"Kita juga mengampu teman-teman disabilitas, banyak, ada 1-2 persen dari 5.200 anggota FSPRTMM- SPSI di DIY, memang sektor rokok ini yang paling welcome dengan teman-teman disabilitas," ungkapnya.
Di lain sisi, pernyataan yang sama juga dibeberkan oleh satu di antara tenaga kerja SKT bernama Lalang Nur.
Menurut Lalang, adanya industri SKT di daerahnya sangat membantu masyarakat.
Terutama, membantu masyarakat dengan strata kelulusan yang terbilang rendah.
"Alhamdulilah, adanya industri SKT dapat membuka lowongan pekerjaan bagi lulusan SMP seperti saya," jelas Lalang.
Lalang menambahkan, dirinya mulai berkecimpung dan berkarier sebagai tenaga kerja SKT sejak bulan Juni 2023.
Berbarengan dengan awal dibukanya industri SKT di lingkungan sekitar rumahnya.
Saat ini, Lalang juga merupakan satu di antara 40 pekerja asli dari masyarakat lingkungan sekitar yang masih bekerja di kawasan industri SKT tersebut.
"Saya masuk sejak awal berdiri, sekitar 5 bulan lalu tepatnya di Juni 2023, bareng dengan awal dibukanya industri SKT di daerah saya."
"Pekerja linting kretek dari masyarakat sekitar ada 40 orang, sebelumnya menyerap banyak tenaga kerja, karena ketidakmampuan masyarakat untuk segera mahir, akhirnya, beberapa memutuskan untuk keluar," lanjutnya.
Menurut Lalang, perusahaan sudah melakukan upaya pelatihan dan pembinaan terlebih dahulu selama tiga bulan pada awal masa kerja.
"Ada pelatihan selama tiga bulan awal kerja sebelum akhirnya dilepas untuk produksi masing-masing sesuai target," jelasnya.
Lebih lanjut, Lalang juga menyebutkan ada tiga kabupaten lain yang masyarakatnya ikut terserap industri SKT di tempatnya bekerja saat ini.
Ketiga kabupaten tersebut di antaranya adalah Purworejo, Magelang, dan juga Pemalang.
"Bukan hanya masyarakat sekitar, beberapa pekerja juga datang dari luar kota seperti Purworejo, Magelang dan juga Pemalang," bebernya.