Perpres Investasi Miras
Singgung Citra Bangsa Mayoritas Muslim jika Ekspor Miras, Refly Harun: Siapa Otak di Balik Ini?
Refly Harun menanggapi sempat munculnya perpres yang mengizinkan investasi industri minuman keras (miras), sebelum akhirnya dicabut.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Mohamad Yoenus
Jika dikonsumsi secukupnya, arak atau tuak justru akan menyehatkan.
"Bahkan para tetua kami di Bali menjadikan arak sebagai minuman yang menyehatkan kehidupannya dengan mengonsumsi secara terbatas," ungkap politikus PDIP ini.
"Bukan untuk mabuk," tegasnya.
Baca juga: Demi Kesehatan, Gubernur Bali Pro Perpres Investasi Miras: Saya Sekarang Minum Arak dengan Kopi
Koster memberi contoh konsumsi miras itu dilakukan sebelum berkegiatan sehari-hari.
"Jadi sebelum berkebun, minum. Mau tidur, (minum) setengah sloki, satu sloki maksimum," papar gubernur petahana tersebut.
"Itu orang akan menjadi sehat," ungkapnya.
Koster mengungkapkan dukungannya untuk meregulasi produksi minuman beralkohol.
Menurut dia, hal yang dilarang adalah konsumsi berlebihan.
"Yang tidak boleh itu mengkonsumsi secara bebas dan menjual secara bebas dengan mengakibatkan dampak negatif bagi masyarakat," terang Koster.
Dikutip dari Kompas.com, perizinan investasi miras ini akan berlaku di Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua.
Perizinan diberikan dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat.
Penanaman modal pembuatan minuman alkohol di luar empat provinsi itu dapat ditetapkan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal atas usulan gubernur.
Selain itu, investasi ini juga berlaku untuk pabrik pembuatan minuman anggur dan minuman yang mengandung malt. (TribunWow.com/Brigitta)