Breaking News:

Terkini Daerah

Perawat di Garut Dipukul Keluarga Pasien karena Pakai APD, Pemprov Jabar Tak Mau Salahkan Keduanya

Wakil Gubernur Jawa Barat mengusulkan antara nakes yang dipukul dan pelaku pemukulan melakukan mediasi dan tidak berakhir di meja hijau.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
Kolase (TribunJabar.id/Dok. Hendra Santoso) dan (TribunJabar.id/Shidqi Al Ghifari)
Rekaman CCTV memperlihatkan seorang perawat yang memakai hazmat hendak menuntun pasien menuju ranjang pemeriksaan di Puskesmas Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Rabu (23/5/2021) malam. Pada kejadian tersebut, keluarga pasien memukul perawat karena dianggap lama menggunakan APD. 

TRIBUNWOW.COM - Sempat viral di media sosial sebuah rekaman dari kamera CCTV menangkap aksi penganiayaan yang dilakukan oleh seorang keluarga pasien terhadap perawat di Puskesmas Pameungpeuk, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (23/6/2021).

Diketahui, keluarga pasien kesal karena menganggap sang perawat terlalu lama saat memakai alat pelindung diri (APD).

Menanggapi kasus tersebut, Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum enggan menyalahkan korban dan pelaku pemukulan.

Rekaman CCTV memperlihatkan seorang perawat berhazmat hendak menuntun pasien menuju ranjang pemeriksaan di Puskesmas Pameungpeuk Garut.
Rekaman CCTV memperlihatkan seorang perawat berhazmat hendak menuntun pasien menuju ranjang pemeriksaan di Puskesmas Pameungpeuk Garut. (Istimewa / dok Hendra Santoso via Tribun Jabar)

Baca juga: Tak Hanya Pukuli, Pelaku Pemukulan Perawat di Garut Juga Lakukan Ini ke Korbannya

Baca juga: Buntut Kasus Pemukulan Perawat di Garut, Pelaku Kabur dari Rumah, Kini jadi Buron Polisi dan TNI

Dikutip TribunWow.com dari TribunJabar.id, Wagub Jabar menyatakan siap untuk memediasi korban dan pelaku pemukulan.

"Peristiwa pemukulan kepada tenaga kesehatan, kepada mereka yang sedang dinas ini, menurut kami tidak baik, apapun alasannya," kata Uu saat dihubungi, Kamis (24/6/2021).

Uu berpesan, baik masyarakat maupun tenaga kesehatan tidak boleh ada yang memiliki sifat arogan.

"Kemudian juga jangan ada arogansi di antara mereka, baik dari pihak tenaga kesehatan, dalam bicara dan dalam bertindak, jangan sok punya tanggung jawab, sok punya kewenangan," kata Uu.

"Sebaliknya, pihak masyarakat jangan arogan. Insan kesehatan ini kan sudah capek, sudah setahun lebih mengayomi masyarakat di tengah pandemi," sambungnya.

Uu meminta warga memahami bahwa nakes selalu memprioritaskan keselamatan pasien.

Ia juga menegaskan dirinya tidak menyalahkan korban ataupun pelaku pemukulan dalam kasus ini.

"Oleh karena itu, kami minta saling memahami di antara mereka dan terbangun komunikasi yang sangat baik. Kami menyesalkan, di balik siapa yang salah dan apa masalahnya, ini tidak pas," kata Uu.

"Saya tidak menyalahkan siapapun karena saya tidak tahu penyebabnya apa, harapan kami tidak terulang," ujarnya.

Uu berharap kasus ini berakhir tanpa perlu diproses secara hukum.

Ia berharap ada permohonan maaf dari pelaku pemukulan.

Demi mencapai tujuan itu, Uu siap untuk membantu proses mediasi.

Uu juga berpesan agar masyarakat bersimpati terhadap nakes yang sangat rawan terpapar Covid-19.

"Apalagi sekarang nakes banyak yang kena Covid-19 juga. Sekarang banyak relawan yang hanya mendapat honor alakadarnya dari pemerintah, tetapi dia mau bekerja sampai tahunan, justru nakes ini adalah pahlawan kesehatan bagi masyarakat."

"Coba kalau tidak ada yang menangani ini, siapa lagi yang rela berkorban," ungkap Uu.

Baca juga: Melihat Isi Ruang ICU RS UI Penuh Pasien Covid, Nakes: Bahasa Kasarnya Kita Milih-milih Nyawa

Kronologi Pemukulan

Dalam video viral tersebut, tampak seorang perawat yang memakai APD menuntun pasien Covid-19 menuju ranjang pemeriksaan.

Pasien itu diikuti seorang pria berbaju hitam yang merupakan keluarganya.

Seusai pasien berbaring di ranjang pemeriksaan, tiba-tiba pria berbaju hitam memukul perawat tersebut.

Kepala Puskesmas Pameungpeuk Tuti Sutiah membenarkan adanya kejadian itu.

"Ya benar kejadiannya malam tadi," ujar Tuti, dikutip dari TribunJabar.id, Kamis (24/6/2021).

Menurut Tuti, pelaku memukul korban karena kesal menunggu sang perawat memakai APD.

Padahal, kata Tuti, pasien yang ditangani kala itu sudah terkonfirmasi Covid-19.

"Perawat sudah sesuai prosedur karena pasiennya terkonfirmasi Covid-19," sambungnya.

Tuti menjelaskan kasus ini kini sudah ditangani Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dan Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut.

"Kami sudah berkoordinasi dan melimpahkan permasalahan ini kepada Dinas Kesehatan dan Satgas."

Sementara itu, Camat Pameungpeuk, Tatang Suryana menyebut pasien Covid-19 tersebut dibawa ke puskesmas karena isolasi mandiri di desa tidak memadai.

"Karena isolasi mandiri tidak memadai di desa maka pasien dibawa ke UGD PKM Pameungpeuk," kata Tatang, Kamis (24/6/2021).

Menurut Tatang, pelaku pemukulan perawat itu merupakan anak kandung pasien Covid-19.

Pelaku sempat melayangkan dua pukulan ke arah perawat sebelum akhirnya dilerai tenaga kesehatan (nakes) lainnya.

"Si anaknya memukul dengan alasan terlalu lama memakai baju APD," terangnya.

Sebelum memukul, pelaku disebutnya sempat memarahi korban karena terlalu lama memakai APD.

Tatang mengatakan saat kejadian pelaku belum mengetahui orangtuanya positif Covid-19.

"Si pelaku sempat berbicara ke tenaga medis kenapa memakai baju APD kan ayah saya bukan Covid ucapnya, itu alasannya sehingga terjadi pemukulan," ucap Tatang. (TribunWow.com/Anung/Tami)

Artikel ini telah diolah dari TribunJabar.id dengan judul Terekam CCTV, Perawat di Garut Dipukul Keluarga Pasien, Diduga Kesal Tunggu Korban Pakai APD, Nakes di Pameungpeuk Garut Dipukul Keluarga Pasien, Pelaku Sebut Karena Terlalu Lama Pakai APD, dan Camat Pameungpeuk Ceritakan Kronologi Tenaga Kesehatan yang Dipukul Keluarga Pasien Hingga Memar

Baca artikel lain terkait

Sumber: TribunWow.com
Tags:
PemukulanAlat Pelindung Diri (APD)PerawatCovid-19Virus CoronaGarutJawa Barat
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved