Konflik Rusia Vs Ukraina
Sadap Percakapan di Mariupol, Rusia Ungkap Alasan Tentara Ukraina di Azovstal Tak Kunjung Menyerah
Pemerintah Rusia mengklaim berhasil menyadap percakapan tentara Ukraina yang terjebak di Mariupol.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Pasukan militer Rusia mengklaim telah berhasil menyadap percakapan yang terjadi di dalam pabrik baja Azovstal di Mariupol.
Seperti yang diketahui, sejumlah tentara Ukraina yang menolak menyerah ke Rusia, sampai saat ini masih berada di sana.
Berdasarkan hasil sadapan Rusia, ada alasan tertentu yang menyebabkan tentara Ukraina di Azovstal tidak kunjung menyerah.
Baca juga: Media Rusia Soroti Keanehan Warga Sipil di Mariupol Enggan Menyerah padahal Diberi Jaminan Selamat
Baca juga: Viral Video Puluhan Mayat Tergeletak di Jalan Raya Mariupol yang Dibiarkan, Ini Faktanya
Dikutip TribunWow.com dari rt.com, saat ini batalion nasionalis dan tentara Ukraina yang berada di Azovstal diketahui mengalami kekurangan logistik mulai dari makanan hingga minuman.
Dikabarkan mereka bahkan sesungguhnya tak sabar ingin segera menyerah.
Namun karena belum ada perintah dari Kiev, para prajurit Ukraina yang ada di Azovstal takut akan berakhir di peradilan militer jika menyerah ke Rusia.
Terakhir pada Kamis (21/4/2022) Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengklaim masih ada kesempatan bagi pasukan militer Ukraina untuk merebut Mariupol asalkan ada bantuan dari negara-negara barat.
Sebelumnya, Pimpinan Chechnya Ramzan Kadyrov mengungkapkan bagaimana para tentara Ukraina diperlakukan secara tak manusiawi oleh komandan mereka.
Diketahui kini masih tersisa sejumlah tentara Ukraina yang bertahan di pabrik baja Azovstal yang berada di Kota Mariupol.
Kadyrov menjelaskan, para tentara Ukraina itu saat ini dipimpin oleh batalion nasionalis Ukraina yang bersikap keji bahkan terhadap rekan seperjuangan mereka sendiri.
Dikutip TribunWow.com dari Tass.com, Kadyrov lewat akun Telegram miliknya menjelaskan bagaimana para tentara Ukraina yang terjebak di dalam Mariupol dipaksa untuk terus berperang oleh komandan mereka.
Informasi ini diperoleh Kadyrov seusai bertanya ke seorang tawanan perang.
Batalion nasionalis Ukraina yang kini memimpin para tentara Ukraina di Azovstal disebut akan menembak mati para tentara yang memilih untuk menyerah ke Rusia.
"Menurut keterangan tawanan, mayoritas dari mereka yang terkurung di belakang tembok tebal pabrik ingin cepat-cepat pergi meninggalkan wilayah sambil memegang bendera putih," ungkap Kadyrov.
"Namun inisiatif ini tidak didukung oleh sang komandan batalion nasionalis."