Breaking News:

Virus Corona

Seusai Isolasi Mandiri, Studi Ungkap Penyakit Paru-paru Pasien Covid-19 Masih Bisa Terus Berkembang

Kondisi berbahaya dari infeksi Covid-19 di paru-paru masih harus terus dipantau meski telah selesai menjalani isolasi mandiri

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
Facebook/@Dr. Anne Gabriel-Chan
Ilustrasi paru-paru pasien Covid-19. Penyintas Covid-19 disebut berisiko mengalami masalah paru-paru dikemudian hari. 

TRIBUNWOW.COM - Kondisi berbahaya dari infeksi Covid-19 di paru-paru masih harus terus dipantau meski telah selesai menjalani isolasi mandiri atau sembuh dari Covid-19

Studi terbaru menyebut jika penyakit paru-paru masih bisa terus berkembang meski virus di dalam tubuh pasien Covid-19 telah mati. 

Baca juga: Waspada saat Isolasi Mandiri, Studi: 1 dari 5 Orang Pasien Covid-19 Bisa Alami Masalah Mental

Baca juga: Panduan Isolasi Mandiri Covid-19 untuk Ibu Hamil dari Kemenkes, Ini Syarat dan Persiapannya

Dilansir dari News Medical Net, para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis telah menemukan petunjuk tentang bagaimana kerusakan paru-paru berkembang setelah infeksi pernapasan akibat Covid-19.

Mempelajari tikus, mereka menemukan bahwa infeksi memicu ekspresi protein yang disebut IL-33, yang diperlukan untuk sel induk di paru-paru untuk tumbuh terlalu cepat ke ruang udara, dan meningkatkan produksi lendir dan peradangan di paru-paru.

Temuan tersebut, yang diterbitkan 24 Agustus di Journal of Clinical Investigation.

Mereka mengungkapkan titik potensial intervensi untuk mencegah kerusakan paru-paru kronis yang disebabkan oleh infeksi virus.

"Hasil ini sangat bagus untuk dilihat karena menyingkirkan IL-33 dan pada gilirannya kehilangan sel induk basal bisa memperburuk keadaan," kata Michael J. Holtzman, MD, Profesor Kedokteran The Helma and Selma.

"Tikus yang direkayasa bisa mati karena mereka tidak lagi dapat melakukan perbaikan normal kerusakan virus pada sawar paru. Tapi bukan itu masalahnya."

"Tikus yang kekurangan populasi sel basal ini malah memiliki hasil yang jauh lebih baik. Itulah yang kami senangi."

Baca juga: Waspada saat Isolasi Mandiri, Studi Sebut Jarak 2 Meter Tidak Cukup untuk Hindari Penularan Covid-19

"Temuan ini menempatkan kami pada landasan yang kuat untuk menemukan terapi yang memperbaiki perilaku buruk sel induk basal."

Vaksin, antivirus, terapi antibodi semuanya membantu, tetapi itu bukan solusi bagi orang yang sudah mengalami penyakit yang sedang berkembang secara presisten.

Hal itu mungkin membuat lebih baik dalam merawat penyakit akut akibat Covid-19, tetapi apa yang terjadi setelah fase cedera awal itu masih menjadi kendala utama untuk hasil yang lebih baik.

Menurut Holtzman, infeksi saluran pernapasan akut dapat menyebabkan penyakit paru-paru kronis merupakan hal yang sudah diketahui di dunia kesehatan.

Anak-anak yang dirawat di rumah sakit dengan virus pernapasan syncytial, misalnya, dua sampai empat kali lebih mungkin untuk mengembangkan asma yang berlangsung lama, bahkan mungkin seumur hidup.

Bagaimana tepatnya infeksi saluran pernapasan akut memicu penyakit kronis tidak sepenuhnya dipahami.

Sehingga sulit untuk mengembangkan terapi untuk mencegah atau mengobatinya.

Sebagai bagian dari penelitian ini, Holtzman dan rekan, termasuk penulis pertama Kangyun Wu, PhD, seorang instruktur kedokteran, mempelajari tikus yang terinfeksi virus Sendai.

Sendai tidak menyebabkan penyakit serius pada manusia, tetapi secara alami menginfeksi hewan lain termasuk tikus dan menyebabkan infeksi pernapasan yang berkembang seperti infeksi pernapasan pada manusia.

"Paru-paru memiliki respons yang cukup stereotip terhadap cedera, termasuk cedera virus," kata Holtzman.

"Jenis virus tertentu, genetika inang, tingkat keparahan penyakit awal, semua hal ini memengaruhi hasil, tetapi itu hanya masalah derajat." (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)

Baca Artikel Terkait Isolasi Mandiri Lainnya

ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved