Breaking News:

Virus Corona

Gejala Anosmia Juga Sering Terjadi saat Flu Biasa, Berikut Bedanya dengan Infeksi Covid-19

Anosmia atau kehilangan fungsi indra penciuman menjadi gejala umum pada pasien yang terinfeksi Covid-19.

FREEPIK/KARLYUKAV via Kompas.com
Ilustrasi seseorang mengalami anosmia atau kehilangan fungsi penciuaman dan perasa. Gejala Anosmia Juga Sering Terjadi saat Flu Biasa, Berikut Bedanya dengan Infeksi Covid-19 

TRIBUNWOW.COM - Anosmia menjadi gejala umum pada pasien yang terinfeksi Covid-19.

Anosmia sendiri merupakan sebuah kondisi di mana seseorang kehilangan fungsi indra penciuman ataupun perasa.

Namun yang perlu menjadi perhatian adalah, gejala anosmia bukan hanya terjadi karena Covid-19 saja.

Baca juga: Apakah Benar Golongan Darah A Disebut Rentan Terinfeksi Covid-19, Simak Penjelasannya

Baca juga: Bahaya Covid-19 saat Sudah Menyerang Paru-paru, Kenali 5 Gejalanya, Termasuk Batuk Terus-menerus

Secara medis, gejala anosmia disebabkan oleh kondisi hidung atau cedera otak, tetapi sebagian orang terlahir tanpa indra penciuman (anosmia bawaan).

Selain untuk mendeteksi bau, hidung juga memengaruhi kemampuan Anda untuk mendeteksi bahaya dan merasakan makanan.

Misalnya ketika mencium bau makanan atau gas bocor.

Indra penciuman seseorang didorong oleh proses tertentu.

Awalnya, molekul yang dilepaskan dari suatu zat (seperti aroma dari bunga) harus merangsang sel-sel saraf khusus (disebut sel olfactory atau penciuman) yang terdapat di hidung bagian atas.

Sel-sel saraf ini kemudian mengirimkan informasi ke otak, di mana bau yang khas dikenali.

Apa pun yang mengganggu proses ini, seperti pilek, hidung tersumbat, atau kerusakan pada sel-sel saraf itu sendiri dapat menyebabkan hilangnya indra penciuman.

Baca juga: Diklaim untuk Tangkal Covid-19, Ini Bahaya Mengoleskan Minyak Kayu Putih pada Masker Medis

Baca juga: Berikut 4 Fakta soal Covid-19 Varian Delta, Lebih Menarik Perhatian Dibanding Varian Baru Lambda

Penciuman Anda mungkin tidak setajam biasanya, atau bahkan hidung tidak bisa mencium bau sama sekali.

Kehilangan daya penciuman inilah yang sering disebut dengan anosmia.

Secara umum, kemampuan untuk membaui juga memengaruhi kemampuan untuk merasa.

Tanpa indra penciuman, indra perasa pada lidah hanya dapat mendeteksi beberapa rasa. Hal ini dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang.

Jika tiba-tiba Anda tidak bisa mencium bau alias kehilangan indra penciuman dan tidak mengetahui penyebabnya, segera kunjungi dokter.

Dokter mungkin bisa mendiagnosis penyebab dasarnya dan menawarkan pengobatan untuk mengembalikan indra penciuman Anda.

Penyebab Anosmia

Terlihat sepele, tetapi kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan seseorang.

Hal tersebut dapat memicu penurunan nafsu makan yang berujung pada penurunan berat badan, bahkan depresi.

Dilansir dari halodoc, Ini beberapa penyebab anosmia yang perlu diketahui:

1. Penyakit Flu

Penyebab anosmia yang pertama adalah penyakit flu.

Hampir setiap orang pernah terkena influenza.

Penyakit ini disebabkan adanya infeksi virus influenza yang menyerang, terutama organ pernapasan.

Saat mengalaminya, hidung yang tersumbat akan menghasilkan lendir yang berlebihan, sehingga membuat tidak bisa mencium aroma dengan baik.

Saat kondisi tubuh mulai membaik, ketidakpekaan terhadap bau ini akan pulih.

Baca juga: Alami Anosmia saat Isolasi Mandiri? Berikut 2 Bahan Alami untuk Kembalikan Indra Penciuman

2. Sinusitis Akut

Penyebab anosmia selanjutnya adalah sinusitis akut.

Akibat sinusitis, rongga di sekitar hidung mengalami peradangan dan pembengkakan.

Kondisi ini bisa merusak saraf dan indera penciuman dan juga bisa menyebabkan anosmia.

3. Rinitis (alergi)

Rinitis akibat alergi pada berbagai rangsangan juga bisa menyebabkan anosmia.

Alergi terhadap dingin misalnya dapat membuat hidung meler dan tekanan pada rongga hidung dan saraf di sekitar hidung bisa memicu anosmia.

4. Kelainan Tulang Hidung

Kelainan tulang hidung berupa tulang septum yang tidak lurus akan menghalangi aliran udara ke dalam hidung.

Akibatnya, bau yang berasal dari luar tidak sampai ke bagian hidung, sehingga saraf tidak bisa mengirimkan sinyal ke otak.

Ketidakmampuan mencium bau ini adalah pertanda anosmia.

Bukankah pengertian anosmia itu sendiri adalah ketidakmampuan mengenali bau?

5. Polip Hidung

Polip hidung menjadi penyebab anosmia selanjutnya.

Pertumbuhan polip bisa menghambat aliran udara, sehingga hidung kehilangan fungsi mencium berbagai jenis aroma.

6. Kerusakan Otak atau Saraf

Kerusakan saraf karena penuaan, penyakit seperti kanker otak atau darah tinggi juga bisa menyebabkan gangguan saraf pada hidung.

Ini bisa mengakibatkan si pengidap menjadi tidak bisa mencium aroma tertentu.

Selain itu, kerusakan saraf juga bisa terjadi pada orang yang mengalami kecelakaan atau trauma.

7. Faktor Usia

Orang tua biasanya akan mengalami pelemahan sistem saraf.

Salah satunya adalah kerusakan saraf yang bertugas mengirim sinyal aroma ke bagian otak. Ini bisa menjadi penyebab anosmia.

8. Aneurisma Otak

Aneurisma adalah kondisi dengan penemuan sumbatan pada bagian pembuluh darah di otak yang berbentuk seperti balon.

Pengidap aneurisma pada otak juga berisiko mengalami masalah penciuman.

9. Pengaruh Antibiotik

Penggunaan antibiotik yang terlalu banyak juga berisiko dapat melemahkan saraf yang bekerja untuk bagian hidung dan biasanya juga disertai dengan gangguan telinga.

Kondisi ini menjadi pemicu anosmia.

Jadi, kamu harus tetap waspada dengan efek samping antibiotik, ya.

10. Malnutrisi

Kekurangan nutrisi bisa membuat semua saraf dan sistem metabolisme tubuh tidak berjalan dengan baik.

Hal ini menyebabkan seseorang tidak bisa mencium aroma tertentu dan berisiko mengalami anosmia.

Apakah Anosmia Bisa Sembuh Sendiri?

Penderita anosmia bawaan tidak akan bisa mencium bau seumur hidupnya.

Saat ini, belum ada penyembuh atau pengobatan untuk anosmia bawaan.

Namun, jenis anosmia lainnya bisa diobati ketika kondisi utama penyebabnya telah diobati.

Pengobatan yang dapat membantu Anda mengatasi anosmia adalah:

- Semprotan hidung steroid
- Antihistamin
- Tablet steroid
- Operasi untuk mengangkat polip hidung
- Operasi untuk meluruskan septum hidung
- Operasi untuk membersihkan sinus, disebut operasi endoskopik sinus (ESS)

Anda juga bisa menggunakan obat-obatan yang berfokus pada kondisi penyebab dari anosmia itu sendiri.

Misalnya dengan mengonsumsi obat-obatan flu sebagai cara mengembalikan penciuman saat terkena flu.

Beda Anosmia Akibat Flu dan Covid-19

Berikut bedanya anosmia yang menjadi gejala COVID-19 dengan gejala flu biasa:

1.Muncul Secara Tiba-tiba

Hal pertama yang membedakan anosmia yang menjadi gejala COVID-19 dengan flu adalah anosmia akibat COVID-19 cenderung muncul secara tiba-tiba dan parah.

Gejala anosmia biasanya muncul sekitar 2-14 hari setelah terpapar virus corona. Namun, gejala tersebut biasanya terjadi secara tiba-tiba meskipun kamu tidak mengalami masalah dalam bernapas.

Sementara pada kasus flu, anosmia biasanya diawali dengan hidung meler atau tersumbat yang bisa menghilangkan kemampuan penciuman kamu.

2.Disertai dengan Gejala Dysgeusia

Selain itu, anosmia yang terjadi akibat virus corona juga cenderung parah.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Rhinology yang mencoba mencari perbedaan antara anosmia pada COVID-19 dan pilek, meneliti kemampuan penciuman dan pengecapan pada 10 pasien COVID-19, 10 pasien flu atau pilek, dan 10 orang sehat. Hasilnya adalah hilangnya fungsi penciuman pada pasien COVID-19 lebih parah.

Anosmia pada pengidap COVID-19 juga disertai dengan gejala dysgeusia, yaitu hilangnya kemampuan indra pengecap dalam merasakan makanan, khususnya membedakan rasa pahit dan manis.

Sementara itu pada pasien pilek, menurunnya kemampuan indera pengecap tidak terjadi.

Hanya sedikit pasien pilek yang mengalami penurunan fungsi indra pengecap, namun mereka masih bisa membedakan rasa pahit dan manis.

Para ahli menduga gejala dysgeusia pada pasien COVID-19 terjadi karena virus corona memengaruhi sel-sel saraf yang terlibat langsung dengan sensasi penciuman dan rasa.

3. Bukan Disebabkan oleh Hidung Tersumbat

Perbedaan lain antara anosmia pada COVID-19 dan pilek adalah hilangnya indra penciuman pada saat flu disebabkan karena hidung dan saluran napas tersumbat.

Sementara anosmia yang terjadi pada pengidap COVID-19 dikaitkan dengan sistem saraf pusat.

Profesor Carl Philpott dari University of East Anglia’s Norwich Medical School sekaligus ketua dari studi tersebut mengungkapkan bahwa virus corona sebelumnya sudah diketahui bisa memengaruhi sistem saraf pusat berdasarkan tanda-tanda neurologis yang dikembangkan oleh beberapa pasien.

Penyakit tersebut mirip dengan SARS yang dilaporkan bisa masuk ke otak melalui reseptor bau di hidung.

Jadi, anosmia yang terjadi pada beberapa pengidap COVID-19 diduga berkaitan dengan pengaruh virus tersebut pada sistem saraf pusat.

Itulah perbedaan antara anosmia yang menjadi gejala COVID-19 dengan flu biasa.

Selain kehilangan bau dan rasa, gejala utama COVID-19 lainnya yang bisa muncul adalah demam tinggi, dan batuk terus menerus.

Jadi, bila kamu mengalami gejala tersebut, lakukan tes COVID-19 untuk memastikan diagnosis.

Sementara menunggu hasil tes, kamu juga dianjurkan untuk mengisolasi diri guna mencegah penyebaran virus.(TribunPontianak.com)

Baca Artikel Terkait Covid-19 Lainnya

Artikel ini telah tayang di TribunPontianak.com dengan judul APAKAH Penyakit Anosmia Bisa Sembuh Sendiri ? Ini Cara Mengatasi Anosmia Saat Flu

Tags:
Virus CoronaCovid-19anosmiaFluIndra Penciuman
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved