Terkini Daerah
Sekeluarga Asingkan Diri di Hutan karena Diejek Miskin, Tak Pernah Dapat Bansos meski Sudah Didata
Satu rumah tangga keluarga miskin hidup menderita di Tepi Hutan Desa Sipangko, Kecamatan Angkola Muaratais, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Satu rumah tangga keluarga kurang mampu yang juga lebih layak disebut keluarga miskin hidup menderita di Tepi Hutan Desa Sipangko, Kecamatan Angkola Muaratais, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Selain itu, keluraga tersebut juga kerap dihina dan tak pernah dapat Bantuan Sosial (Bansos).
Kini, satu keluarga memilih untuk mengasingkan diri di hutan.
Baca juga: Pembunuh Pegawai Bank di Bali Ditangkap, Pelaku Ternyata Remaja 14 Tahun dan Tetangga Korban
Hidup di atas garis kemiskinan membuat mereka selalu dipandang remeh dan dihina tetangga.
Meski hidup kekurangan, namun keluarga teresebut tidak pernah mendapatkan bantuan sosial (bansos).
Kepala keluarga hanya bekerja sebagai buruh panjat kelapa untuk menghidupi istri dan anaknya.
Dalam seminggu, ia hanya mampu mendapatkan penghasilan Rp 100 ribu.
Baca juga: Respons Pemprov DKI soal Pelarangan Kegiatan FPI, Riza Patria Mengaku Belum Bisa Menindak
Oloandi Pulungan berusia 32 tahun, kepala keluarga tersebut, dihubungi Tribun Medan, Selasa (29/12/2020) mengaku tak mampu lagi mengontrak di desa asalnya.
"Di kampung pun dulunya ngontrak, ini pun kita punya lahan di sini ada pondok punya paman," ujar Oloandi, Bapak beranak dua itu dibantu Azan Sinaga seseorang yang peduli keadannya dan mau meminjamkan sambungan telepon kepada Oloandi.
Cerita Oloandi, selama ini tidak pernah memperoleh bantuan sosial, meski sudah didata berkali-kali untuk penerima bantuan terdampak Covid-19.
Oloandi hingga kini belum juga memperoleh bantuan sosial.
Sehari-hari, Oloandi menghidupi Sila istrinya dan kedua anaknya menjadi buruh panjat kelapa, bertarung dengan gocangan angin.
Baca juga: Detik-detik Polisi Bunuh Diri seusai Tembak Istri dan Anak di Depok, Tetangga: Tiba-tiba Dar Der Dor
Selesai pada hidup serba kekurangan bukan saja yang dialami Oloandi.
Hal pahit harus diterima keluarga Oloandi, karena mereka dipandang remeh oleh para tetangga dengan kondisi ekonomi yang begitu lemah.
Tak tahan selalu dipandang rendah, Oloandi lantas memboyong anaknya ke Tepi Hutan Tapsel yang terkenal dengan Binatang Buas.