Konflik Rusia Vs Ukraina
Dikira Orang Rusia Gara-gara Ini, 2 Pengungsi Wanita Ukraina Dihajar Eks Tentara Ukraina
Dikira berasal dari Rusia, 2 pengungsi wanita di Prancis dihajar eks tentara Ukraina.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Dua pengungsi wanita asal Ukraina bernama Alina dan ibunya Elena babak belur seusai dihajar oleh seorang pria ketika mereka tengah jalan-jalan di sebuah pantai di Prancis.
Alina dan Elena meyakini pria yang menyerang mereka adalah orang Rusia karena yang bersangkutan berbicara dengan bahasa Rusia.
Dikutip TribunWow dari rt, namun belakangan ini baru terungkap bahwa pria yang melakukan penyerangan ternyata adalah eks tentara Ukraina berusia 33 tahun yang tiba di Prancis pada Februari 2022 lalu.
Baca juga: Rusia Sebut Ukraina dan AS Jebak Negara-negara Uni Eropa Jadi Budak Lewat Perjanjian Ini
Informasi ini disampaikan saat jaksa di Nice, Prancis memberikan konferensi pers (konpers).
Kedua korban mengaku mereka diserang gara-gara mendengarkan lagu Ukraina di ponsel mereka saat jalan-jalan di pantai.
"Ketika kami mendengar bagaimana dia berbicara, kami memahami dia adalah orang Rusia," ucap Alina kepada media lokal di Prancis.
Akibat penganiayaan tersebut, Alina menderita gegar otak ringan, sedangkan sang ibu yakni Elena mengalami patah tulang di bagian hidung.
Sementara itu pelaku saat ditangkap, baru terbongkar yang bersangkutan adalah eks tentara Ukraina.
Pelaku mengaku menyerang kedua korban karena mengira Alina dan Elena adalah orang Rusia gara-gara logat mereka saat berbicara.
Baca juga: Jadi Target Muncikari, Pengungsi Wanita Ukraina Dijual Jauh Lebih Murah Dibanding PSK Lokal
Pelaku mengakui melakukan penyerangan namun berdalih hanya menampar kedua korban.
Saat ini pelaku terancam tiga tahun penjara.
Ketika kasus ini pertama kali dilaporkan, publik, pejabat hingga media di Ukraina langsung membuat klaim bahwa pelaku memang benar orang Rusia.
Belum terungkap pada saat itu bahwa pelaku sebenarnya eks tentara Ukraina.
Warganet ramai berkomentar bagaimana orang Rusia begitu berbahaya gara-gara insiden tersebut.
Baca juga: Ikut Senang Serangan Balik Ukraina Berhasil, AS Sebut Putin Belum Kerahkan Seluruh Pasukan Rusia
Diketahui, Belasan juta warga Ukraina terpaksa meninggalkan negara mereka karena serangan pasukan militer Rusia.
Setelah kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan mereka, saat ini para pengungsi Ukraina di negara tetangga tengah menghadapi masalah baru.
Dikutip TribunWow.com dari TheGuardian, saat ini mulai beredar banyak artikel dan berita palsu yang menyudutkan para pengungsi Ukraina di negara tetangga.
Baca juga: Sekelompok Tentara Rusia Laporkan Atasannya setelah Disekap akibat Menolak Perang ke Ukraina
Kampanye disinformasi yang menyerang para pengungsi Ukraina mulai banyak ditemukan di sosial media.
Temuan ini disampaikan oleh lembaga amal World Vision.
Pesan dan kampanye anti pengungsi Ukraina mulai ramai tersebar di Romania, Moldova, Polandia hingga negara-negara Eropa Timur yang menjadi tujuan para pengungsi Ukraina.
World Vision memperingatkan bahwa maraknya berita palsu dan disinformasi yang menyudutkan para pengungsi akan memiliki dampak kepada kaum rentan.
Dicontohkan nantinya anak-anak dari Ukraina rentan menerima kekerasan visik hingga diskriminasi bahkan perdagangan manusia.
Penasihat di World Vision, Charles Lawley menjelaskan, semakin dibiarkan, kampanye anti pengungsi Ukraina akan semakin memiliki dampak yang besar.
Berdasarkan laporan World Vision, laporan palsu yang beredar pada umumnya menarasikan bagaimana para pengungsi Ukraina mendapat keistimewaan serta bantuan dari pemerintah tuan rumah melebihi perhatian pemerintah kepada warga lokal.
Baca juga: Mahkamah Agung Rusia Nyatakan Resimen Azov sebagai Organisasi Teroris, Ini Nasib Mereka yang Ditahan
Polandia Minta Pengungsi Ukraina Mandiri
Sebelumnya, dimulai pada Jumat (1/7/2022), pemerintah Polandia kini telah menghentikan pemberian bantuan uang kepada pengungsi asal Ukraina.
Sebelumnya pengungsi asal Ukraina sehari-hari diberikan jatah oleh pemerintah Polandia sebesar $9 atau sekira Rp 135 ribu untuk makan.
Dikutip TribunWow.com dari rt.com, pengumuman dihentikannya bantuan uang ini disampaikan oleh Pawel Szefernaker selaku Wakil Menteri Dalam Negeri dan Komisioner untuk pengungsi.
Baca juga: Kondisi Terkini Bucha, Jurnalis Inggris Terkejut Lihat Warga Ukraina Bersikap Biasa Ada Banyak Mayat
"Kami meyakini banyak orang di Polandia memiliki kapabilitas untuk independen dan beradaptasi," ujar Pawel.
Pemerintah Polandia berharap pengungsi Ukraina dapat lebih mandiri dan aktif mencari kerja seusai bantuan uang tak lagi diberikan.
"Empat bulan perlindungan penuh, menurut kami adalah waktu yang cukup untuk beradaptasi di Polandia," jelas Pawel.
Pawel menyampaikan, pihak yang masih akan mendapat bantuan adalah penyandang disabilitas, ibu hamil, dan keluarga yang memiliki banyak anak.
Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan Polandia menerima paling banyak pengungsi dari Ukraina dibandingkan negara-negara lainnya.
Diperkirakan ada sekira 4,3 juta warga Ukraina yang mengungsi ke luar dari Ukraina lewat Polandia, dan 1,5 juta pengungsi menetap di Polandia. (TribunWow.com/Anung/Via)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/2penganiayaan-terhadap-tahanan.jpg)