Breaking News:

Virus Corona

Dampak Besar Pandemi Covid-19 bagi Pasien Kanker Paru-paru, Bagaimana Cara Menyikapinya?

Covid-19 merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan, termasuk paru-paru.

theconversation.com
Ilustrasi paru-paru. Dampak Besar Pandemi Covid-19 bagi Pasien Kanker Paru-paru, Bagaimana Cara Menyikapinya? 

TRIBUNWOW.COM - Covid-19 merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan, termasuk paru-paru.

Maka dari itu, seseorang yang sebelumnya sudah memiliki riwayat penyakit kangker paru-paru, kemudian terpapar Covid-19, maka bisa memperburuk kondisi.

Kepastian tersebut disampaikan oleh Spesialis Pulmonologi, Prof. dr. Elisna Syahruddin Ph.D, Sp.P(K) dalam webinar Peluncuran Layanan Digital PULIH dalam Rangka Hari Kanker Paru Sedunia, yang diselenggarakan oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan Astrazenecca, Rabu (28/7/2021).

"Kanker (bisa) memperburuk kondisi, tapi tidak terlalu tinggi," kata dr. Elisna Syahruddin.

Baca juga: Pastikan 2 Hal Ini sebelum Isolasi Mandiri di Rumah, Cegah Penularan Covid-19 ke Anggota Keluarga

Baca juga: Untuk Anak dan Dewasa, Ini Anjuran Dosis Suplemen bagi Pasien Covid-19 yang Isolasi Mandiri

Elisna juga menyampaikan pada tahun 2020 telah melakukan penelitian terhadap 355 penderita kanker.

Responden yang terlibat dalam penelitian tersebut mengaku tidak merasa stres terhadap kehadiran Covid-19 karena sudah merasa stres pada kanker yang diidapnya.

Berdasarkan data tingkat kematian kasus tahap awal dengan kondisi kesehatan di China tahun 2020, diketahui bahwa terdapat beberapa penyakit bawaan yang bisa memperburuk kondisi penderita Covid-19.

Penyakit kardiovaskular (berkaitan dengan jantung) memiliki risiko sebesar 10,5 persen, diabetes sebesar 7,3 persen, penyakit pernapasan kronis sebesar 6,3 persen, hipertensi sebesar 6 persen dan kanker hanya memiliki risiko sebesar 5,6 persen.

Dampak pandemi pada pasien kanker paru

Kendati demikian, Prof. Elisna mengatakan bahwa pasien kanker paru merasakan setidaknya 4 dampak dari pandemi Covid-19 ini.

Dampak yang dirasakan pasien kanker paru antara lain:

- Pasien harus menjalani skrining Covid-19 sebelum menjalani diagnosis dan pengobatan kanker paru.

- Pembatasan atau penundaan pelayanan karena keterbatasan SDM maupun sarana prasarana rumah sakit.

- Adanya keterbatasan pilihan transportasi dan persyaratan keluar masuk daerah selama PPKM berlangsung.

- Kekhawatiran pasien akan kemungkinan penularan apabila menggunakan transportasi umum dan kemungkinan penularan di rumah sakit.

Baca juga: Segera Bawa ke Rumah Sakit, Ini Tanda-tanda Pasien Covid-19 Memburuk saat Isolasi Mandiri

Baca juga: Apakah Benar Vaksin Covid-19 Sinovac Alami Penurunan Antibodi setelah 6 Bulan? Ini Penjelasannya

Namun dalam beberapa kasus khusus seperti prosedur diagnosis, radioterapi untuk kasus dengan kegawatan respirasi dan bedah kanker paru tahap I dan II, harus segera dilaksanakan dengan protokol kesehatan.

Sementara pada kemoterapi lini II bisa diberikan dengan menggunakan rejimen 3 mingguan.

"Bagi pasien yang juga terkonfirmasi Covid-19, penanganan ini bisa ditunda hingga penderita sembuh dari covid dan dilaksanakan sesuai syarat kemoterapi," kata Elisna.

Menurut Globocan tahun 2020, kanker paru merupakan kasus dengan tingkat kematian tertinggi dan menempati peringkat ke tiga dengan kasus tertinggi di Indonesia.

"Setiap orang punya risiko terkena satu kanker, kanker apa saja" tambahnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved