Konflik Rusia Vs Ukraina
21 Orang Tewas, Ukraina Sebut Rusia Gunakan Misil Serang Apartemen di Odesa
Pemerintah Ukraina menuding Rusia bertanggung jawab atas serangan misil yang menghancurkan apartemen dan menewaskan 21 orang di Odesa.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Tiffany Marantika Dewi
Ia mengatakan bahwa Amerika memasuki perang dingin dengan dua negara adidaya dunia lainnya.
Apalagi mengingat keterlibatan aktif Amerika dalam konflik antara Rusia dan Ukraina.
“Amerika Serikat tampaknya memasuki perang dingin baru dengan China dan Rusia," kata Stiglitz dikutip RIA Novosti.
"Dan bahwa para pemimpin AS menggambarkan konfrontasi ini sebagai konfrontasi antara demokrasi dan otoritarianisme yang tidak lulus ujian. Terutama pada saat para pemimpin yang sama secara aktif mendorong pelanggar hak asasi manusia sistematis seperti Arab Saudi."
"Kemunafikan semacam itu menunjukkan bahwa apa yang sebenarnya dipertaruhkan, setidaknya sebagian, adalah hegemoni global, bukan nilai," imbuhnya.
Menurut sang ekonom, selama dua dekade setelah jatuhnya Uni Soviet, AS jelas menjadi nomor satu di dunia.
Tapi kemudian diikuti perang di Timur Tengah, kehancuran keuangan tahun 2008, dan meningkatnya ketidaksetaraan, membuat kepemimpinan Washington dipertanyakan dalam politik dunia.

Stiglitz mencatat kepastian bahwa China akan menyusul AS secara ekonomi.
"Amerika Serikat tidak dapat memenangkan persaingan baru kekuatan-kekuatan besar sendirian, mereka membutuhkan sekutu," ujar Stiglitz.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sekutu AS disebutkan memiliki semakin banyak alasan untuk meragukan keandalan Washington sebagai mitra.
"Trump telah melakukan semua yang dia bisa untuk mengasingkan negara-negara ini, dan Partai Republik, yang masih berhutang budi kepadanya, telah memberikan cukup alasan untuk meragukan apakah AS adalah mitra yang dapat diandalkan," tambahnya.
Dalam mencari bantuan dari negara-negara dunia, AS harus bisa mengejar ketertinggalan.
Namun, sejarah panjang eksploitasi mereka di negara lain justru tidak akan membantu.
Apalagi isu rasisme mereka yang mendalam, sebuah kekuatan yang dikatakan telah diarahkan oleh Trump dengan terampil dan sinis.
Di sisi lain,sebagaimana dicatat Stiglitz, Beijing telah berhasil menyediakan infrastruktur canggih bagi negara-negara miskin, yang kemudian memperkuat pengaruhnya.
"Kita harus menawarkan bantuan nyata kepada negara-negara berkembang dan pasar berkembang, dimulai dengan meninggalkan semua kekayaan intelektual terkait COVID sehingga mereka dapat memproduksi vaksin dan perawatan untuk diri mereka sendiri," ungkap Stiglitz menyimpulkan.(TribunWow.com/Anung/Via)