Breaking News:

Virus Corona

Lonjakan Kasus Covid-19 di Sejumlah Negara dengan Tingkat Vaksinasi Tinggi, Pakar Beri Penjelasan

Padahal, negara-negara tersebut merupakan negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang cukup tinggi. 

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
AFP/Justin Talis via The Guardian
Keramaian di sebuah jalan di London, Inggris, Kamis (21/10/2021). Pelonggaran protokol kesehatan Covid-19 dianggap jadi penunjang tingginya kasus Covid-19 di Inggris. 

TRIBUNWOW.COM - Sejumlah negara seperti Inggris, Singapura, Rusia, dan Amerika Serikat kembali mengalami gelombang lonjakan kasus Covid-19

Padahal, negara-negara tersebut merupakan negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang cukup tinggi. 

Dilansir dari Miror, diketahui pada Selasa (19/10/2021) bahkan kasus di Inggris mencapai hampir 50 ribu kasus dalam sehari, jumlah kasus harian yang lebih tinggi sejak bulan Juni lalu. 

Baca juga: Ini Alasan Thailand Pilih Sambiloto Jadi Obat Herbal Covid-19 hingga Berani Produksi Skala Besar

Baca juga: Bisakah Pasien Covid-19 yang Telah Mendapat Vaksin Sakit Parah dan Meninggal? Ini Penjelasannya

Tidak hanya berhenti sampai di situ, kabar buruk masih berlanjut dalam angka kematian kasus Covid-19

Di hari yang sama tercatat ada 223 kematian akibat Covid-19, dan itu merupakan angka tertinggi sejak bulan Maret lalu.

Fenomena gelombang ketiga kasus Covid-19 ini cukup mengeherankan di mana yang pertama kali mengalaminya adalah justru negara-negara yang tingkat vaksinasinya tinggi. 

Singapura dan Inggris bahkan pernah menyebut mereka akan berdamai dengan Covid-19 dan menganggapnya sebagai endemi. 

Namun, ketika kasus Covid-19 di Singapura naik, rumah sakit di sana dinyatakan hampir kolaps dengan indikator terdapat banyak antrean untuk menjalani rawat inap di sana.

Ahli epidemiologi terkenal dan anggota Sage Profesor Neil Ferguson mengatakan ada sejumlah alasan di balik meningkatnya tingkat infeksi Covid-19 di negara dengan tingkat vaksinasi Tinggi. 

Dia menjelaskan itu mungkin ada hubungannya dengan tingkat perlindungan vaksin yang menurun. 

Baca juga: Covid-19 Varian Delta Plus di Inggris, Disebut Sangat Berbeda dengan yang Ditemukan di India

"Pertama-tama, kami memiliki kekebalan fungsional yang lebih rendah pada populasi kami (Inggris) daripada kebanyakan negara Eropa Barat lainnya dan itu karena dua alasan," katanya.

"Pertama, kami sangat berhasil meluncurkan vaksinasi lebih awal dan kami tahu bahwa kekebalan secara bertahap berkurang seiring waktu setelah Anda mendapatkan dosis kedua itu, jadi seberapa dini kami berarti kami sedikit lebih rentan." 

Inggris memang menjadi negara yang tingkat vaksinasinya paling tinggi di Dunia bahkan sejak bulan Mei mungkin sudah di angka 50 persen. 

Bahkan di Bulan Juni dia berani mengajak warga negara lain untuk datang ke negaranya untuk menyaksikan pertandingan Piala Eropa 2020 dengan kapasitas stadion 40 ribu orang.

"Kedua, kami lebih mengandalkan vaksin AstraZeneca dan, sementara itu melindungi dengan sangat baik terhadap hasil Covid yang sangat parah, vaksin itu melindungi sedikit kurang baik daripada Pfizer terhadap infeksi dan penularan, terutama dalam menghadapi varian Delta."

Kedua vaksin tersebut memang menyatakan kekebalannya akan berkurang dalam waktu sekitar enam bulan.

Karena Inggris begitu cepat meluncurkan program vaksin, salah satu konsekuensi bagi mereka yang mendapat suntikan lebih awal adalah menurunnya kekebalan.

Menurunnya kekebalan mempengaruhi kemungkinan infeksi dan perlindungan terhadap rawat inap dan kematian.

Kemudian yang dianggap menjadi masalah juga adalah rendahnya tingkat vaksinasi remaja di Inggris. 

Dia menyebut di antara negara-negara Eropa lain, Inggris termasuk tertinggal dalam hal vaksinasi remaja.

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved