Breaking News:

Virus Corona

3 Studi Beri Jawaban soal Vaksinasi Covid-19 pada Ibu Hamil dan Risiko Keguguran

CDC berharap agar ibu hamil segera mendapatkan vaksin terutama yang sudah memenuhi syarat.

YouTube/BBC News
Ilustrasi Vaksin Virus Covid-19. Vaksinasi Covid-19 pada ibu hamil dinilai tidak berpengaruh terhadap risiko keguguran. 

TRIBUNWOW.COM - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Amerika Serikan (CDC), berharap agar ibu hamil segera mendapatkan vaksin terutama yang sudah memenuhi syarat, yaitu telah memasuki usia kandungan 13 minggu atau trimester 2. 

Namun, nampaknya masih ada kalangan yang meragukan keamanan vaksin, terlebih jika sang ibu telah menanti-nanti hadirnya buah hati. 

Baca juga: Tips Isolasi Mandiri Covid-19: 12 Makanan Kaya Omega 3 yang Dinilai Bisa Bantu Lawan Badai Sitokin

Baca juga: Cukup Isolasi Mandiri, Covid-19 Disebut Tak Terlalu Pengaruhi Fungsi Paru-paru pada Remaja

Dalam keterangannya, CDC juga telah menyampaikan jika terinfeksi Covid-19 akan lebih berbahaya dibanding efek vaksinasi. 

Apalagi jika terinfeksi Covid-19 dan belum mendapat vaksin, risiko keparahan akan meningkat. 

Dilansir dari situs University of Minnesota, dijelaskan jika terdapat tiga penelitian yang mengungkap jika vaksinasi tidak meningkatkan risiko ibu hamil terhadap keguguran. 

Pertama, studi terbaru yang menyebutkannya diterbitkan baru-baru ini di JAMA Network.

Para peneliti dari jaringan pengawasan Vaccine Safety Datalink (VSD) menggunakan kode diagnostik dan prosedur dan catatan kesehatan elektronik untuk mengidentifikasi dan menetapkan usia kehamilan keguguran dan kehamilan yang sedang berlangsung dari 15 Desember 2020 hingga 28 Juni  2021.

VSD adalah kolaborasi antara CDC dan sembilan sistem kesehatan yang mewakili sekitar 3 persen dari populasi AS.

Di antara 105.446 kehamilan, 13.160 keguguran terjadi, sementara 92.286 kehamilan sedang berlangsung.

Baca juga: 6 Makanan Ini Disebut Bisa Bantu Lawan Gejala Kelelahan seusai Isolasi Mandiri Covid-19

Dari semua wanita hamil, 7,8% telah menerima setidaknya satu dosis vaksin mRNA Pfizer/BioNTech.

Sedangkan 6,0% menerima satu atau lebih dosis vaksin mRNA Moderna, dan 0,5% menerima vaksin adenovirus satu dosis Johnson & Johnson sebelum 20 minggu ' kehamilan.

Secara keseluruhan, keguguran tidak lebih mungkin terjadi dalam 28 hari setelah vaksinasi terlepas dari jenis vaksin dan usia kehamilan.

“Meskipun ada keterbatasan, data ini dapat digunakan untuk menginformasikan rekomendasi vaksin dan untuk menasihati pasien,” para penulis penelitian menyimpulkan.

Lebih banyak bukti keamanan vaksin pada kehamilan

Demikian pula, dalam sebuah surat kemarin di New England Journal of Medicine (NEJM).

Para ilmuwan CDC mendaftarkan 2.456 wanita yang merupakan bagian dari pendaftaran keamanan vaksin Covid-19 pada ibu hamil.

Sebagian besar peserta (77,3%) berusia minimal 30 tahun, 78,3% berkulit putih, dan 88,8% adalah petugas kesehatan.

Lebih dari separuh wanita (52,7%) dinyatakan telah menerima vaksin Pfizer Covid-19.

Dari semua peserta, 2.022 pada usia kehamilan 20 minggu melaporkan bahwa kehamilannya terus berlangsung .

165 melaporkan keguguran, 154 di antaranya keguguran sebelum 14 minggu.

Halaman
12
Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved