Breaking News:

Virus Corona

Covid-19 Bisa Berpengaruh Terhadap Kecerdasan Otak seusai Isolasi Mandiri? Simak Penjelasannya

Dokter Andy Nazarudin, Sp.P menjelaskan dampak Covid-19 berkepanjangan atau long Covid yang bisa terjadi karena gangguan di otak.

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
instagram.com/@marcos_perocco
Ilustrasi otak. Dokter Andy Nazarudin, Sp.P menjelaskan dampak Covid-19 berkepanjangan atau long Covid yang bisa terjadi karena gangguan di otak. 

TRIBUNWOW.COM - Dokter di Rumah Sakit Mayapada, dr. Andy Nazarudin, Sp.P menjelaskan dampak Covid-19 berkepanjangan atau long Covid yang bisa terjadi karena gangguan di otak.

Dalam situasi tertentu dia menjelaskan jika Covid-19 juga bisa berpengaruh terhadap penyintasnya. 

Baca juga: Hindari Depresi-Atasi Masalah Tidur, Ini 8 Manfaat Berjemur saat Isolasi Mandiri Covid-19

Baca juga: Masuk Uji Klinis, Obat Covid-19 yang Dikembangkan China Dinilai Efektif untuk Gejala Sedang

"Covid itu bisa mempengaruhi semua organ di dalam tubuh kita, bisa ke otak, bisa ke jantung, bisa ke paru, bisa ke muskle dan lain-lain," jelasnya dalam webinar bertajuk Gejala dan Dampak Long Covid-19 di Youtube Hello Sehat, Sabtu (11/9/2021). 

Jika memang long Covid disebabkan masalah otak, itu bisa mengakibatkan masalah mental dan fungsi kognitif atau masalah kecerdasan. 

Tetapi dia juga menerangkan jika masalah parah pada long Covid biasanya juga karena tingkat keparahan saat terinfeksi. 

"Tergantung dari derajat keparahannya, dan faktor risikonya," jelasnya.

Penurunan fungsi kognitif pada penyintas Covid-19 lebih berpotensi pada pasien yang mengalami sakit parah, terlebih dengan hipoksia atau kurangnya kadar oksigen di dalam darah.

Ini yang rawan terjadi ketika isolasi mandiri, karena sejumlah pasien Covid-19 mengalami fenomena 'happy hypoxia' di mana ada penurunan oksigen dalam darah yang tidak dirasakan, atau tanpa sesak napas. 

"Terutama pasien-pasien isoman ya, pasien isoman yang merasa dia enggak sesak tapi ternyata saturasi oksigen buruk atau jelek, di bawah 90," ujarnya. 

Baca juga: Tips Isolasi Mandiri: Miliki Khasiat Berbeda, Kenali Manfaat Berbagai Vitamin bagi Pasien Covid-19

Menurutnya, itu akan mengakibatkan gangguan terhadap aliran oksigen ke otak dan bisa membuat kerusakan pada sel-sel otak. 

Jika terjadi demikian, itu yang akan berpengaruh terhadap kecerdasan otak atau penurunan fungsi kognitif. 

"Selain hipoksia, tergantung juga inflamasi yang bisa disebabkan oleh virus itu sendiri yang melalui sel darah otak," ujarnya. 

Dia menyebut hal itu juga menjadi kemungkinan menyebabkan masalah berkepanjangan pada penyintas Covid-19

Terkait seberapa bersar perubahan yang bisa terjadi pada fungsi kognitif, dia tidak menjelaskan lebih detai. 

Menurutnya belum ada data yang signifikan untuk bisa menjelaskan. 

"Tetapi secara umum, dalam waktu tiga bulan itu akan beresolusi, akan menjadi normal, kecuali hipoksianya lama," jelasnya. 

Namun, jika hipoksia terlalu lama menurutnya itu akan sulit atau membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali normal. 

Itu juga berpengaruh terhadap keparahan gejala ketika fase infeksi. 

Dia juga menerangkan secara umum sekitar 75 persen pernah mengalami long Covid dengan gejala yang beragam.

Di antaranya 10% hingga 35% merupakan pasien isolasi mandiri dan pasien yang dirawat di rumah sakit mencapai 80%.

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved