Terkini Daerah
Cabuli 26 Santri Sesama Jenis karena Penasaran, Pengajar Ponpes di Ogan Ilir Punya Masa Lalu Kelam
Seorang pengajar di sebuah pondok pesantren di Ogan Ilir dibekuk polisi seusai dilaporkan melecehkan puluhan santri di tempatnya mengajar.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
TRIBUNWOW.COM - Seharusnya memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya, JN (22) selaku pengajar di sebuah pondok pesantren (ponpes) justru mencabuli santri sesama jenis hingga total korban mencapai 26 anak.
Kejadian amoral ini diketahui terjadi di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Pelaku diketahui berhasil ditangkap pada Rabu (15/9/2021) kemarin.
Baca juga: Pengakuan Adik di Palembang Menyesal Bunuh Kakak Kandungnya: Tidak Ada Niat Aku Mau Bunuh
Baca juga: Kurung Diri seusai Ibu Meninggal, Kakak di Lampung Tega Bunuh Adiknya yang Masih SD
Dikutip TribunWow.com dari Tribun Sumsel.com, hingga Kamis (16/9/2021), jumlah korban yang tadinya 11 sudah bertambah menjadi 26 anak.
Total 11 korban menerima tindakan asusila sod**i dari pelaku.
Kemudian dari 11 korban tersebut ada yang disod**i berkali-kali oleh pelaku.
Meskipun jumlah korban sudah bertambah, pihak kepolisian masih membuka posko pengaduan guna mengantisipasi bertambahnya jumlah korban.
"Sekarang total korban ada 26 anak dan 11 diantaranya mengalami sodomi," kata Dirkrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Hisar Siallagan didampingi Kasubdit IV, Kompol Masnoni, Kamis (16/9/2021).
Terkait tersangka sendiri, diketahui ternyata JN dulu memiliki pengalaman pahit ketika yang bersangkutan masih kecil.
"Dari pengakuan tersangka memang dia pernah jadi korban dari tindakan seperti ini (asusila). Itupun dilakukan oleh tetangga dia. Kalau tidak salah waktu dia umuran sekitar kelas 3 SD," ungkap Kompol Masnoni, Selasa (21/9/2021).
Melihat kasus ini, Kemensos RI melalui UPT Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BBRSPDF) Prof Dr Soeharso Kemensos RI mendatangi Unit Renakta Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Sumsel akan bekerjasama untuk memberikan trauma healing kepada para korban.
Tujuannya untuk mencegah agar para korban tidak meniru perbuatan pelaku dikemudian hari.
"Tentunya kami menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas perhatian dari Kemensos yang diatensi langsung oleh Bu Risma. Kami siap bekerjasama melakukan penanganan terkait trauma yang dialami korban-korban," ujar Kompol Masnoni.
Pelaku Ngaku Penasaran
Kepada polisi, JN mengaku memiliki kelainan seksual sejak 2020 lalu.