Konflik di Afghanistan
Kondisi Afganistan setelah Taliban Mengambil Alih Pemerintahan, Warga: Saya Berharap Pergi
Kelompook Taliban telah menguasai pemerintahan Afganistan beberapa jam setelah Amerika Serikat memutuskan menarik mundur tentaranya.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM - Kelompok Taliban telah menguasai pemerintahan Afganistan beberapa jam setelah Amerika Serikat memutuskan menarik mundur tentaranya, Minggu (15/8/2021).
Kekacauan sempat terjadi ketika sejumlah warga berbondong-bondong berusaha meninggalkan negaranya.
Dikhawatirkan dengan kembali berkuasanya Taliban, maka peraturan konservatif akan kembali dicanangkan.

Baca juga: Belum Pulang ke Afganistan, Ternyata Ini yang Buat Mantan Pemain Persib Bandung Masih di Indonesia
Baca juga: Taliban Klaim Bertanggung Jawab Atas Penyerangan Hotel Mewah di Kabul, Afghanistan
Dilansir Aljazeera.com, Senin (16/8/2021), sejumlah foto beredar memperlihatkan kepanikan masyarakat setelah mengetahui berkuasanya kembali Taliban.
Apalagi, ketika Presiden Afganistan Ashraf Gani justru memutuskan untuk kabur.
Sehari setelahnya, tampak seorang pemilik dari salon kecantikan menghapus gambar wanita di jendela mereka, sesuatu yang tidak akan diizinkan dipasang ketika pemerintahan Taliban berkuasa sekitar tahun 1996-2001.
Namun sejauh ini, kelompok itu sendiri tampaknya belum melakukan tindakan untuk melarang apa pun yang mungkin bertentangan dengan keyakinan konservatif mereka.
Gym masih memiliki gambar pria bertelanjang dada berotot, poster rumah sakit seorang dokter wanita India juga masih tidak tersentuh.
Baca juga: Kisah Nyata Timothy Week, Ditahan Taliban Selama 3 Tahun namun Tak Pernah Simpan Dendam
Gambar Abdul Razeq, kepala polisi Kandahar yang sangat dibenci oleh Taliban, tidak diturunkan.
Begitu pula spanduk dan bendera untuk memperingati Ashoura – hari libur Muslim dengan arti khusus bagi sekte Syiah.
Seiring berlalunya hari, semakin banyak orang mulai keluar di jalan-jalan kota, termasuk wanita, dan restoran serta toko mulai dibuka kembali.
Jalanan mulai penuh, dan para wanita terlihat keluar dengan pakaian normal bukannya memakai burqa seperti yang dulunya dipaksakan pemerintah Taliban.
Ehsan Habib, yang pernah tinggal di Teluk Persia, Eropa dan Iran, mengatakan bahwa pidato tentang jaminan terhadap keamanan saja tidak akan menenangkan pikirannya.
Dia yang saat datang ke sebuah gerbang di lingkungan Wazir Akbar Khan, berharap untuk dapat berbicara dengan kedutaan Kanada.
Tetapi pejuang Taliban yang berjaga di sana mengatakan kepadanya bahwa kedutaan telah ditutup.