Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Putin Akhirnya Bicara soal Potensi Pemakaian Nuklir, Klaim Perang di Ukraina akan Berlangsung Lama

Presiden Rusia Vladimir Putin buka suara mengenai durasi perang Ukraina hingga potensi penggunaan senjata nuklir.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
Tangkapan Video The Guardian
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan akan memobilisasi sebagian penduduk Rusia untuk membantu tentara di medan perang Ukraina, Rabu (21/9/2022). Terbaru, Putin bicara soal penggunaan senjata nuklir dan kemungkinan durasi perang Ukraina, Kamis (8/12/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan ancaman perang nuklir meningkat di tengah memanasnya konflik di Ukraina.

Dilansir TribunWow.com, Putin juga menegaskan Moskow belum gila dan tidak akan menggunakan persenjataannya terlebih dahulu.

Ia juga mengatakan sanggup untuk berperang di Ukraina dalam jangka waktu yang lama untuk dapat mencapai tujuannya.

Baca juga: 3.500 Tentara Rusia dan Keluarganya Hubungi Ukraina, Buat Skema Kelabui Putin agar Bebas dari Perang

Amerika Serikat pada hari Rabu (7/12/2022), mengecam pembicaraan tentang senjata nuklir setelah Putin mengatakan Rusia hanya akan menggunakan senjata atom sebagai tanggapan atas serangan musuh.

"Kami pikir pembicaraan bebas tentang senjata nuklir sama sekali tidak bertanggung jawab," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price.

AS sebelumnya telah memperingatkan Moskow tentang penggunaan senjata tersebut menyusul ancaman nuklir terselubung oleh Putin pada bulan September.

Menanggapi hal ini, dalam pertemuan dewan hak asasi manusia Rusia yang disiarkan televisi, Putin mengatakan pihaknya akan membela diri dengan segala cara yang dimiliki.

Dia memperingatkan risiko perang nuklir meningkat, tetapi Rusia melihat persenjataannya sebagai sarana untuk membalas, bukan untuk menyerang lebih dulu.

"Kami belum gila, kami menyadari apa itu senjata nuklir," kata Putin dikutip dari Al Jazeera, Jumat (9/12/2022).

"Kami memiliki sarana ini dalam bentuk yang lebih maju dan modern daripada negara nuklir lainnya. Tapi kami tidak akan berkeliling dunia sambil mengacungkan senjata ini seperti pisau cukur."

Seluruh pasukan cadangan Rusia dikerahkan ke perbatasan Ukraina, Kamis (14/7/2022).
Seluruh pasukan cadangan Rusia dikerahkan ke perbatasan Ukraina, Kamis (14/7/2022). (Tangkapan Layar Tribunnews.com)

Baca juga: Zelensky Maju ke Garis Depan Perang Ukraina Vs Rusia, Motivasi Para Tentara di Tengah Udara Beku

Putin juga mengatakan pasukan Rusia dapat berperang di Ukraina untuk waktu yang lama, tetapi dia mengklaim tidak akan memobilisasi tentara tambahan pada saat ini.

"Mengenai lamanya operasi militer khusus, tentu saja, ini bisa menjadi proses yang panjang," kata Putin, menggunakan istilah yang disukainya untuk invasi Rusia, yang dimulai pada akhir Februari.

Dia mengatakan tidak ada alasan untuk mobilisasi kedua, setelah memanggil setidaknya 300.000 cadangan pada bulan September dan Oktober.

Putin mengatakan dari 150.000 tentara di antaranya dikerahkan di Ukraina, 77.000 di unit tempur dan lainnya di fungsi pertahanan, sementara 150.000 sisanya masih berada di pusat pelatihan.

"Dalam kondisi seperti ini, berbicara tentang tindakan mobilisasi tambahan tidak masuk akal," klaim Putin.

Putin jarang membahas kemungkinan durasi perang, meskipun pada bulan Juli dia mengatakan bahwa Rusia baru saja mulai serius.

Sejak itu, pasukan Rusia telah didesak mundur secara signifikan, tetapi Putin mengatakan dia tidak menyesal meluncurkan perang yang paling menghancurkan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Baca juga: Perang Rusia dan Ukraina akan Melambat Selama Musim Dingin, AS Soroti Tekad Kyiv untuk Tetap Melawan

Potensi Ukraina Menang dari Rusia

Eks pemimpin NATO, Anders Fogh Rasmussen, mengatakan bahwa Ukraina memiliki kesempatan menang dari Rusia.

Dilansir TribunWow.com, ia menyimpulkan hal tersebut dari efisiensi perang dan dukungan senjata dari sejumlah negara yang sangat membantu.

Mantan perdana menteri Denmark itu juga menyebut bahwa Rusia jelas melakukan kejahatan perang dan mengandalkan strategi yang kurang terorganisir.

Baca juga: Spanyol Curiga Rusia Pelaku Insiden Bom Surat, Kedutaan Ukraina Juga Dapat Kiriman Berisi Mata Hewan

Anders Fogh Rasmussen, merupakan pemimpin NATO dari periode tahun 2009 hingga 2014.

Dia saat ini adalah ketua pendiri Rasmussen Global, sebuah organisasi yang mewadahi para pemikir.

Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Jumat (2/12/2022), Rasmussen memberikan pandangannya terkait perang antara Rusia dan Ukraina.

Menurutnya, Ukraina bisa saja menang dari negara adidaya Rusia jika melihat dari cara cerdik mereka dalam berperang.

Ditambah lagi dengan bantuan militer dari sekutu-sekutu NATO yang berhasil digunakan secara efisien oleh tentara Ukraina.

Maka, untuk meningkatkan potensi kemenangan Ukraina, negara-negara NATO harus melakukan peningkatan pengiriman senjata ke negara tersebut.

"NATO harus meningkatkan pengiriman senjata ke Ukraina," kata Rasmussen.

"Ukraina telah menunjukkan efisiensi tinggi dalam penggunaan senjata yang telah mereka terima dan jika NATO dan sekutunya melanjutkan pengiriman ini, maka Ukraina benar-benar dapat memenangkan perang ini melawan pasukan militer Rusia yang tidak terorganisir, yang menggunakan peralatan militer kuno."

Ia memuji sikap yang diambil NATO dan sekutunya dalam peperangan tersebut.

Meski Ukraina bukanlah anggota sehingga NATO tak bisa ikut ambil bagian dalam perang, namun negara-negara sekutu tetap kompak memberikan bantuannya.

"Pertama, saya pikir penting untuk menekankan bahwa NATO sebagai aliansi bukan bagian dari perang ini," tutur Rasmussen.

"Kedua, saya terkesan dan puas dengan persatuan di antara sekutu NATO dalam mendukung Ukraina selama beberapa bulan terakhir. Saya pikir koordinasi mereka dalam mengirimkan bantuan militer ke Ukraina telah bekerja cukup efisien."

Kolase kerumunan warga Kherson yang ramai menyambut kedatangan tentara Ukraina setelah berhasil usir Rusia, Sabtu (12/11/2022).
Kolase kerumunan warga Kherson yang ramai menyambut kedatangan tentara Ukraina setelah berhasil usir Rusia, Sabtu (12/11/2022). (Instagram @ukraine.ua)

Baca juga: 3.500 Tentara Rusia dan Keluarganya Hubungi Ukraina, Buat Skema Kelabui Putin agar Bebas dari Perang

Rasmussen juga membantah tudingan dari Rusia yang menuduh NATO tersebut terlibat langsung dalam perang dengan mendukung Ukraina.

"Menurut hukum internasional, negara yang telah diserang oleh negara lain memiliki hak untuk membela diri dan juga meminta bantuan dari mitra dan sekutu untuk membantu dalam proses ini. Jadi Ukraina dan NATO tidak melanggar hukum," terang Rasmussen.

"Sebaliknya, Rusia melanggar hukum internasional dengan melakukan kejahatan perang dan menyerang negara lain, yang seharusnya tidak diizinkan oleh NATO dan seluruh dunia."

Sebagaimana diketahui, selama sepuluh bulan setelah perang Rusia di Ukraina, perang kata-kata antara Kremlin dan Barat terus berlanjut.

Awal pekan ini, pada pertemuan NATO di Bukares, Rumania, ketua aliansi Jens Stoltenberg menuduh Rusia menggunakan musim dingin sebagai senjata perang.

Cuaca di Ukraina mendekati titik beku, dan serangan misil Rusia terhadap infrastruktur penting telah menyebabkan jutaan orang kehilangan listrik dan air.

Di sela-sela pertemuan NATO di Rumania, menteri luar negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan bahwa negaranya membutuhkan pertahanan udara (seperti IRIS, Hawks, Patriots ) serta fasilitas untuk kebutuhan energinya.

Sementara itu, menteri luar negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh AS dan NATO berpartisipasi langsung dalam perang dengan memasok senjata ke Kyiv dan melatih tentara Ukraina.(TribunWow.com/Via)

Berita terkait lainnya

Tags:
NuklirVladimir PutinRusiaUkraina
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved