Lebih lanjut, untuk strukturalnya, Waljid menerangkan jika anggota FSPRTMM- SPSI terdiri dari perwakilan para tenaga kerja di perusahaan industri SKT yang dinamakan Pimpinan Unit Kerja (PUK).
"Di FSPRTMM ini kan ada struktural, jadi ada serikat pekerja tingkat federasi, seperti di pengurusan kami ini."
"Kemudian anggota perusahaan itu kan ada namanya Pimpinan Unit Kerja (PUK) FSPRTMM PT apa gitu, kalau umumnya serikat pekerja tingkat perusahaan, itu kan juga ada pengurus-pengurusnya, mereka dipilih dari teman-teman pekerja di setiap perusahaannya, untuk mewakili teman-teman pekerja manakala ada perundingan dsb terkait dengan manajemen maupun pekerja," jelas Waljid.
Di mana, dalam pelaksaanannya, para anggota FSPRTMM selalu rutin mengadakan pertemuan satu bulan sekali.
Tujuannya untuk melakukan update anggota terkini, pembahasan permasalahan yang terjadi dan tentu saja untuk saling bersilaturahmi.
Sementara itu, untuk konsep pertemuannya dibuat secara bergantian dari satu perusahaan ke perusahaan anggota lainnya.
Konsep itu dilakukan agar para tenaga kerja (anggota FSPRTMM- SPSI-red) bisa saling mengetahui kondisi serta keadaan perusahaan tempat mereka bekerja satu sama lain.
"Mereka pasti nanti mengupdate data ke federasi, misal penambahan data atau penurunan mereka pasti melaporkan."
"Memang kita kan ada periodik setiap bulan selalu koordinasi dengan teman-teman pasti mereka selalu mengupdate, kita buat rolling bergantian supaya saling berkunjung," ungkapnya.
Di sisi lain, satu di antara pekerja industri SKT, Lalang Nur, menjelaskan tentang mekanisme penghitungan dan pembayaran upah para pekerja.
Lalang menjelaskan, mekanisme penghitungan dan pembayaran upah dilakukan dengan sistem borongan dalam kurun waktu satu pekan atau seminggu.
Lebih banyak produksi linting rokok SKT yang dihasilkan, lebih banyak pula uang yang akan didapatkan oleh para tenaga kerja.
"Mekanisme pembayaran dengan sistem satu minggu borongan, semakin banyak produksi semakin banyak uang yang dihasilkan," ungkap Lalang.
Selain itu, Lalang juga menyebutkan adanya jaminan kesehatan dan kerja yakni BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
"Selain mendapatkan upah, teman-teman juga dapat BPJS", jelasnya.
Putarkan Roda Ekonomi Masyarakat Sekitar
Bak peribahasa, ada gula ada semut, adanya industri SKT tentu saja bakal menumbuhkan banyak roda perekonomian di masyarakat sekitar.
Mengingat, banyaknya serapan tenaga kerja di industri SKT akan menjadi ladang usaha bagi masyarakat untuk membuat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Jenis-jenis UMKM yang turut muncul berkat adanya industri SKT di antaranya warung makanan minuman, lahan parkir, kos-kosan, jualan baju, laundri dan lain sebagainya.
"Memang, dimana disitu ada industri, pasti kan lingkungan industri sekitar ada pergerakan ekonominya, ada yang buka parkir, kantin, kos-kosan dan laundri," ungkap Waljid.
Senada dengan Waljid, Lalang juga mengungkapkan hal yang sama tentang manfaat adanya industri SKT bagi masyarakat sekitar selain serapan tenaga kerja.
Menurut Lalang, adanya industri SKT dapat memutarkan roda ekonomi masyarakat dengan ditandai banyaknya UMKM yang turut bermunculan.
Uniknya, pelaku UMKM bukan hanya berasal dari masyarakat sekitar saja.
Ada juga beberapa tenaga kerja SKT yang turut mencoba peruntungan untuk berbisnis sampingan di dalam industri seperti membuka kantin makanan dan minuman.
"Ada pegawai yang buka kantin dan juga munculnya UMKM dari masyarakat sekitar dari yang parkir sampai jualan baju," imbuhnya.
Bantu Ekonomi Petani Tembakau
Adanya produksi industri Sigaret Kretek Tangan (SKT) bukan hanya menyerap tenaga kerja dan membuka lahan UMKM.
Sudah barang tentu, sosok yang pertama kali merasakan manfaat keberadaan industri Sigaret Kretek Tangan (SKT) yakni para petani tembakau.
Ya, petani tembakau merupakan sosok penting di balik tersedianya bahan baku pembuatan rokok SKT.
Mereka adalah garda terdepan berkembangnya industri produksi rokok SKT.
Hubungan para petani dan pelaku industri SKT jadi satu kesatuan roda ekonomi dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.
Hal itu dijelaskan langsung oleh Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Cabang Temanggung, Siyamin.
Siyamin menjelaskan, Temanggung menjadi satu di antara kabupaten pencetak tembakau terbaik di Indonesia.
Letak geografis Temanggung yang dikelilingi oleh tiga gunung besar yakni Sindoro, Sumbing dan Prau jadi satu di antara indikatornya.
Bukan hanya di lereng-lereng, para petani tembakau yang ada di Temanggung juga menggunakan lahan tegalan atau lahan basah di dataran rendah untuk bercocok tanam.
Tentu, dengan masa panen dan kualitas tembakau yang dihasilkan berbeda.
Di lereng gunung, tembakau yang dihasilkan berkualitas tinggi namun masa tanam hingga panen membutuhkan waktu yang lama.
Rentang waktu dari masa tanam hingga panen di wilayah lereng mencapai kurang lebih 7 bulan.
Pemicunya tak lain adalah suhu dingin yang sangat terasa di lereng-lereng gunung tersebut.
Sementara di tegalan, kualitas memang berada di bawah tembakau lereng gunung, akan tetapi, masa tanam hingga panen relatif lebih cepat.
Rentang waktu yang dibutuhkan sejak dari tanam sampai dengan panen hanya menghabiskan waktu selama empat bulan.
"Jadi kalau di Temanggung secara umum, kan ada lahan di Tegalan, ada di lereng-lereng gunung, Temanggung ada tiga gunung Sindoro, Sumbing dan Prau," jelas Siyamin
"Di lereng gunung, Februari nanam, pertengahan Agustus metik, agak turun ke Tegalan ada di bulan April, sawah-sawah di bulan Mei, di atas dingin, pertumbuhannya kurang cepat, tapi kualitas bagus di lereng gunung, kalau di tegalan lebih cepat panen saja," lanjutnya.
Pria yang berasal dari Bangsari, Bulu, Temanggung itu juga menjelaskan tentang manfaat adanya industri SKT bagi para petani tembakau dengan menceritakan pengalaman yang pernah ia alami.
Siyamin yang juga berprofesi sebagai petani tembakau itu menceritakan pengalamannya ketika ditemui oleh salah seorang pelaku industri SKT untuk mencari tembakau hasil panen yang berkualitas tinggi.
"Memang ada pabrik Sigaret Kretek Tangan datang langsung, tapi mereka hanya mencari tembakau yang benar-benar berkualitas, mereka suruh orang untuk langsung ke petani, jadi tidak bertele-tele," ujarnya.
Ia menambahkan, pelaku industri SKT itu mencari tembakau dengan kualitas tinggi yang adanya hanya di Temanggung, tepatnya di lereng Gunung Sumbing.
Mengingat, Gunung Sumbing menjadi satu di antara sentra penghasil tembakau berkualitas tinggi yang kerap disebut varian Tembakau Lamsi.
"Dampaknya secara umum ada, tapi di daerah-daerah tertentu saja. Di Temanggung itu kan tembakau yang paling bagus kan lamsi, lamsi itu kan kualitasnya bagus khusus ada di lereng Gunung Sumbing."
Dengan turun langsungnya perwakilan industri SKT membuat pendapatan petani lebih meningkat ketimbang mereka harus menjualnya kepada para distributor.
"Nah kalau misalnya pabrik yang langsung bisa ke petani bisa mengangkat"
"Saya merasakan sendiri, itu termasuk tembakau saya, itu kan di beli langsung Sigaret Kretek Tangan itu tapi bukan pabrik besar yang sudah punya merk," ungkapnya.
Lebih lanjut, Siyamin juga menceritakan tentang pengalamannya ketika berdiskusi dengan salah seorang pemangku jabatan industri SKT maupun SKM tentang penentuan harga tembakau.
"Saya pernah bertemu dengan pabrikan langsung baik dengan pabrikan Sigaret Kretek Tangan maupun Mesin menanyakan tentang penentuan harga tembakau dari industri seperti apa," tanya Siyamin.
Lantas, Siyamin membeberkan fakta dengan membeberkan jawaban yang disampaikan oleh satu di antara perwakilan industri SKT dan SKM tersebut.
"Kalau penentuan harganya kita berdasarkan kualitas," lanjutnya menirukan jawaban dari satu di antara perwakilan industri SKT dan SKM yang ia temui.
Mendengar jawaban itu, Siyamin lantas berharap, semoga ke depannya, bakal lebih banyak lagi para pelaku industri SKT maupun SKM yang langsung membeli dari para petani.
Mengingat, hal itu dapat meminimalisir adanya ketimpangan harga yang kerap dirasakan petani karena proses distribusi tembakau yang dirasa sering bertele-tele.
"Ternyata, apa yang dibicarakan pusat pabrik sana bisa mengangkat petani, cuman karena rantai distribusi terlalu panjang, orang punya kepentingan jadi ya harganya susah," bebernya.
Sebagai informasi, penentuan kualitas tembakau menurut Siyamin digolongkan menjadi beberapa grade atau tingkatan yakni dari mulai A sampai dengan E.
Di mana grade A memiliki kualitas paling rendah dan E memiliki kualitas terbaik.
Para petani di Temanggung menyebut perbedaan kualitas itu dilihat dari dilihat dari "totolnya".
"Kalau totol A petikan dari paling bawah totol paling rendah, B petik dua kali, petik 3 kali 4 kali itu sudah C, 5 kali E tembakau itu sudah 20 daun, semakin ke atas kan petiknya gak setiap hari, petik lagi atasnya," terang Siyamin.
Sementara untuk indikator grade totolan tersebut ditentukan dari tiga aspek di antaranya adalah aroma, warna dan tekstur
"Indikatornya aroma, warna dan tekstur (cekelan) nya," pungkasnya.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)