Virus Corona
Selain Badai Sitokin, Waspadai Juga Happy Hipoxia saat Isoman Covid-19, Kenali Tanda dan Gejalanya
Happy hypoxia merupakan gambaran dari masalah pernapasan yang terjadi tanpa gejala klinis seperti sesak napas atau bahkan tanpa terasa.
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Infeksi Covid-19 memang bisa menyebabkan masalah pada paru-paru dan menimbulkan gangguan pernapasan.
Masalah yang perlu diperhatikan adalah happy hypoxia atau silent hypoxia.
Dilansir dari Very Well Health, Happy hypoxia merupakan gambaran dari masalah pernapasan yang terjadi tanpa gejala klinis seperti sesak napas atau bahkan tanpa terasa.
Baca juga: Selain Teknik Proning, Ini 3 Cara Lain untuk Tingkatkan Saturasi Oksigen saat Isoman Covid-19
Baca juga: Tak Ada Oximeter saat Isolasi Mandiri Covid-19, Simak Cara Menghitung Saturasi Oksigen secara Manual
Jadi pasien Covid-19 sering kali merasa bahwa dirinya baik-baik saja.
Fenomena ini memang sudah lama dikenal, tapi kembali populer karena diketahui sejumlah pasien Covid-19 mengalaminya.
Sekitar satu dari lima orang yang harus dirawat di rumah sakit karena Covid-19 dilaporkan adakan mengalami happy hypoxia.
Manny Gonzalez-Brito, DO, seorang dokter anak yang banyak menangani happy hypoxia, mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi karena alasan khas penyakit pernapasan dan karena virus itu sendiri.
"Cara Virus Corona dan setiap virus pernapasan secara dominan mengubah kadar oksigen darah Anda adalah dengan menyebabkan peradangan di paru-paru," ujarnya.
"Anda tidak dapat dengan mudah memasukkan udara ke kantung udara Anda dan darah yang dialirkan melalui paru-paru Anda tidak mendapatkan udara yang Anda hirup."
"Sekarang kami juga menemukan, dengan Covid-19, bahwa ada mekanisme lain [yang] ini bisa terjadi."
Baca juga: Simak Tips dari Dokter untuk Atasi Sesak dan Mudah Lelah Pasca Isolasi Mandiri Covid-19
Dalam sebuah studi baru-baru ini tentang fenomena tersebut, para peneliti di Boston University di Boston, Massachusetts, menyimpulkan bahwa ada tiga faktor yang berkontribusi.
Studi tersebut dilakukan pada bulan September 2020 dan kini telah diterbitkan di Nature Communications.
Mereka menilai bahwa kemungkinan penyebab hipoksia bahagia adalah campuran dari:
1. Emboli paru
2. Ketidakcocokan ventilasi-perfusi pada paru-paru yang tidak cedera