Breaking News:

Konflik di Afghanistan

Taliban Kecam Anggotanya yang Suka Pamerkan Selfie di Media Sosial dan Berwisata, Ini Alasannya

Aktivitas anggota Taliban yang suka berwisata dan mengambil foto selfie dikecam oleh pejabat senior kelompok itu, dianggap merusak status

Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Atri Wahyu Mukti
AFP/Bulent Kilic
Seorang pejuang Taliban berpose di depan akuarium di Kebun Binatang Kabul pada Rabu (17/9/2021). Aktivitas anggota Taliban yang suka berwisata dan mengambil foto selfie dikecam oleh pejabat senior kelompok itu, dianggap merusak status dan tidak membantu di akhirat pada Kamis (23/9/2021). 

“Ini sangat tidak pantas karena semua orang membawa ponsel dan mengambil foto di kementerian yang penting dan sensitif tanpa alasan apa pun,” ungkapnya, dikutip dari Reuters.

“Bergaul dan mengambil foto serta  video seperti itu tidak akan membantu Anda di dunia ini, dan juga di akhirat,” lanjutnya.

Mawlawi Yaqoob juga memerintahkan anggota Taliban untuk memperbaiki sikap dan penampilan mereka dengan menumbuhkan janggut, rambut dan berpakaian sesuai dengan aturan Islam.

Selama masa kekuasaan pertama Taliban dari tahun 1996 hingga 2001, kelompok itu melarang gaya rambut pendek dan memaksa pria menumbuhkan janggut.

Hal serupa juga terjadi setelah Taliban kembali menguasai Afghanistan saat ini.

Baca juga: Taliban Tutup Kementerian Urusan Wanita Afghanistan, Pilih Aktifkan Kembali Polisi Moralitas

Aturan itu menyebabkan beberapa tukang cukur di Afghanistan kesulitan karena warga di negara itu hanya memiliki sedikit uang dan terlalu takut dihukum karena memotong pendek rambutnya, dilansir dari France24 pada Rabu (22/9/2021).

Seorang tukang cukur di Afghanistan, Nader Shah, mengungkapkan perubahan kebiasan pria di negara itu dalam memotong rambut.

“Sebelumnya, orang-orang datang dan meminta gaya rambut yang berbeda, tapi sekarang tidak seperti itu lagi,” kata Shah di toko tukang cukurnya.

“Sekarang mereka patah hati,” tambahnya.

Saat Taliban digulingkan pada 2001 lalu, bercukur bersih sering dianggap sebagai tanda modernitas, termasuk di kota barat Herat yang relatif kosmopolitan.

“Sekarang orang datang ke sini dan mereka hanya meminta potongan sederhana,” ungkap Shah.

“Mereka juga tidak mencukur janggut mereka, jadi itu masalah sekarang,”

Nader Shah yang sudah menjalani pekerjaannya sebagai tukang cukur selama 15 tahun itu menyatakan adanya penurunan pendapatan hariannya dari Rp 213 ribu menjadi sekitar Rp 71 ribu hingga Rp 113 ribu saja. (TribunWow.com/Alma Dyani P)

Berita terkait Konflik di Afghanistan lain

Tags:
TalibanAfghanistanMedia SosialViralKabul
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved