Virus Corona
Gejala Anosmia Juga Sering Terjadi saat Flu Biasa, Berikut Bedanya dengan Infeksi Covid-19
Anosmia atau kehilangan fungsi indra penciuman menjadi gejala umum pada pasien yang terinfeksi Covid-19.
Editor: Elfan Fajar Nugroho
7. Faktor Usia
Orang tua biasanya akan mengalami pelemahan sistem saraf.
Salah satunya adalah kerusakan saraf yang bertugas mengirim sinyal aroma ke bagian otak. Ini bisa menjadi penyebab anosmia.
8. Aneurisma Otak
Aneurisma adalah kondisi dengan penemuan sumbatan pada bagian pembuluh darah di otak yang berbentuk seperti balon.
Pengidap aneurisma pada otak juga berisiko mengalami masalah penciuman.
9. Pengaruh Antibiotik
Penggunaan antibiotik yang terlalu banyak juga berisiko dapat melemahkan saraf yang bekerja untuk bagian hidung dan biasanya juga disertai dengan gangguan telinga.
Kondisi ini menjadi pemicu anosmia.
Jadi, kamu harus tetap waspada dengan efek samping antibiotik, ya.
10. Malnutrisi
Kekurangan nutrisi bisa membuat semua saraf dan sistem metabolisme tubuh tidak berjalan dengan baik.
Hal ini menyebabkan seseorang tidak bisa mencium aroma tertentu dan berisiko mengalami anosmia.
Apakah Anosmia Bisa Sembuh Sendiri?
Penderita anosmia bawaan tidak akan bisa mencium bau seumur hidupnya.
Saat ini, belum ada penyembuh atau pengobatan untuk anosmia bawaan.
Namun, jenis anosmia lainnya bisa diobati ketika kondisi utama penyebabnya telah diobati.
Pengobatan yang dapat membantu Anda mengatasi anosmia adalah:
- Semprotan hidung steroid
- Antihistamin
- Tablet steroid
- Operasi untuk mengangkat polip hidung
- Operasi untuk meluruskan septum hidung
- Operasi untuk membersihkan sinus, disebut operasi endoskopik sinus (ESS)
Anda juga bisa menggunakan obat-obatan yang berfokus pada kondisi penyebab dari anosmia itu sendiri.
Misalnya dengan mengonsumsi obat-obatan flu sebagai cara mengembalikan penciuman saat terkena flu.
Beda Anosmia Akibat Flu dan Covid-19
Berikut bedanya anosmia yang menjadi gejala COVID-19 dengan gejala flu biasa:
1.Muncul Secara Tiba-tiba
Hal pertama yang membedakan anosmia yang menjadi gejala COVID-19 dengan flu adalah anosmia akibat COVID-19 cenderung muncul secara tiba-tiba dan parah.
Gejala anosmia biasanya muncul sekitar 2-14 hari setelah terpapar virus corona. Namun, gejala tersebut biasanya terjadi secara tiba-tiba meskipun kamu tidak mengalami masalah dalam bernapas.
Sementara pada kasus flu, anosmia biasanya diawali dengan hidung meler atau tersumbat yang bisa menghilangkan kemampuan penciuman kamu.
2.Disertai dengan Gejala Dysgeusia
Selain itu, anosmia yang terjadi akibat virus corona juga cenderung parah.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Rhinology yang mencoba mencari perbedaan antara anosmia pada COVID-19 dan pilek, meneliti kemampuan penciuman dan pengecapan pada 10 pasien COVID-19, 10 pasien flu atau pilek, dan 10 orang sehat. Hasilnya adalah hilangnya fungsi penciuman pada pasien COVID-19 lebih parah.
Anosmia pada pengidap COVID-19 juga disertai dengan gejala dysgeusia, yaitu hilangnya kemampuan indra pengecap dalam merasakan makanan, khususnya membedakan rasa pahit dan manis.
Sementara itu pada pasien pilek, menurunnya kemampuan indera pengecap tidak terjadi.
Hanya sedikit pasien pilek yang mengalami penurunan fungsi indra pengecap, namun mereka masih bisa membedakan rasa pahit dan manis.
Para ahli menduga gejala dysgeusia pada pasien COVID-19 terjadi karena virus corona memengaruhi sel-sel saraf yang terlibat langsung dengan sensasi penciuman dan rasa.
3. Bukan Disebabkan oleh Hidung Tersumbat
Perbedaan lain antara anosmia pada COVID-19 dan pilek adalah hilangnya indra penciuman pada saat flu disebabkan karena hidung dan saluran napas tersumbat.
Sementara anosmia yang terjadi pada pengidap COVID-19 dikaitkan dengan sistem saraf pusat.
Profesor Carl Philpott dari University of East Anglia’s Norwich Medical School sekaligus ketua dari studi tersebut mengungkapkan bahwa virus corona sebelumnya sudah diketahui bisa memengaruhi sistem saraf pusat berdasarkan tanda-tanda neurologis yang dikembangkan oleh beberapa pasien.
Penyakit tersebut mirip dengan SARS yang dilaporkan bisa masuk ke otak melalui reseptor bau di hidung.
Jadi, anosmia yang terjadi pada beberapa pengidap COVID-19 diduga berkaitan dengan pengaruh virus tersebut pada sistem saraf pusat.
Itulah perbedaan antara anosmia yang menjadi gejala COVID-19 dengan flu biasa.
Selain kehilangan bau dan rasa, gejala utama COVID-19 lainnya yang bisa muncul adalah demam tinggi, dan batuk terus menerus.
Jadi, bila kamu mengalami gejala tersebut, lakukan tes COVID-19 untuk memastikan diagnosis.
Sementara menunggu hasil tes, kamu juga dianjurkan untuk mengisolasi diri guna mencegah penyebaran virus.(TribunPontianak.com)
Baca Artikel Terkait Covid-19 Lainnya
Artikel ini telah tayang di TribunPontianak.com dengan judul APAKAH Penyakit Anosmia Bisa Sembuh Sendiri ? Ini Cara Mengatasi Anosmia Saat Flu