Terkini Internasional
Pengunjuk Rasa Anti-Vaksin Covid-19 Pakai Tarian Haka saat Aksi Protes, Suku Maori Beri Kecaman
Suku Maori mengecam para pengunjuk rasa Selandia Baru yang menggunakan tarian Haka saat melakukan aksi protes menentang kebijakan terkait virus corona
Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Elfan Fajar Nugroho
TRIBUNWOW.COM – Para pengunjuk rasa anti-vaksin Covid-19 di Selandia Baru yang gunakan tarian Haka jenis “Ka Mate” saat berdemonstrasi, memicu kecaman dari Suku Maori.
Dilansir dari AFP, suku asli Selandia Baru itu meminta pendemo berhenti gunakan gerakan Haka yang terkenal, ketika turun ke jalan untuk menyerukan protes.
Suku Maori, Ngati Toa, diakui di bawah hukum Selandia Baru sebagai penjaga budaya tarian Haka “Ka Mate”.

Baca juga: Mulai Promosikan Pariwisata Anyar, Selandia Baru Berhentikan ‘Penyihir Negara’ setelah 3 Dekade
Baca juga: Selandia Baru Tangkap 2 Pria Kedapatan Bawa KFC saat Lockdown Ketat Covid 19
Mereka menganggap tarian Haka sebagai simbol kesakralan, yang biasa digunakan sebagai ungkapan penyembutan bagi tamu-tamu penting, penanda tercapainya suatu prestasi, dan ditampilkan dalam acara-acara besar.
Namun, tarian Haka baru-baru ini banyak digunakan oleh para pengunjuk rasa anti-vaksin Covid-19 di Selandia Baru, yang memprotes aturan pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah untuk memerangi virus corona.
"Ngati Toa mengutuk penggunaan tarian Haka Ka Mate untuk mendorong dan mempromosikan pesan anti- vaksinasi Covid-19," kata suku yang berbasis di luar Wellington, dalam sebuah pernyataan.
"Kami mendesak agar pengunjuk rasa segera berhenti menggunakan taonga (harta budaya) kami.”
Terdapat berbagai jenis tarian Haka, tetapi Ka Mate menjadi yang paling terkenal di dunia karena banyak ditampilkan oleh tim rugbi Selandia Baru, yang dijuluki All Blacks.
Mereka menarikan gerakan Ka Mate sebelum memulai pertandingan, selama lebih dari satu abad ini.
Tarian Haka memiliki ciri khas gerakan menghentakkan kaki ke tanah berirama, disertai teriakan dan mata membelalak.
Dalam beberapa upacara penting, seperti pernikahan dan pemakaman, tarian Haka juga kerap digunakan.
Bagi Ngati Toa, Ka Mate disusun oleh kepala suku Te Rauparaha pada 1820 untuk merayakan pelariannya dari suku musuh saat pertempuran.
Parlemen Selandia Baru mengesahkan undang-undang yang mengakui Ngati Toa sebagai penjaga Haka pada 2014, meskipun undang-undang tersebut tidak mengatur penjatuhan hukuman jika disalahgunakan.

Baca juga: Sri Lanka Bantu Penyelidikan Penikaman di Selandia Baru, Ibu Pelaku: Dia Dicuci Otak oleh Tetangga
Baca juga: Kasus Baru Turun Jadi 20 di Selandia Baru, Kebijakan Lockdown Sukses Perlambat Penyebaran Covid-19
Kepala Eksekutif Ngati Toa Helmut Modlik, mengkritik pengunjuk rasa anti-vaksin karena menempatkan keinginan individu di atas kebaikan yang lebih besar.
"Banyak tupuna (nenek moyang) kami kehilangan nyawa pada pandemi sebelumnya dan iwi kami sangat menderita," katanya.