Breaking News:

Virus Corona

Termasuk Lambat Berpikir dan Jadi Pelupa, Benarkah Pasien Covid-19 Ringan Bisa Alami Gangguan Otak?

Itu biasanya terjadi pada pasien bergejala berat atau pasien yang mengalami penurunan saturasi oksigen sehingga otak kekurangan asupan oksigen. 

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
AFP via Wion News
Ilustrasi gambat CT scan otak. Para ahli memperingatkan risiko penurunan fungsi kognitif pada penyintas Covid-19. 

TRIBUNWOW.COM - Infeksi Covid-19 telah dikonfirmasi bisa menyebabkan gejala neurologis seperti kabut otak. 

Cirinya adalah seperti sulit berkonsenterasi, jadi mudah lupa, dan lambat berpikir. 

Itu biasanya terjadi pada pasien bergejala berat atau pasien yang mengalami penurunan saturasi oksigen sehingga otak kekurangan asupan oksigen. 

Baca juga: Dinyatakan Aman dan Bermanfaat, Anak Usia 5-11 Tahun akan Segera Bisa Mendapat Vaksin Covid-19

Baca juga: Studi: Oximeter Bantu Selamatkan 50 Persen Pasien Covid-19 Berisiko Tinggi yang Isolasi Mandiri

Namun, studi baru-baru ini juga meneliti pasien yang bergejala ringan dengan risiko mengalami masalah otak atau penurunan fungsi kognitif. 

Dilansir dari The Conversation,  Pada Agustus 2021, sebuah studi dengan skala cukup besar menyelidiki perubahan otak pada orang yang pernah mengalami Covid-19.

Tim peneliti menganalisis sekitar 45 ribu data pencitraan otak di Pusat Bank Data Inggris sejak tahun 2014. 

Mereka membandingkan orang yang pernah mengalami Covid-19 dengan peserta yang tidak. 

Dalam analisisnya mereka juga mencocokkan kelompok berdasarkan usia, jenis kelamin, tanggal tes awal dan lokasi studi, serta faktor risiko umum untuk penyakit, seperti variabel kesehatan dan status sosial ekonomi.

Tim menemukan perbedaan mencolok dalam materi abu-abu, yang terdiri dari badan sel neuron yang memproses informasi di otak antara mereka yang telah terinfeksi Covid-19 dan mereka yang tidak.

Secara khusus, ketebalan jaringan materi abu-abu di daerah otak yang dikenal sebagai lobus frontal dan temporal berkurang pada kelompok Covid-19, berbeda dari pola khas yang terlihat pada kelompok yang tidak mengalami Covid-19.

Baca juga: Studi CDC Ungkap Kelompok yang Berisiko Alami Long Covid setelah Sembuh dari Covid-19

Disebutkan bahwa perubahannya lebih besar dari biasanya pada mereka yang telah terinfeksi Covid-19.

Menariknya, baik pasien yang mengalami sakit parah, dan pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah hasil perubahannya dinyatakan sama.

Artinya, orang yang telah terinfeksi Covid-19 menunjukkan kehilangan volume otak bahkan ketika penyakitnya tidak cukup parah hingga memerlukan rawat inap.

Implikasi dari perubahan volume tersebut adalah ditemukannya bahwa mereka yang tertular Covid-19 lebih lambat dalam memproses informasi, dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Gejala kabut otak sendiri sudah mulai diketahui dan banyak dibicarakan sejak tahun lalu, ketika tahun pertama pandemi Covid-19.

Kini gejala kabut otak telah dimasukkan ke dalam daftar gejala untuk long Covid. 

Dilansir dari The Guardian, diketahui sebelumnya, ketika gejala ini baru-baru muncul di permukaan, Michael Zandi, penulis senior studi dan konsultan di institut dan yayasan University College London Hospitals NHS telah banyak mengingatkan.

Dia memercayai bahwa Covid-19 juga bisa menyerang otak disaat banyak yang menganggap gejala tersebut berkaitan dengan kecemasan atau masalah kesehatan mental.

“Kami melihat hal-hal dalam cara Covid-19 memengaruhi otak yang belum pernah kami lihat sebelumnya dengan virus lain,” katanya. 

Dia bahkan telah melihat sendiri sejumlah pasiennya datang dengan keluhan penurunan fungsi kognitif meski mereka bukanlah pasien yang cukup parah untuk dirawat di rumah sakit. 

“Kami ingin dokter di seluruh dunia waspada terhadap komplikasi virus corona ini,” katanya.

Dia mendesak dokter, dokter umum dan petugas kesehatan dengan pasien dengan gejala kognitif, masalah memori, kelelahan, mati rasa, atau kelemahan, untuk mendiskusikan kasus ini dengan ahli saraf.

"Pesannya adalah untuk tidak menempatkan itu semua pada pemulihan, dan aspek psikologis dari pemulihan," katanya. "Otak tampaknya terlibat dalam penyakit ini."

Rangkaian lengkap gangguan otak akibat Covid-19 mungkin belum terdata, karena banyak pasien di rumah sakit terlalu sakit untuk diperiksa di pemindai otak atau dengan prosedur lain.

“Yang benar-benar kita butuhkan sekarang adalah penelitian yang lebih baik untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di otak,” kata Zandi.

Salah satu kekhawatiran adalah bahwa virus dapat meninggalkan sebagian kecil populasi dengan kerusakan otak halus yang baru terlihat di tahun-tahun mendatang. Ini mungkin terjadi setelah pandemi flu 1918, ketika hingga satu juta orang tampaknya mengembangkan penyakit otak.

“Ada kekhawatiran jika beberapa epidemi tersembunyi dapat terjadi setelah Covid di mana Anda akan melihat efek tertunda pada otak, karena mungkin ada efek halus pada otak dan hal-hal perlahan terjadi selama beberapa tahun mendatang, tetapi itu terlalu dini bagi kami. untuk menilai sekarang,” kata Zandi.

“Kami berharap, tentu saja, itu tidak akan terjadi, tetapi ketika Anda memiliki pandemi sebesar itu yang mempengaruhi sebagian besar populasi, itu adalah sesuatu yang perlu kita waspadai.” (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)

Baca Artikel Terkait Covid-19 Lainnya

Tags:
Covid-19KesehatanPasienOtak
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved