Breaking News:

Ramadan & Idul Fitri

Bagaimana Hukum Menjalankan Ibadah Puasa Ramadan saat Seorang Muslim Sakit? Baca Penjelasan Berikut

Setiap umat Muslim di Dunia wajib mengamalkan ibadah puasa selama 30 hari. Namun, bagaimana jika seseorang tidak menjalankan puasa karena sakit ?

Penulis: Mariah Gipty
Editor: Claudia Noventa
nptvt.com
Ilustrasi seseorang yang tengah mengalami sakit 

TRIBUNWOW.COM - Bulan Ramadan jatuh pada Senin (6/5/2019).

Setiap umat Muslim di dunia wajib mengamalkan ibadah puasa selama 30 hari.

Bagi umat Muslim yang tidak melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadan maka hukumnya haram kecuali wanita yang tengah mengalami haid atau nifas.

Namun, bagaimana jika seseorang tidak menjalankan puasa karena sakit ?

Hukum Menggosok Gigi di Siang Hari saat Bulan Puasa, Simak Penjelasannya

Menurut www.nur.or.id, Muslim yang tengah mengalami ujian sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Hal itu sesuai dengan perintah Allah Subhana Wataalla yang tercantunm pada Q.S Al Baqarah ayat 185 dan 286:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah:185)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

6 Tips Mengenalkan dan Mengajak Anak yang Baru Pertama Puasa Ramadan

Bahkan menurut laman resmi Nahdatul Ulama tersebut, orang yang sakit nekat berpuasa hingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kematian, hukumnya justru seperti orang yang bermaksiat.

Dalam kitab Kaasyifatus Sajaa yang diungkapkan oleh Syaikh Nawawi Banten, jika berpuasa bagi orang yang sakit dapat membahayakan suatu anggota badan, maka hukum puasa malah menjadi haram.

Namun, jika sakit yang diderita seorang Muslim terhitung ringan, seperti  seperti pusing kepala, telingga maupun gigi maka diharamkan untuk membatalkan puasa.

Puasa Ramadan 2019 Tak Lama Lagi, Ini Waktu Pelaksanaan dan 3 Keutamaan Salat Witir

اعلم أن للمريض ثلاثة أحوال فإن توهم ضررا يبيح له التيمم كره له الصوم وجاز له الفطر، فإن تحقق الضرر المذكور ولو بغلبة ظن وانتهى به العذر إلى الهلاك وذهاب منفعة عضو حرم عليه الصوم ووجب عليه الفطر، فإذا استمر صائما حتى مات مات عاصيا، فإن كان المرض خفيفا كصداع ووجع أذن وسن لم يجز الفطر، إلا أن يخاف الزيادة بالصوم

"Bila diduga adanya mudarat yang membolehkan bertayamum maka dimakruhkan berpuasa bagi orang yang sakit dan diperbolehkan baginya berbuka.

Bila mudarat yang diduga tersebut terwujud dengan dugaan yang kuat dapat menimbulkan kerusakan dan hilangnya manfaat suatu anggota badan maka haram berpuasa bagi orang tersebut dan wajib berbuka.

Bila ia tetap terus berpuasa sehingga meninggal dunia maka ia meninggal dalam keadaan bermaksiat.

Bila sakit yang diderita adalah sakit yang ringan seperti pusing, sakit telinga dan gigi maka tidak diperbolehkan berbuka kecuali bila dikhawatirkan akan bertambah sakitnya dengan berpuasa (lihat: Muhammad Nanawi Al-Bantani, Kaasyifatus Sajaa [Jakarta: Darul Kutub Al-Islamiyah, 2008], hal. 199). (Yazid Muttaqin).

(TribunWow.com)

WOW TODAY:

Tags:
Bulan RamadanPuasaMuslim
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved