Konflik Rusia Vs Ukraina
Sukarela Ikut Perangi Pasukan Rusia, Remaja di Ukraina Akui Tetap Tak Mau Mati demi Negaranya
Sejumlah remaja di Ukraina mulai bergabung dengan pasukan militer Ukraina untuk menghadapi invasi pasukan Rusia.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Atri Wahyu Mukti
"Manusiawi bagi seorang manusia untuk merasa takut, dan tentunya di dalam hati saya merasa sedikit takut, tidak ada orang yang ingin mati, meskipun itu demi negara mu. Jadi, mati bukan lah pilihan bagi kami," kata Dmytro.
Baca juga: Loker Tentara Bayaran di Ukraina Dibayar Rp 28 Juta per Hari Plus Bonus, Ini Tugasnya
Kontroversi Relawan Perang
Beragam kontroversi terjadi di tengah konflik antara Rusia dan Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022 lalu.
Satu dari beberapa kontroversi tersebut adalah warga negara lain yang kini dipersilakan untuk ikut berperang.
Semua berawal ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan pemerintahannya mempersilakan warga dari negara lain secara sukarela datang ke Ukraina untuk memerangi Rusia.
Dilansir TribunWow.com, berikut ini adalah sejumlah fakta seputar kontroversi relawan ikut perang Rusia Vs Ukraina.
Baca juga: Kotanya Dikuasai Putin, Warga Ukraina Lihat Pasukan Rusia Coba Lakukan Pencitraan Pakai Cara Ini

1. Putin Persilakan Relawan Bantu Lawan Ukraina
Hari ini pada Jumat (11/3/2022), Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan siap menampung sukarelawan yang ingin membantu Rusia menghadapi Ukraina.
Dikutip TribunWow.com dari Sky News, pernyataan ini disampaikan oleh Putin saat mengadakan rapat dengan Dewan Keamanan Rusia.
Pada saat rapat, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyampaikan, ada 16 ribu relawan di Timur Tengah yang siap datang ke Ukraina membantu melawan Rusia.
"Jika kau lihat ada orang-orang yang atas keinginannya sendiri, bukan karena uang, datang membantu masyarakat yang tinggal di Donbas, maka kita perlu memberikan apa yang mereka mau dan membantu mereka datang ke zona konflik," ujar Putin.
Shoigu lalu mengusulkan kepada Putin agar senjata-senjata milik pasukan Ukraina yang berhasil disita, diberikan ke masyarakat Donbas.
Senjata yang berhasil disita oleh pasukan Rusia di antaranya adalah senjata buatan negara-negara barat.
Putin pun menyetujui usul yang disampaikan oleh Shoigu.