baca juga: Ingin Peringatkan Warga, Taliban Gantung Jasad Terduga Penculik di Pusat Kota Herat Afghanistan
Dalam pernyataan tersebut diungkapkan, bagi mereka yang melanggar, Taliban akan menghukum mereka sesuai dengan prinsip Syariah.
“Anda secara mendesak diberitahu bahwa mulai hari ini, mencukur janggut dan bermain musik di tempat pangkas rambut serta pemandian umum sangat dilarang,” kata otoritas setempat dalam pernyataannya.
“Jika ada tempat pangkas rambut atau pemandian umum yang ditemukan mencukur janggut atau memutar musik, mereka akan ditangani sesuai dengan prinsip Syariah dan mereka tidak akan memiliki hak untuk mengeluh,” tambahnya.
Peraturan baru tersebut menjadi bagian dari serangkaian pembatasan bagi warga Afghanistan berdasarkan interpretasi ketat Taliban terhadap hukum Syariah Islam.
Beberapa tukang cukur di ibu kota Kabul mengatakan, mereka juga menerima pesan serupa, dikutip dari BBC pada Senin (27/9/2021).
Pernyataan dari Taliban itu dipasang di tempat pangkas rambut di Provinsi Helmand Selatan, Afghanistan.
Petugas Taliban memperingatkan para penata rambut untuk harus mengikuti hukum Syariah.
“Para pejuang terus datang dan memerintahkan kami untuk berhenti mencukur janggut,” kata seorang tukang cukur di Kabul.
“Salah satu dari mereka mengatakan kepada saya, bahwa mereka dapat mengirim inspektur yang menyamar untuk menangkap kami,” tambahnya.
Penata rambut lain yang mengelola salah satu salon terbesar di kota itu, mengatakan dia menerima telepon dari seseorang yang mengaku sebagai pejabat pemerintah.
Baca juga: Tukang Cukur di Afghanistan Khawatirkan Dampak Aturan Potongan Rambut Pria oleh Taliban
Pejabat itu memberikan perintah untuk berhenti mengikuti gaya Amerika dan tidak mencukur atau memotong janggut siapa pun.
Selama masa kekuasaan pertama Taliban dari tahun 1996 hingga 2001, kelompok itu melarang gaya rambut pendek dan memaksa pria menumbuhkan janggut.
Banyak tukang cukur di Afghanistan mengatakan bisnis mereka menjadi sulit semenjak pengambilalihan kekuasaan negara itu oleh kelompok Taliban pada 15 Agustus lalu.
“Selama bertahun-tahun, salon saya menjadi tempat bagi kaum muda untuk bercukur sesuai keinginan mereka dan tampil trendi,” kata salah satu tukang cukur yang tidak ingin disebutkan namanya.
“Tidak ada gunanya melanjutkan bisnis ini,” tambahnya.
Larangan mencukur janggut dan rambut menyebabkan beberapa tukang cukur di Afghanistan kesulitan karena warga di negara itu hanya memiliki sedikit uang dan terlalu takut dihukum karena memotong pendek rambutnya, dilansir dari France24 pada Rabu (22/9/2021).
Seorang tukang cukur di Afghanistan, Nader Shah, mengungkapkan perubahan kebiasan pria di negara itu dalam memotong rambut.
“Sebelumnya, orang-orang datang dan meminta gaya rambut yang berbeda, tapi sekarang tidak seperti itu lagi,” kata Shah di toko tukang cukurnya.
“Sekarang mereka patah hati,” tambahnya.
Saat Taliban digulingkan pada 2001 lalu, bercukur bersih sering dianggap sebagai tanda modernitas, termasuk di kota barat Herat yang relatif kosmopolitan.
Baca juga: Membersihkan Toilet Jadi Satu-satunya Pekerjaan yang Boleh Dilakukan Wanita Afghanistan oleh Taliban
“Sekarang orang datang ke sini dan mereka hanya meminta potongan sederhana,” ungkap Shah.
“Mereka juga tidak mencukur janggut mereka, jadi itu masalah sekarang,”
Nader Shah yang sudah menjalani pekerjaannya sebagai tukang cukur selama 15 tahun itu menyatakan adanya penurunan pendapatan hariannya dari Rp 213 ribu menjadi sekitar Rp 71 ribu hingga Rp 113 ribu saja.
Hal serupa juga diungkapkan Mohammad Yousefi, yang harus menurunkan tarif jasanya hingga hanya berkisar Rp 14 ribu.
“Karena situasi (pemerintahan) Taliban, pelanggan memiliki pendapatan lebih sedikit dan mereka membayar kami lebih sedikit,” katanya.
Yousefi mengatakan sejak Taliban menguasai negara itu, banyak orang ingin terlihat seperti kelompok itu.
“Itu bukan berarti Taliban modis, tetapi orang-orang (memilih) tidak mencukur janggut mereka karena Taliban akan berhenti dan menanyakan hal itu kepada mereka,” katanya.
“Mereka mengatakan itu (memotong janggut) tidak ada dalam hukum Syariah, dan laki-laki harus memiliki janggut dan rambut panjang,” tambahnya. (TribunWow.com/Alma Dyani P)
Berita terkait Konflik di Afghanistan lain