Virus Corona
Sebaiknya Tidak Isolasi Mandiri, Ini Alasan Mengapa Lansia Rentan Sakit Parah saat Terpapar Covid-19
Orang lanjut usia (lansia) menjadi salah satu faktor risiko tinggi mengalami keparahan pada pasien Covid-19.
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Mohamad Yoenus
TRIBUNWOW.COM - Orang lanjut usia (lansia) menjadi salah satu faktor risiko tinggi mengalami keparahan pada pasien Covid-19.
Untuk itu, meski lansia merasa sehat, sebaiknya tidak menjalani isolasi mandiri dan memilih menjalani isolasi terpusat.
Dilansir dari VOX Media, dijelaskan jika seiring bertambahnya usia, sistem yang digunakan tubuh untuk melawan penyakit semakin berkurang.
Baca juga: Waspada saat Isolasi Mandiri, Ini Berbagai Organ yang Bisa Terdampak oleh Infeksi Covid-19
Baca juga: Jadi Efek Samping Langka Vaksin, Risiko Pembekuan Darah Lebih Tinggi jika Terinfeksi Covid-19
Tidak hanya tubuh lebih sulit melawan infeksi baru seperti Covid-19, lansia juga lebih mungkin menderita penyakit kronis yang membuat sistem kekebalan lebih lemah.
Padahal pemulihan Covid-19 sangat bergantung dari sistem kekebalan tubuh.
Jumlah sel darah putih pada lansia juga bisa menurun, padahal, sel darah putih itu yang bertugas menemukan dan membantu menghilangkan infeksi.
Sel-sel juga menjadi kurang mahir dalam mengidentifikasi patogen baru untuk dilawan.
Dalam kasus Covid-19, virus juga dapat merusak sel-sel kekebalan tubuh yang seharusnya dapat mengatasi virus tersebut.
“Fungsi kekebalan tidak sekuat pada orang yang lebih muda,” kata Sean Leng, seorang ahli geriatri dan profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins.
“Studi selama bertahun-tahun telah menunjukkan bahwa pada kebanyakan orang, fungsi kekebalan tubuh mereka cukup baik di usia 60-an, atau bahkan di usia 70-an. Fungsi kekebalan tubuh turun lebih cepat setelah usia 75 atau 80 tahun.”
Baca juga: Bukan Hanya Kerusakan Organ, Stres saat Isolasi Mandiri Covid-19 Juga Sebabkan Gejala Berkepanjangan
Badai Sitokin
Selain itu, dijelaskan lansia memiliki risiko tinggi untuk mengalami badai sitokin.
Kondisi di mana respon imun berlebihan dan justru bisa menyerang sel tubuh dan merusak organ.
Selama badai, sitokin ini diproduksi secara berlebihan, yang menyebabkan peradangan parah, demam tinggi, dan kegagalan organ.
Bukan hanya respons yang lamban terhadap infeksi yang dapat membahayakan orang dewasa yang lebih tua; reaksi berlebihan sistem kekebalan terhadap penyerang juga dapat membunuh, kata Leng.
“Penyebab kematian virus ini pertama adalah kegagalan pernapasan, dan kemudian kedua adalah mungkin badai sitokin.”
Terlebih orang dengan usia tua yang memiliki komorbid.
Selain Covid-19, lansia juga memiliki risiko tinggi mengalami hipertensi, penurunan fungsi organ, dan masalah kesehatan lainnya yang berkaitan dengan bertambahnya usia.
Jadi, bukan hanya sistem kekebalan yang menurun, yang menjadikan lansia memiliki risiko tinggi mengalami keparahan akibat Covid-19.
Tetapi itu menjadi satu paket dengan kondisi kesehatan lansia itu sendiri.
Risiko tinggi mengalami keparahan pada lansia sejalan dengan tingkat kematian yang tinggi pada lansia yang terinfeksi Covid-19.
Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), yang dipublikasi di covid19.go.id, per Minggu (5/9/2021), tercatat jika angka kemarian usia di atas 60 tahun merupakan yang tertinggi dengan 46,6 persen.
Di bawahnya, yaitu rentan usia 46 tahun hingga 59 tahun berada di posisi dua dengan 36,7 persen.
Itu jauh lebih tinggi di banding rentan usia yang berada di bawahnya.
Sebaiknya Tidak Isolasi Mandiri
Kemenkes RI juga memberikan syarat bagi pasien Covid-19 untuk menjalani isolasi mandiri.
Di antaranya adalah membatasi masalh usia, dengan maksimal usia adalah 45 tahun.
dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD-KP yang bekerja unit perawatan intensif (ICU) Covid-19 dalam tayangan bertajuk Tanya IDI di Youtube PB Ikatan Dokter Indonesia pada Sabtu (28/8/2021) menjelaskan jika pasien Covid-19 di rumah sakit akan diperiksa secara menyeluruh.
Pemeriksaan bukan hanya dilakukan pada saat terinfeksi Covid-19, tapi juga sebelum pasien diperbolehkan pulang.
Hal itu berkaitan dengan kemungkinan terjadinya badai sitokin setelah pasien menjalani isolasi.
"Kalau cenderung menurun, apalagi jika diperiksa serial ya satu dua kali diperiksa cenderung menurun, maka kita bisa lihat bahwa umumnya tidak terjadi bergelombang," ujarnya.
Itu karena badai sitokin bisa terjadi hingga beberapa hari setelah dirinya dinyatakan sembuh dari Covid-19.
Dia juga menyebut jika rata-rata orang yang mengalami badai sitokin adalah usia 55 tahun atau lebih dari itu.
"Sebagian bersar akan terjadi setelah 10 hari atau hingga 14 hari," tambahnya. (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)
Baca Artikel Terkait Covid-19 Lainnya