Terkini Daerah
Curhat Siswi Non-Muslim di Padang yang Diminta Pakai Jilbab sejak SD: Saya Gak Terpaksa Lagi Kok Pak
Siswa SMK Negeri 2 Padang, Eka Maria Putri Waruhu memberi kesaksian soal aturan pemakaian jilbab bagi siswi non-muslim.
Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Seorang siswa SMK Negeri 2 Padang, Eka Maria Putri Waruhu memberi kesaksian soal aturan pemakaian jilbab bagi siswi non-muslim.
Meski beragama Kristen Protestan, Eka Maria mengaku sudah terbiasa memakai jilbab saat sekolah.
Bahkan, hal itu sudah dilakukannya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Hal tersebut diungkapkan Eka Maria dalam kanal YouTube Kompas TV, Senin (25/1/2021).

Baca juga: Anggap Aturan Jilbab bagi Siswi Non-muslim Masalah Kecil, Eks Walikota Padang: Mereka Merdeka
Baca juga: Aturan Jilbab bagi Siswi Non-Muslim Dibuat Periodenya, Eks Walikota Padang: Saya Pelatih Tentara
Selain Eka, ada siswi non-muslim lain di SMKN 2 Padang yang juga memakai jilbab.
Ia adalah Elizabet Anggelia Zega.

Siswi kelas 3 SMK itu mengaku tak pernah dipaksa memakai jilbab oleh pihak sekolah.
"Angel pribadi ya, Angel ikuti peraturan dan ngikuti teman-teman aja," ucap Elizabet.
"Dan tidak ada unsur paksaan."
Selama ini, Elizabet menganggap jilbab yang dipakainya hanya sebagai atribut sekolah.
Ia pun sudah sejak SMP memakai jilbab.
"Iya seragam, atribut sekolah," ujar Elizabet.
"Sudah kelas 3 SMK, dan dari SMP juga pakai jilbab."
"Iya ikutin peraturan sih dan menyesuaikan, kita secara pribadi ya."
Baca juga: Pesta Narkoba di Bali, Selebgram yang Punya Followers di TikTok dan YouTube Ditangkap Polisi
Baca juga: Kasus Aturan Jilbab di SMKN 2 Padang, MUI Beri Kecaman: Yang Diskriminatif Melarang Keyakinannya
Elizabet mengatakan, peraturan sekolah memang mengharuskan semua siswi memakai jilbab.
Namun, menurutnya, tak ada unsur paksaan dalam aturan tersebut.
"Di peraturannya ada untuk kita memakai atribut dan jilbab juga, tapi enggak ada unsur paksaan," jelas Elizabet.
"Boleh, kita bisa mengusulkan secara pribadi."
"Kebetulan Angel ngikutin aja karena Angel merasa ini cuma atribut."
Berbeda dari Elizabet, Eka Maria mengaku sudah lebih lama memakai jilbab.
Ia mengatakan, sempat keberatan saat awal diminta memakai jilbab ke sekolah.
"Sejujurnya sih saya dari SD kelas 4, efektifnya dari SMP," kata Eka Maria.
"Saya sekolah negeri dari SD sampai SMA."
"Awalnya sih iya ya (keberatan), karena sudah terbiasa dengan lingkungan negeri kita menyesuaikan."
Kini, Eka Maria sudah terbiasa memakai jilbab di sekolah.
Karena itu, Eka Maria menyebut tak lagi merasa terpaksa memakai jilbab meski beragama Kristen Protestan.
"SD kan sudah tiga tahun pakai jilbab, sudah terbiasa, SMP pakai jilbab sampai SMA."
"Jadi kalau ditanya bermasalah tidak terlalu bermasalah karena sudah terbiasa dengan lingkungan."
"Awalnya tentu iya karena saya non-muslim, tapi karena sudah terbisa, lingkungan sekitar saya muslim dan diarahkan menggunakan hijab."
"Saya tidak terpaksa lagi kok," tukasnya.
Simak videonya berikut ini:
Tanggapan Eks Wali Kota Padang
Mantan Wali Kota (Walkot) Padang, Sumatera Barat, Fauzi Bahar buka suara soal kontroversi atura pemakaian jilbab untuk sisw non-muslim.
Sebagai orang yang membuat aturan tersebut, Fauzi mengaku sudah memiliki pengetahuan yang cukup untuk membentuk karakter siswi di Kota Padang.
Hal itu diungkapkannya seiring dengan kontroversi aturan pemakaian jilbab untuk siswa non-muslim di Kota Padang.

Baca juga: Menaker Ida Fauziyah Tak Rasakan Keluhan setelah Dinyatakan Positif Covid-19, Kini Isolasi Mandiri
Baca juga: Kasus Aturan Jilbab di SMKN 2 Padang, MUI Beri Kecaman: Yang Diskriminatif Melarang Keyakinannya
Seperti yang dituturkannya dalam kanal YouTube Apa Kabar Indonesia tvOne, Minggu (24/1/2021).
"Hanya ini miskomunikasi antara seorang wakil kepala sekolah dan wali murid," kata Fauzi.
"Dari sekian puluh ribu atau jutaan siswa sejak 2015 sampai sekarang, ini cuma terjadi satu per sejuta."
Fauzi mengatakan dari sekian banyak siswi non-muslim di Padang, hanya satu orang yang melayangkan protes.
Ia pun membantah kabar yang beredar soal banyaknya siswa non-muslim yang tak menerima aturan itu.
"Kalau disebutkan tadi 46 orang itu bohong, enggak semuanya," ujar Fauzi.
"Kalau segitu jumlah anak non-muslim iya, tapi yang protes cuma satu ini sesungguhnya."
Baca juga: Fakta soal Wajib Berjilbab di SMKN 2 Padang, Ternyata Aturan sejak 2005 yang Baru Diprotes Sekarang
"Saya juga menyarankan, saya orang pendidikan, orang hukum juga."
"Tapi Diknas sebenarnya menggali kearifan lokal ini," sambungnya.
Lebih lanjut, Fauzi mengklaim memiliki cukup pengetahuan untuk mendidik murid di Kota Padang.
Karena itu, ia menganggap aturan pemakaian jilbab itu sebagai kearigan lokal.
"Saya juga orang pendidikan, orang IKIP juga saya," ucap Fauzi.
"Bagaimana mendoktrin anak-anak itu, saya pelatih tentara juga soalnya."
"Ini kearifan lokal yang orang lain jangan dipukul rata dong."
Selama menerapkan aturan tersebut, Fauzi membantah jika pihaknya memaksa siswi non-muslim memakai jilbab.
Terkait hal itu, ia pun menyinggung toleransi yang dilakukan saat agama lain tertimpa musibah.
"Enggak pernah ada sanksi, kita ngerti masalah sara enggak boleh disentuh," jelasnya.
"Ketika 2009 gereja runtuh semua, 'Ayo bangun cepat, di mana jamaahmu semua? Di mana mereka mau kebaktian?'."
"Kita dorong juga supaya mereka mendapat fasilitas dan tempat ibadah yang sama." (TribunWow.com)