Isu Kudeta Partai Demokrat
Sri Mulyono Sebut SBY yang Bunuh Demokrasi di Demokrat: Mengondisikan Aklamasi AHY Calon Tunggal
Presidium Perhimpunan Pergerakan Indonesia, Sri Mulyono ikut tanggapi persoalan di Partai Demokrat.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Presidium Perhimpunan Pergerakan Indonesia, Sri Mulyono ikut tanggapi persoalan di Partai Demokrat.
Dilansir TribunWow.com, Sri Mulyono menyebut bahwa Susilo Bambang Yudhoyon (SBY) yang menjadi awal dari dualisme Partai Demokrat.
Hal itu disampaikannya dalam kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Kamis (11/3/2021).

Baca juga: Ruhut Sitompul Ungkap Alasan Keluar dari Demokrat, Mengaku Terkait Pilgub DKI Jakarta 2017
Baca juga: Tak Akui KLB, Ketua DPD Demokrat Sulsel Sebut Tak Lebih dari Arisan: Orangnya Tak Hadir Kan Diulang
Dalam kesempatan itu, Sri Mulyono lantas menjabarkan proses pemilihan ketua umum Partai Demokrat, mulai kongres pertama di Bali 2005.
"Ketika kongres Bali 2005 itu ada lima calon, final Prof. Budi Santoso dengan Pak Hadi Utomo. Pak Hadi Utomo menang, demokratis," ujar Sri Mulyono.
"2010 ada tiga calon, Andi Mallarangeng, Marzuki Alie, Anas Urbaningrum. Anas menang, demokratis," imbuhnya.
Menurutnya, Partai Demokrat mulai kehilangan garis demokrasinya setelah ketuai oleh SBY pada 2013 saat menggantikan Anas Urbaningrum yang terjerat kasus korupsi.
Pasalnya menurut Sri Mulyono, proses penetapan SBY sebagai ketua umum sudah dilakukan dengan cara tidak yang demokratis.
"Kemudian 2013, Pak SBY mengambil Partai Demokrat dari Anas, dengan cara yang sangat tidak demokratis, melanggar AD/ART," ungkapnya.
"Setelah itu tidak ada lagi demokrasi di Partai Demokrat. Pak SBY megangkat dirinya sendiri jadi ketum, calon tunggal," jelasnya.
Baca juga: Jawaban Moeldoko saat Ditanya Mahfud MD soal Keterlibatan di Kudeta Demokrat: Itu Kan Urusan Saya
Baca juga: Tak Ingin jadi Kacang Lupa Kulit, Ruhut Sitompul Sedih Moeldoko Dituduh Demokrat: Jangan Halu KLB
Tak hanya itu, bukti lain yang menunjukkan demokrasi di Partai Demokrat telah mati menurut Sri Mulyono adalah terjadi pada kongres 2020.
Ia menilai bahwa SBY sudah merencanakan supaya sang putranya, Agus Harimurti Yudhoyono yang akan menggantikan dirinya.
"Setelah itu Pak SBY mengondisikan aklamasi AHY calon tunggal, tidak ada lagi demokrasi," kata Sri Mulyono.
"Jadi yang membunuh demokrasi dalam Demokrat ya Pak SBY itu sendiri, bukan orang lain."
Maka dari itu, dirinya menyakini bahwa alasan itulah yang menjadi satu faktor terselenggaranya kongres luar biasa (KLB) Partai Demokrat di Deliserdang, Sumatera Utara pada Jumat (5/3/2021) lalu.
Sri Mulyono menambahkan, termasuk juga mempersoalkan keberadaan majelis tinggi partai.