Breaking News:

Terkini Internasional

Junta Myanmar Tahan 100 Kerabat Aktivis sebagai Sandera, Ada Anak-anak

Junta militer Myanmar dilaporkan menahan lebih dari 100 warga sipil anggota keluarga aktivis anti-junta termasuk anak-anak sebagai sandera.

YouTube/WION
ILUSTRASI Anggota militer di Myanmar. Dilaporkan junta Myanmar telah menangkap lebih dari 100 anggota keluarga aktivis anti-junta. 

TRIBUNWOW.COM – Junta militer Myanmar dilaporkan menahan lebih dari 100 warga sipil termasuk anak-anak sebagai sandera.

Dilansir dari The Irrawaddy, mereka adalah anggota keluarga para aktivis anti-junta di Myanmar.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) melaporkan 177 orang ditangkap sejak 1 Februari hingga 8 September, termasuk 15 anak-anak.

Aksi protes di Myanmar pada Juli 2021.
Aksi protes di Myanmar pada Juli 2021. (YouTube/BBC News)

Baca juga: Pemerintah Bayangan Myanmar Umumkan Perang Lawan Junta Militer, Panic Buying Terjadi di Yangon

Baca juga: Ajak Warga Memberontak, Pemerintah Bayangan di Myanmar Umumkan Perang Lawan Junta Militer

Diketahui, junta telah membebaskan 40 orang di antaranya dan sembilan anak-anak.

Menyisakan 137 orang lainnya yang masih masih ditahan bersama enam anak-anak.

Pasukan junta juga telah menahan istri aktivis hak asasi manusia, Ko Kyaw Minn Htut dan putra mereka yang berusia 2 tahun pada Minggu (5/9/2021).

Hari berikutnya, Ko Kyaw Minn Htut serta saudara laki-laki dan pamannya ditahan di Monywa, Wilayah Sagaing.

“Anak berusia 2 tahun itu belum dibebaskan dan keberadaan mereka masih belum diketahui. Tampaknya Ko Kyaw Minn Htut menyerahkan diri setelah mengetahui bahwa istri dan anaknya telah disandera ” kata kerabatnya.

Aktivis hak asasi manusia mengatakan bahwa dengan menyandera anak-anak, junta tidak hanya melanggar hak anak tetapi juga hukum kemanusiaan internasional.

“(Junta) hanya ingin menggunakan mereka (kerabat aktivis yang disandera) sebagai pencegah (untuk kegiatan anti-rezim orang tua mereka),” kata seorang aktivis hak asasi manusia yang tidak ingin disebutkan namanya.

Dalam kasus lain, pasukan junta menahan tiga putra dari seorang aktivis di Kotapraja Ingapu pada 30 Agustus.

Mereka masing-masing berusia 17, 11 dan 13 tahun.

Satu di antara ketiga anak itu sudah dibebaskan, tersisa dua anak yang masih disandera di kantor polisi Kotapraja Ingapu.

Myanmar saat ini sedang mengalami konflik setelah pemerintah bayangan atau Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) menyatakan perang melawan junta dan meminta warga ikut serta memberontak pada Selasa (7/9/2021).

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved