TRIBUNWOW.COM - Tiga minggu setelah dibebaskan, Volodymyr Khropun masih terlihat terguncang oleh trauma yang dialaminya.
Sukarelawan Palang Merah itu mengaku telah ditangkap oleh pasukan Presiden Vladimir Putin, dan dideportasi ke Rusia.
Ia pun mengalami penyiksaan berat selama dalam tahanan bersama penduduk Ukraina lainnya.
Baca juga: Kunjungi Ukraina, Sekjen PBB Miris Bayangkan Rumahnya Diserang Rudal Rusia: Cucu Saya Berlari Panik
Baca juga: Gedung Palang Merah Mariupol Diledakkan Rusia, 70 Tenaga Medis dan Wanita Diculik dari Ukraina
Pada 18 Maret, Volodymyr mengendarai bus sekolah ke desa Kozarovychi, sekitar 40km (25 mil) barat laut Kyiv, untuk mengevakuasi beberapa warga sipil yang terjebak di tengah pertempuran.
Ketika dia mencoba meyakinkan tentara Rusia untuk membiarkan dia melewati pos pemeriksaan mereka, mereka menahannya.
Selama beberapa hari pertama dia ditahan di ruang bawah tanah sebuah pabrik di desa terdekat, bersama dengan warga sipil lainnya, 40 orang di ruangan seluas 28 meter persegi.
"Kami dipukul dengan senapan, ditinju, dan ditendang. Mereka menutup mata saya dan mengikat tangan saya dengan lakban. Mereka menggunakan Taser dan terus meminta informasi tentang militer," kata Volodymyr dikutip TribunWow.com dari BBC, Jumat (29/4/2022).
"Salah satu tentara itu masih sangat muda, hampir seperti anak-anak. Dia menggunakan Taser di leher, wajah, lutut orang-orang. Sepertinya dia sedang bersenang-senang."
Setelah ditahan selama hampir seminggu di Ukraina, mereka diangkut ke Belarus.
"Mereka mengira kami tidak bisa melihat, tetapi saya melihat desa-desa yang kami lewati, Ivankiv, Chernobyl dan kemudian saya melihat kami melintasi perbatasan," ujar Volodymyr.
Di Belarus, mereka diberi dokumen identitas.
Identitas itu dikeluarkan oleh militer Federasi Rusia dan menggambarkan tempat kelahiran Volodymyr sebagai 'Republik Sosialis Soviet Ukraina'.
Begitulah Ukraina dikenal sebelum pecahnya Uni Soviet pada tahun 1991, sebelum menjadi negara merdeka.
Ini adalah tanda ambisi Rusia di wilayah tersebut.
Menurut Volodymyr, dari Belarusia, mereka dibawa ke sebuah penjara di Rusia.