Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

UNHCR Turun Tangan Atasi Isu Rusia Deportasi dan Adopsi Paksa Pengungsi Anak dari Ukraina

Badan pengungsi PBB, UNHCR, menyoroti sejumlah pengungsi anak Ukraina yang kabarnya dideportasi hingga diadopsi paksa oleh pihak Rusia.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
AFP
Pengungsi Ukraina di Prancis, 7 Maret 2022. Terbaru, UNHCR akan memulai penyelidikan terkait pengungsi anak Ukraina yang dibawa ke wilayah Rusia dan diadopsi secara ilegal, Sabtu (28/1/2023). 

Kemudian pada bulan September, asisten sekretaris jenderal PBB untuk hak asasi manusia mengatakan ada informasi yang dapat dipercaya tentang pemindahan paksa anak-anak tanpa pendamping ke wilayah pendudukan Rusia, atau ke Federasi Rusia sendiri.

Baca juga: Lansia Spanyol Ditangkap Diduga Kirim Bom Surat ke Kedutaan Ukraina, Berafilisasi dengan Rusia?

Sekutu Putin Diduga Bertanggung Jawab

Inggris menjatuhkan sanksi baru pada sekutu Presiden Rusia Vladimir Putin yang dituduh bertanggung jawab atas penculikan massal anak-anak Ukraina.

Maria Lvova-Belova, yang memegang peran sebagai 'Komisaris Hak Anak' Rusia, diduga terlibat dalam penculikan paksa dan adopsi anak-anak Ukraina di Rusia.

Namun, tudingan tersebut belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pihak Rusia maupun Lvova-Belova secara pribadi.

Baca juga: Di Bangunan Sekolah, Tentara Rusia Tinggalkan Pesan Minta Maaf untuk Anak-anak Ukraina, Ini Isinya

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) bersalaman dengan Komisaris Lembaga Hak Anak Rusia, Maria Lvova-Belova. Inggris menjatuhkan sanksi pada Maria Lvova-Belova lantaran diduga bertanggung jawab atas penculikan dan adopsi paksa anak-anak Ukraina, Kamis (16/6/2022).
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) bersalaman dengan Komisaris Lembaga Hak Anak Rusia, Maria Lvova-Belova. Inggris menjatuhkan sanksi pada Maria Lvova-Belova lantaran diduga bertanggung jawab atas penculikan dan adopsi paksa anak-anak Ukraina, Kamis (16/6/2022). (AFP)

Dilansir TribunWow.com dari Daily Mail, Kamis (16/6/2022), dilaporkan bahwa selama invasi, anak yatim piatu Ukraina diambil dari wilayah yang diduduki Rusia.

Kabarnya, anak-anak tersebut dibawa ke wilayah Rusia untuk menjadikan mereka warga negara resmi.

Tudingan ini dilontarkan Ukraina yang menyebut Rusia telah mendeportasi lebih dari 232 ribu anak ke wilayahnya.

Tercatat lebih dari 2 ribu anak di antaranya menjadi yatim piatu atau terpisah dari orang tua mereka akibat perang.

Kyiv juga telah mengecam langkah parlemen Putin untuk menyederhanakan proses adopsi anak-anak Ukraina oleh penduduk Rusia.

Terkait hal ini, Lvova-Belova dituduh memungkinkan 2 ribu anak-anak dibawa paksa dengan kekerasan dari wilayah Luhansk dan Donetsk Ukraina.

Ia juga diklaim telah mengatur kebijakan baru untuk memfasilitasi adopsi paksa mereka di Rusia.

Lvova-Belova dikabarkan bertemu dengan Putin pada awal Maret, di minggu-minggu pertama serangan Rusia ke Ukraina.

Mereka bertemu untuk membahas perubahan undang-undang yang mengizinkan orang Rusia mengadopsi anak-anak Ukraina.

Pertemuan mereka terjadi pada hari yang sama ketika serangan udara Rusia menghancurkan rumah sakit bersalin dan anak-anak di Mariupol.

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
Tags:
UNHCRRusiaUkrainaPBB
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved