Breaking News:

Tips Kesehatan

Awal Mula Munculnya Mitos Micin Bisa Bikin Bodoh dan Buruk bagi Kesehatan, Cek Fakta Sebenarnya

Micin atau Monosodium glutamat (MSG) merupakan penyedap rasa yang banyak digunakan di Indonesia. Bernarkah micin bisa bikin bodoh?

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Lailatun Niqmah
Istimewa
Penyedap rasa masakan atau MSG. Meski banyak digunakan, micin pernah memiliki reputasi buruk sebagai penyedap makanan, micin dianggap dapat berpengaruh kepada otak dan buruk bagi kesehatan.  

TRIBUNWOW.COM - Micin atau Monosodium glutamat (MSG) merupakan penyedap rasa yang banyak digunakan di Indonesia. 

Hampir setiap masakan yang berharap rasa gurih akan menggunakannya. 

Micin  juga banyak terkandung di berbagai jenis makanan instan dan makanan kemasan.

Meski banyak digunakan, micin pernah memiliki reputasi buruk sebagai penyedap makanan, micin dianggap dapat berpengaruh kepada otak dan buruk bagi kesehatan. 

Baca juga: Micin Bisa Bikin Bodoh? Ini Alasan Orang Berpikir Begitu dan Bagaimana Efek MSG bagi Kesehatan

Baca juga: Jaga Kesehatan Paru-paru saat Terinfeksi Covid-19, Coba 10 Makanan Ini saat Isolasi Mandiri

Bahka di Indonesia sempat dikenal dengan istilah generasi micin yang berkonotasi sebagai generasi yang malas atau bodoh.

Tetapi itu tidak hanya terjadi di Indonesia, banyak orang di berbagai negara yang menganggap micin tidak baik bagi kesehatan.

Micin atau MSG adalah garam natrium dari asam amino umum asam glutamat yang sebenarnya secara alami ada dalam tubuh kita.

Melansir Discover Magazine, MSG memiliki reputasi buruk karena sindrom restoran China yang muncul pertama kali di Amerika Serikat. 

Sebuah surat tentang 'sindrom restoran Cina' yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada tahun 1968, memicu kekhawatiran tentang konsumsi MSG.

Penulis, yang diidentifikasi sebagai Robert Ho Man Kwok, melaporkan merasa mati rasa di bagian belakang lehernya dan kelemahan umum setelah makan di restoran Cina di Amerika Serikat kala itu.

Dia juga menulis bahwa kemungkinan penyebabnya adalah MSG yang ditambahkan ke piring.

Daftar gejala yang diduga terkait dengan MSG tumbuh dalam dekade berikutnya termasuk sakit kepala, berkeringat, mual dan nyeri dada.

Padahal di tahun-tahun itu MSG sedang populer di AS. 

Baca juga: Baiknya Hindari Konsumsi Ini saat Isolasi Mandiri Covid-19, Ini 6 Makanan yang Bisa Picu Peradangan

Karena MSG sangat efisien sebagai penyedap rasa, pada tahun 1969, AS memproduksi 58 juta pon MSG per tahun dan memasukkannya ke dalam makan malam TV, sereal, bumbu, dan banyak lagi.

Reputasi buruk MSG tidak berhenti sampai di situ, ada isu juga tentang bagaimana pemilik restoran China menggunakan aditif di bahan makanannya.

Di New York, otoritas kesehatan meminta produsen makanan China untuk membatasi kadar MSG dengan sangat rendah. 

Sedangkan produsen makanan lain tidak mendapat instruksi yang sama.

Meski nama sindrom tersebut terkesan menyudutkan satu pihak dan banyak dikritik ahli kesehatan, penelitian yang menggunakan nama tersebut masih tetap berlanjut.

"Saran tersebut akhirnya diabaikan dan sebagian besar penelitian terus berlanjut. Merujuk pada reaksi terkait MSG sebagai sindrom restoran China hingga tahun 1980-an," tulis Ian Mosby, seorang sejarawan makanan di Universitas York, dalam makalah Sejarah Kedokteran Sosial.

Melansir The Guardian, hal tersebut diperparah dengan temuan Dr John Olney di Universitas Washington.

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved