Breaking News:

Virus Corona

Pernah Mendominasi, Kenali Covid-19 Varian B.1.466.2 Asal Indonesia yang Masuk Daftar Pantau WHO

Covid-19 di Indonesia sudah mulai menurun setelah sempat mengalami lonjakan kasus yang sangat tinggi pada Juli lalu. 

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Lailatun Niqmah
KOMPAS.COM/HANDOUT
Ilustrasi Covid-19 atau Virus Corona. Varian asal Indonesia disebut pernah mendominasi di Indonesia sebelum varian Delta datang. 

TRIBUNWOW.COM - Covid-19 di Indonesia sudah mulai menurun setelah sempat mengalami lonjakan kasus yang sangat tinggi pada Juli lalu. 

Varian Delta dianggap sebagai satu di antara penyebab kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia dan mendominasi kasus Covid-19

Selain varian Delta, ternyata ada juga varian dari Virus Corona yang baru ditemukan di Indonesia yaitu B.1.466.2. 

“Sebelum varian delta masuk ke Indonesia, varian lokal asal Indonesia ini pernah mendominasi kasus Covid 19 di Indonesia," kata Sugiyono Saputra yang merupakan peneliti sekaligus Ketua Tim WGS SARS-CoV-2, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang dikutip dari situs resmi LIPI

Baca juga: Covid-19 Disebut Bisa Turunkan Kadar Testosteron Pria yang Sakit Parah, Ini Faktanya

Baca juga: Tips Isolasi Mandiri Covid-19: Kenali 8 Buah Terbaik untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh

Namun, dia mengonfirmasi jika lonjakan kasus yang terjadi di Indonesia kemarin didominasi oleh varian Delta. 

Dalam data yang dimiliki LIPI, 95 persen merupakan varian Delta dan sisanya adalah varian Alfa dan varian lokal Indonesia. 

"Dari penelitian yang kami lakukan di laboratorium BSL 3 LIPI, dengan melakukan pengambilan sampel selama delapan hari terhitung dari tanggal 10 hingga 18 juni 2021, ditemukan hampir 100% adalah varian Delta," ujarnya.

Hal itu memang karena sifat varian Delta yang bisa lebih cepar menular dan menularkan kepada banyak orang. 

Terkait dengan varian B.1.466.2 asal Indonesia, dia juga menjelaskan akan terus melakukan pemantauan.

"Karena secara genetik varian ini dimungkinkan tingkat penularan yang tinggi di masyarakat atau berpotensi menyebabkan penurunan efektifitas vaksin dan terapi obat," katanya.

"Akan tetapi sampai saat ini, bukti ilmiah terkait efek secara epidemiologi atau bukti ilmiah yang menunjukan langsung efek dari mutasi yang terjadi belum ada."

Baca juga: Sejak Dosis Pertama, Penelitian Sebut Vaksin Covid-19 Berpengaruh Positif terhadap Kesehatan Mental

"Varian lokal saat ini kasusnya tidak banyak dan sampai saat ini varian delta lebih berbahaya dan lebih mendominasi,” jelas Sugiyono.

Alerts for Further Monitoring

Dalam situs pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) varian baru Covid-19, varian B.1.466.2 tercatat pertama kali ditemukan pada November 2020. 

Kemudian WHO menetapkan varian tersebut sebagai Alerts for Further Monitoring pada bulan April lalu.

Adapun definisi dari  Alerts for Further Monitoring adalah Varian SARS-CoV-2 dengan perubahan genetik yang diduga mempengaruhi karakteristik virus dengan beberapa indikasi bahwa hal itu dapat menimbulkan risiko di masa depan.

Tetapi bukti dampak fenotipik atau epidemiologis saat ini tidak jelas, memerlukan pemantauan yang ditingkatkan dan penilaian ulang sambil menunggu bukti baru.

Hingga kini ada 11 termasuk varian B.1.466.2 yang masuk dalam kategori tersebut. 

Selain kategori tersebut, varian yang diaggap menarik akan masuk ke dalam variant of intersest (VOI) di mana mereka akan mulai diberi label berdasarkan alphabet Yunani. 

Kemudian varian yang diduga akan membuat masalah yang lebih serius akan naik tingkat ke variant of concern (VOC) dan kini empat varian yaitu Aplha, Beta, Gamma, dan Delta yang masuk ke dalam kategori tersebut. 

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved