Virus Corona
Waspada Varian Mu yang Diduga Kebal Vaksin, Kini Dikabarkan Sudah Sampai di Negara Tetangga
Pemerintah tengah memperketat perbatasan untuk mencegah hadirnya Covid-19 varian Mu di Indonesia.
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM - Pemerintah tengah memperketat perbatasan untuk mencegah hadirnya Covid-19 varian Mu di Indonesia.
Kewaspadaan itu nampaknya perlu ditingkatkan karena varian Mu dikabarkan sudah sampai di negara tetangga, Malaysia.
Hal itu disampaikan oleh vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe, Sp.PD, dalam webinar yang tayang di Youtube FMB9ID_IKP, Selasa (14/9/2021).
Baca juga: Selain Vitamin C dan D, Ini 5 Vitamin-Mineral untuk Kekebalan Tubuh saat Isolasi Mandiri Covid-19
Baca juga: Syarat yang Harus Dipenuhi saat Isolasi Mandiri di Rumah karena Covid-19, Termasuk Vaksinasi Lengkap
"Varian Mu contohnya yang awalnya terdeteksi di Amerika Selatan, kemarin sudah dilaporkan di Malaysia, artinya sudah ada di Asia Tenggara, ya," ujarnya.
Hal itu dia sampaikan untuk mengingatkan masyarakat agar lebih taat protokol kesehatan agar tidak terjadi lagi lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.
Lebih lanjut dia juga menyampaikan jika pemerintah telah mengetatkan pintu masuk menuju ke Indonesia.
"Saya membaca pemerinttah sudah mengetatkan pintu masuk ya baik darat, laut, dan udar, supaya kita enggak kecolongan lagi, jadi ayo kita semua waspada," jelasnya.
Dia juga mengerangkan tentang pentingnya masyarakat untuk segera mendapat vaksinasi.
Menurutnya, percepatan vaksinasi sedang beradu kecepatan dengan kecepatan mutasi virus yang terus terjadi.
"Dengan adanya varian-varian baru ini kita akan terus mempelajari, memang yang paling ditakutkan suatu saat akan muncul varian yang tidak efektif ini vaksin-vaksinnya makanya kita cegah," terangnya.
Baca juga: Tips Isolasi Mandiri Covid-19: Kemenkes Kenalkan 6 Resep Ramuan Herbal untuk Jaga Daya Tahan Tubuh
Untuk varian Mu, menurutnya kini belum bisa dipastikan apakah benar-benar kebal vaksin atau tidak.
Karena varian tersebut masih tergolong baru.
"Tapi yang jelas kita, pemerintah, semua punya peran, agar tidak timbul varian-varian baru yang tidak mengacaukan kembali situasi pandemi di Indonesia," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut dia juga mengakui jika vaksinasi akan mengalami penurunan efektifitas seiring waktu.
Namun katanya bukan berarti kekebalan tersebut benar-benar hilang di dalam tubuh.
"Tentu karena vaksin Covid ini semuanya adalah jenis yang baru, kita masih terus mengikuti berapa lama proteksinya," jelasnya.
"Kita tahu sampai enam bulan, delapan bulan, itu proteksinya masih ada, kita juga menerima laporan jika proteksinya akan berkurang dan itu betul."
"Tapi bukan berarti setelah enam bulan, delapan bulan kita enggak punya sama sekali, tidak begitu."
Kemudian tentang isu vaksin dosis ketiga yang dikatakan bisa menguatkan kekebalan dirasa belum perlu.
Pemerintah kini sedang memperluas cakupan vaksin untuk emncapat herd immunity atau kekebalan kelompok.
Karena itu juga menjadi langkah penting dan lebih efektif dibanding harus memberikan vaksin dosis ketiga pada masyarakat umum.
Varian Mu
Awal bulan lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 varian B1621 sebagai varian yang menarik (variant of interest/VOI), dan memberi nama dengan varian 'Mu'.
WHO menyebut yang membuat khawatir dari virus tersebut adalah kemampuannya yang diduga kebal terhadap vaksin Covid-19.
"Varian Mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan," dalam sebuah pernyataan WHO, dikutip dari The Washington Post, Jumat (3/9/2021).
WHO juga mennyebut jika varian ini pertama kali terdeteksi di Kolombia pada Januari 2021.
Sejak saat itu kasusnya terus meningkat, meski kini dikatakan sudah menurun di beberapa negara.
Sejak diidentifikasi, kini Varian Mu sudah berada di lebih dari 40 negara, di antaranya Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Ekuador, Kanada, dan sebagian Eropa.
Namun, varian tersebut juga belum menjadi ancaman yang nyata.
Pakar penyakit menular terkemuka Anthony S. Fauci menyebut jika varian Delta masih menjadi ancaman nyata bagi hampir di seluruh dunia karena sifatnya yang lebih menular dan gejala awal yang menyerupai flu biasa.
Dia mengatakan bahwa sementara pemerintah mengawasinya dengan sangat cermat, varian itu sama sekali tidak mendekati dominan, karena Varian Delta tetap menjadi penyebab lebih dari 99 persen kasus di negara ini (Amerika Serikat).
Selain itu, masih belum diketahui juga seberapa efektif kekebalannya terhadap vaksin.
Penting untuk mengetahui apakah vaksin juga bisa mencegah keparahan terhadap varian tersebut.
Pembuat vaksin Pfizer mengatakan bahwa ilmuan mereka sedang memperlajari varian baru tersebut.
"Studi laboratorium vaksin tidak melihat bukti bahwa virus atau varian yang beredar secara teratur lolos dari perlindungan,” kata juru bicara Pfizer Kit Longley.
Sayangnya, perwakilan dari pembuat vaksin lainnya Moderna, Johnson & Johnson dan AstraZeneca belum memberikan keterangan terkait hal tersebut.
Peneliti lain menyebut jika kemampuan menular varian Mu mampu mengungguli gamma dan alfa di sebagian besar Ekuador dan Kolombia.
Tetapi fakta tersebut dikatakan belum cukup untuk membuat banyak pihak lebih khawatir.
Simak penjelasan selengkapnya di:
(Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)