Breaking News:

Terkini Internasional

Wanita Dirudapaksa di Kereta AS, Pelaku Pura-pura Ajak Ngobrol, Penumpang Malah Cuek Tak Menolong

Pelecehan seksual terjadi di kereta Philadelphia, tetapi penumpang lain hanya melihat dan tidak segera menolong hingga seorang petugas hubungi 911

Tribunsumsel.com/Khoiril
Ilustrasi pelecehan seksual. Pelecehan seksual terjadi di kereta Philadelphia, tetapi penumpang lain hanya melihat dan tidak segera menolong hingga seorang petugas hubungi 911. 

TRIBUNWOW.COM – Pihak berwenang melaporkan seorang wanita dirudapaksa di sebuah kereta api di dekat Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) pada Rabu (13/10/2021), tetapi para penumpang lain yang melihat aksi itu tidak berusaha menolong atau pun menghubungi 911.

Dilansir dari The Straits Time, kejadian itu bermula ketika seorang pria yang diidentifikasi sebagai Fiston Ngoy, duduk di sebelah seorang wanita di dalam kereta di Market-Frankford Line menuju 69th Street Transportation Centre pada pukul 10 malam.

Fiston Ngoy berusaha memulai percakapan dengan wanita itu, sebelum kemudian menjadi semakin agresif dan melecehkannya.

Ilustrasi pelecehan seksual anak di bawah umur.
Ilustrasi pelecehan seksual. (Surya.co.id)

Baca juga: Kronologi Seorang Pria Rudapaksa Putrinya dan Paksa Putranya Lecehkan Ibunya yang Mabuk di Singapura

Baca juga: Pengungsi Afghanistan Pelaku Rudapaksa dan Bunuh Gadis 13 Tahun Austria Ditemukan di Inggris

Disebutkan oleh juru bicara Otoritas Transportasi Pennsylvania Tenggara (SEPTA), Andrew Busch, Ngoy berusaha menyentuh wanita itu beberapa kali.

Busch juga mengatakan wanita itu sudah berusaha menghalangi agar Ngoy berhenti menyentuhnya.

“Kemudian, sayangnya, dia melanjutkan (dengan) merobek pakaiannya,” kata Busch, Minggu (17/10/2021).

Peristiwa itu dilaporkan pihak berwenang berlangsung selama delapan menit, tanpa ada seorang penumpang pun di dalam kereta mencoba menolongnya.

“Saya terkejut dengan mereka yang tidak melakukan apa pun untuk membantu wanita ini,” kata Inspektur Departemen Kepolisian Kota Darby, Timothy Bernhardt.

“Siapa pun yang berada di kereta itu harus melihat ke cermin dan bertanya mengapa mereka tidak campur tangan atau mengapa mereka tidak melakukan sesuatu.”

Beberapa penumpang disebutkan berada di dalam kereta saat itu, tetapi Bernhardt menolak mengatakan ada berapa banyak, karena penyelidik masih berusaha menghitung jumlah pastinya.

Dia mengatakan meskipun penumpang tak sampai puluhan orang di kereta itu, tetapi jumlahnya cukup banyak untuk bisa melakukan sesuatu bersama-sama.

Halaman
123
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved